//
you're reading...
Cerpen, FikSi

Kolektif Kolegial

Setelah selesai mengaji, Kang Shihab  dan Harry sengaja tidak langsung pulang. Mereka  berencana untuk sedikit berlama-lama di mushollah.

Harry  tiba-tiba penglihatannya menuju kesalah satu rumah di depan mushallah, rumah Bang Juki. Bang Juki dan bininya tampak sedang cekcok, adu mulut. Hal ini sebenarnya kerap kali terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat kampung.

Harry pun berkomentar, “Kemarin masalah duit. Sekarag kayaknya masalah anak tuh. Ada-ada aja Bang Juki ama bininya” Mereka berdua pun tertawa.

“Bang Juki kaga ngerti tuh.” Timpal Kang Shihab.

“Maksud sampeyan kaga ngerti pegimana, Kang?” Tanya Harry menuntut jawaban.

“Lah harusnya laki-bini itu, dalam mengurus keluarganya, harus kolektif kolegial. Kaga Otoriter dan mau menang sendiri.” Jawab Kang Shihab.

“Apa? Kolektif apa? Tuh bahasa nemu dimana, Kang?” Harry bingung.

“Haha.. Lah itu bahasa yang lagi rame diomongin orang-orang hari ini, Har, di TK Parlemen.” Jawab Kang Shihab sambil tertawa.

Harry pun makin bingung mendengar jawaban Kang Shihab yang sekenanya.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: