//
you're reading...
Coretan, Uncategorized

(Catatan Subuh) Membentuk Kebiasaan Anak

Keinntiman subuh kali ini awalnya agak membuat resah, namun setelahnya agak menyenangkan. Kenapa menyenangkan? Ini pertanyaan dan sekaligus nantinya membutuhkan jawaban yang agak pribadi. Tapi untuk subuh ini, biarlah kita bicarakan suatu yang agak pibadi.

Lantas apa yang menyenangkan?

Sejatinya keadaan subuh saat ini biasa saja. Namun yang membuat berbeda adalah adanya anak-anak, tepatnya keponakan, yang sedang menginap dirumah neneknya. Yang membuat menyenangkan sebenanya adalah hal ‘sepele’ bagi pembaca, tapi, mungkin, juga bisa sangat berharga bagi para orang tua, yaitu berhasil membuat keponakan yang telah masuk “area” tamyiz untuk shalat subuh.

Ternyata begitu penting membentuk kebiasaan anak atau karakter anak yang positif.  Kata seorang kakak bahwa kebiasaan atau habit anak itu bisa tebentuk, dalam hal ini adalah kebiasaan dalam rutinitas shalat berjamaah, adalah dalam waktu kuang lebih 3 bulan. Dalam proses kurun waktu tersebut, alam bawah sadarnya akan bekerja, berproses dan akhirnya membentuk “pesetujuan” atau “penerimaan” sebagai karakter dan kebiasaan yang harus mereka jalani.

Anak-anak sekarang ini sangat berbeda dengan anak-anak dahulu yang seringkali menurut saja apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Anak-anak sekarang ini sudah dijejali informasi-informasi dari bebagai media. Itulah sebabnya para orang tua dituntut lebih ekstra untuk mendidik dan membimbing anak mereka.

Yang haus menjadi pehatian para oang tua adalah bagaimana tata caa perintah untuk “dikenakan” kepada para anak. Kebanyakan dari para orang tua mungkin menerapkan peintah pada anaknya dengan menggunakan “kalimat menyuruh” bukan dengan “kalimat mengajak”.  Apa pebedaannya? Kalimat mengajak mengandung makna bahwasanya si pemberi perintah terlibat dalam pelaksanaan terhadap apa yang diperintahkan, sedangkan kalimat menyuruh mengandung makna bahwasanya tidak ada keterlibatan dari si perintah. Hal ini harus menjadi perhatian dari para orang tua sekaligus pendidik para anak.

Tentunya semua itu beujung pada harapan, dari para orang tua dan para pendidik, supaya anak-anak mereka selalu terjaga dalam kebiasaan-kebiasaan yang baik dan tepuji.

NB: Catatan ntuk Amar dan Habib

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: