//
you're reading...
Coretan

Yuk Nulis… 

Memulai itu ternyata sangat sulit. Begitupun saat saya ingin mencoba menulis. Dulu pernah bercita-cita menjadi penulis, tapi setelah memasuki usia lewat seperempat abad, sepertinya harus realistis dengan tidak lagi berambisi untuk itu. Tapi cita-cita itu kan bukan berarti harus dkubur dalam-dalam, melainkan sedikit dibuat realistis. Yah, paling tidak tetap ada kemauan untuk menulis, dan paling tidak (lagi) tulisan untuk konsumsi diri sendiri dan teman-teman dekat saja.

Saya jadi ingat sekali , dan semoga ini bukan sebuah hutang. Dulu, sekitar empat tahun yang lalu, saya pernah sedikit berjanji kepada seorang sahabat bahwa sepuluh tahun kedepan, saya akan menjadi novelis. Sebuah ucapan yang sangat idealis dari seorang anak muda yang saat itu sedang gila-gilanya ngeblog dan banyak  baca. Sebuah azzam yang, saya pikir, sangat kuat tertanam kala itu. Tapi janji tinggal janji, walau saya masih berharap untuk itu. Karena sampai saat ini saja, saya tidak punya ide untuk diangkat dan dijadikan sebuah buku.

Pernah di akhir tahun 2009, saat sejarah negeri ini mencatatkan telah kehilangan seorang guru bangsa yang bernama KH. Abdurrahman Wahid atau biasa disapa dengan Gus Dur, ada seorang teman yang bilang atau tepatnya bertanya, “Aku nunggu tulisanmu semalam tentang Gus Dur, tapi ko tumben ga ada. Ga nulis ya?”. Dia bertanya seperti itu karena dia tahu bahwa saya, biasanya, suka menulis dan biasa menuliskan sesuatu yang menjadi isu disekitar masyarakat.

Kalau kita ambil positifnya, ungkapan teman itu adalah sebuah cambuk yang harusnya bisa memecut ghirah menulis saya. Tapi entah kenapa, ketika kemauan ada, tetapi untuk memulai menulis itu sangatlah sulit. Dan ahkirnya, saya tak punya tulisan tentang akhir seorang Gus Dur. Dan seburuk-seburuk penulis adalah yang telah melewatkan momen bersejarah tanpa sebuah coretan kalimat-kalimat yang mencatat.

Tak selang berapa lama setelah itu, ada lagi seorang teman di facebook yang menyentil saya. Dia menanyakan kenapa saya tak lagi menulis. Entah ini adalah sebuah apresiasi positif dari mereka terhadap tulisan-tulisan saya selama ini, ataukah ada indikasi lainnya, ah saya tidak tahu. Tapi yang pasti, pada dasarnya menulis adalah sesuatu yang mengasyikkan walaupun terhadap siapa saja yang senang menulis akan selalu merasa sulit untuk membuat sebuah tulisan yang bagus dan berkualitas.

Menulis itu nikmat, tapi tak mudah. Karena sejatinya, menulis itu tidak hanya sembarang “bersilat lidah” tapi adalah suatu proses berpikir dan perlu sebuah keberanian untuk mengejawantahkannya kedalam tulisan jadi. Pramoedya pernah mengatakan bahwa “menulis adalah sebuah keberanian”. Yah, saya sangat sepakat sekali dengan quote itu. Karena tanpa keberanian sesuatu itu akan terasa hambar dan menggantung, tidak total. Walaupun dalam menulis kita juga perlu untuk memperhatikan rambu-rambu yang ada.

Tulisan ini mungkin saja sesuai dengan yang dikatakan Montaigne suatu saat dulu, “Dan karena saya tidak menemukan hal lain untuk ditulis, saya menyediakan diri sendiri sebagai subjek.”

Semoga saja dengan tulisan ini membuat saya “sadar” bahwa menulis itu sangat penting. Paling tidak untuk mencatatkan sejarah kecil hidup kita dan pikiran kita terhadap suatu masalah yang tengah terjadi.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: