//
you're reading...
Coretan, Essay, Uncategorized

(Catatan Subuh) UN (kok) Mengerikan

Kemarin siang saya dijejalkan oleh salah satu stasiun tv swasta dengan kompilasi kesedihan siswa yang tidak lulus Ujian Nasional (UN) di seluruh Indonesia. Awalnya saya sempat bersikap acuh dengan menilaibahwa ketidak-lulusan dari proses ujian adalah suatu yang wajar. Namun ketika saya lihat banyak sekali siswa yang tidak lulus dan bagaimana mereka menyikapi ketidak-lulusannya itu dengan berbagai tindak kesedihan, hati saya pun mulai agak merasa tak nyaman, dan menurut saya, pasti ada masalah besar dalam penyelenggaraan UN ini.

Ini memang bukan untuk yang pertamakali diselenggarakan, karena UN ini sudah beberapa tahun telah dilaksanakan. Walau tak cukup banyak “pendukung”, namun pemerintah tetap menyelenggarakannya dengan berbagai proses dan aturannya.

Saya pun sempat lontarkan ketidaknyamanan saya  kepada salah satu teman. Ia mengatakan bahwa ujian itu memang suatu yang harus dilalui oleh setiap siswa untuk menguji hasil belajar mereka. Tentang beberapa sekolah yang tidak meluluskan seratus persen siswanya, dia pun berpendapat, hal itu harus dilihat bagaimana proses belajar mengajar di sekolah mereka selama ini. Tentang kualitas guru atau tenaga guru yang kurang sehingga mereka tak siap dalam UN.  Walau diskusi kami akhirnya terputus, namun saya masih merasa tidak semestinya sekolah disalahkan sepenuhnya dari kejadian ini (dibaca: ketidak-lulusan banyak siswa).

Mengutip pendapat teman saya, yang mengatakan ketidak-siapan sekolah, menurut saya, itu adalah suatu masalah yang harus “diselesaikan” bukan saja oleh sekolah, tetapi oleh pemerintah daerahnya atau bahkan pemerintah pusat. Ujian untuk kelulusan seharusnya “menuruti” dari “ketidak-siapan” atau “kesiapan“ setiap sekolah.

Sekarang kalau menggunakan logika berpikir saya , ketika saya baru mengajarkan adik saya huruf A sampai dengan M, saya tidak akan memberikan pertanyaan bagaimana cara membuat huruf Z.itu yang seharusnya saya lakukan. Menilik logika saya itu, sebenernya saya ingin mengatakan bahwa  pada dasarnya setiap sekolah  itu memiliki standar pendidikan yang berbeda-beda, guru yang berbeda kualitasnya, sarana dan prasarana yang berbeda, dan itu semua mempengaruhi proses belajar-mengajar di sekolah.

Dalam daerah yang sama pun, akan beragam standar pendidikan sekolah. Di Jakarta Selatan saja tidak semuanya  sama dengan mutu SMU 8. Mungkin kalau kita cari, didekat SMU 70, bisa saja ada sekolah yang tidak “prestisius” dan jauh dari standar SMU 70 tersebut. Kalau Ujian Nasional diselenggarakan dengan standar yang sama, bagaimana kita harus melihat fenomena tentang perbedaan standar atau mutu pendidikan tadi.

Pada intinya, menurut saya , pemerintah harus melihat ini sebagai suatu masalah. Saya sebenarnya termasuk yang setuju dengan adanya ujian kelulusan. Tapi untuk saat ini, dan kembali kepada logika berpikir saya tadi, seharusnya ujian itu diberikan otoritasnya pada setiap sekolah saja-lah. Karena mereka yang mengerti “kelebihan” dan “kekurangan” mutu pendidikan mereka. Jangan disama-ratakan. (Wallahualam)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: