//
you're reading...
Buku, Coretan, Essay

Nikmati Hidupmu, Kawan!

Sebaris SMS masuk ke ponselku. Pesan itu berbunyi: Wahai Syeikh, apa hukumnya bunuh diri?

Mendapat pertanyaan seperti itu, aku langsung menghubungi pengirim SMS itu. Di seberang seorang remaja menjawabnya.

Kukatakan padanya, “Maaf, aku tidak mengerti pertanyaanmu. Coba ulangi sekali lagi!”

Dengan tegas remaja itu menjawab, “Pertanyaannya cukup jelas, apa hukumnya bunuh diri?”

Aku ingin membuatnya terhentak dengan jawaban yang tidak disangka-sangka. Kukatakan, “Mustahabb (dianjurkan).”

“Apa?!” Sergah remaja itu terheran-heran.

“Bagaimana kalau kita bekerjasama dalam menentukan cara yang bisa engkau tempuh untuk bunuh diri?” Kataku enteng.

Remaja di seberang sana diam, tak bersuara.

“Baik,” kataku, “sebenarnya mengapa engkau ingin bunuh diri?”

“Karena aku tidak dapat kerja,” jawabnya lirih. “Orang-orang tidak menyukaiku. Jadi, jelas sekali aku ini orang yang gagal.” Selanjutnya, ia bercerita kepadaku panjang-lebar tentang kegagalannya mengembangkan diri, termasuk ketidaksiapannya memanfaatkan potensinya.

Inilah yang menimpa banyak orang, bukan hanya pemuda tadi.

Mengapa diantara kita ada orang yang memandang dirinya begitu rendah?

Mengapa ia sapukan pandangan pada orang-orang yang berdiri di puncak gunung dan memandang dirinya sendiri tidak mampu mencapai ketinggian seperti mereka? Atau paling tidak bisa mendaki seumpama mereka?

Barang siapa gagal mendaki gunung
Hiduplah ia di tengah jurang selamanya

Tahukah Anda siapa yang tidak bisa mengambil manfaat dari cerita ini? Juga dari kisah-kisah lain yang bercerita sepertinya, dalam mengasah keterampilannya?

Dialah orang malang yang menyerah pada kesalahan dan pasrah pada suratan takdirnya. Orang semacam ini hanya bisa berkata, “Inilah tabiat yang kubawa sejak lahir. Aku sudah terbiasa begitu dan tidak mungkin mengubah haluan jalanku. Orang lain pun terbiasa begitu terhadapku. Jika aku harus meniru gaya berbicara Khalid, keceriaan Ahmad, dan atau Ziyad yang banyak disukai orang lain, kurasa itu mustahil.”

Suatu hari disebuah majelis umum aku pernah duduk bersama seorang lanjut usia. Semua yang hadir terbilang awam dan kurang cakap. Nah, pak tua tadi terlibat pembicaraan dengan orang-orang disekitarnya. Sepertinya, dialah satu-satunya orang yang pantas dihormmati hanya karena usianya sudah senja dibandingkan orang lain di majelis itu.

Aku ikut berbasa-basi. Dalam obrolan itu kukutip fatwa yang pernah disampaikan Syeikh al-‘Allamah ‘Abd al-‘Aziz ibn Baz. Selesai aku berbicara, Pak Tua tadi dengan bangga langsung menyela, “Aku berteman baik dengan Syeikh Ibn Baz. Sebelum usia empat puluh tahun, kami sama-sama belajar di masjid kepada Syekh Muhammad ibn Ibrahim…”

Kupandangi orang tua itu. Rona kebahagiaan pada pengakuan itu memenuhi ruas wajahnya. Ia tampak begitu bangga pernah menjadi sahabat orang sukses seperti Syekh Ibn Baz.

Di sisi lain, berkali-kali aku berkata dalam hati, “Aduhai malang, mengapa engkau tak sesukses Ibn Baz? Jika engkau sudah tahu jalan yang harus ditempuhn, mengapa tidak ditapaki? Mengapa ketika Ibn Baz meninggal dunia banyak orang menangisi kepergiannya di atas mimbar, mihrab, di perkantoran? Mengapa banyak orang merintihkan rasa kehilangan dia? Jangan-jangan, suatu saat nanti engkau meninggal, tidak seorang pun meneteskan air mata, kecuali hanya sekedar basa-basi atau kebiasaan saja.”

Mungkin tiap-tiap kita pernah berkata, “Aku mengenal Si Fulan; aku berteman dengan Si Fulan; dan atau aku pernah begitu dekat dengan Si Fulan.” Tetapi, bukan itu yang patut dibanggakan. Ketika engkau bisa mencapai puncak seperti mereka, saat itulah engkau pantas berbangga diri. Karena itu, jadilah pemberani. Mulai sekarang bulatkan tekad untuk mengoptimalkan potensimu. Jadilah orang sukses. Bongkar pekat deritamu menjadi benderang kebahagiaan, kesedihanmu menjadi keceriaan, kekikiranmu menjadi kedermawanan, dan gelegak kemarahanmu menjadi kesabaran. Jadikan musibah sebagai kesenangan dan keimanan sebagai senjata.

Nikmati hidupmu! Hidup ini begitu singkat, tidak ada lagi untuk berduka.

(Disadur dari buku “Nikmati Hidupmu” tulisan Dr. Muhammad Al-Arifi, Motivator Muslim Dunia)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: