//
you're reading...
Coretan

Sudirman dan Pengamen yang Terbelakang Mental

Perjalanan lancar dimulai! aha! Baru saja saya keluar dari kemacetan di bilangan senayan, Jalan Jend. Sudirman. Entah suara dari mana, tiba-tiba muncul kemirisan. ‘Ah, Sudirman, malang nian nasibmu’, begitu ramainya kendaraan, bahkan hingga memacetkan, namun, setidaknya suasana di bus tempat saya menumpang, tak ada yang mengingatmu. Mengingat perjuanganmu dulu.

Semuanya asyik dengan mendengarkan lagu lewat gadget mereka sambil meggoyangkan kepala-kepala mereka. Mereka saling tertawa terbahak-bahak, megobrol asyik tentang pacar dan artis yang tengah ditempa gosip. Bahkan banyak juga yang masa bodoh dengan kemacetan dan mereka memilih tidur. Bahkan yang membuatku sedikit geli, ada saja orang yang malah menghujatmu, ‘sialan Sudirman, macet nih pren’.

Sudirman, Sudirman, salah apa kamu pada rakyatmu sehingga kamu, mungkin, telah dilupakan sama sekali.

Dan macet telah lewat. Sekarang saatnya perjalanan tanpa hambatan. Berharap ada live music yang menemani perjalanan ini. Karena ternyata saya seringkali bisa menikmati suara-suara pengamen di bus ini. Seperti tadi saat keluar dari terminal Blok M, saya dan penumpang lainnya, sempat dihibur dengan dua pengamen yang lumayan. maksudnya lumayan buat menemani suasana dingin bis.

Namun setelah perjalanan lancar, tiba-tiba yang muncul adalah seorang yang megaku pengamen, namun tampak sedikit terbelakang mental. ‘Mau apa dia?’ begitu gumamku. ‘Jangan ganggu perjalanan kami’, mungkin begitu juga pikir penumpang lain. Namun akhirnya kami kalah, dan dia mulai menyanyi tanpa musik.

Tapi kadang suatu yang tidak diharapkan dapat mejadi suatu yang kita butuhkan, artinya menjadi baik bagi kita. Pengamen yang terbelakang mental itu menyanyikan sebuah lagu renungan akan dosa. Renungan tentang kelemahan manusia. Renungan tentang sebuah harapan pada Tuhan. Yup, ini yang sejatinya kita butuhkan, merenungkan diri. memuhasabah diri.

Suaranya yang tak enak didendangkan itu, bahkan sering dari para penumpang yang melemparkan tawa karena tingkahnya, mungkin adalah suara malaikat yang ditujukan bagi orang-orang yang bisa membuka mata hatinya. Dan saya semakin diberi kesadaran bahwa janganlah kita selalu melihat siapa yang mengeluarkan suara atau bicara, walau sejatinya penting melihat unsur ini, tapi kita juga harus pandai mengambil hikmah atas apa yang diucapkan seseorang, meskipun dari orang yang tak diharapkan. Seperti orang yang mengaku pengamen itu.

Dan akhirmya, keluar juga tol bekasi. Ini perjalanan menarik, meski sempat merasakan ‘kesialan Sudirman’. Untuk penumpang lain, semoga selamat sampai tujuan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: