//
you're reading...
Cerpen, Coretan, FikSi

Media dan Fenomena Bunuh Diri

Suatu pagi Harri dan Kang Shihab terlihat berdua sedang sap-siap berangkat ke pengajian di kampong tetangga. Pendek cerita, berboncenganlah mereka.

Ditengah perjalanan, terlibat diskusi “ringan” diantara keduanya. Awalnya Harri yang membuka diskusi, “Sekarang banyak orang yang stres ya, Kang.”

“Kamu lihat berita tadi pagi ya?” Timpal Kang Shihab dengan pertanyaan .

“Iya. Sekarang ini banyak yang bunuh diri, Kang.”. Harri melanjutkan ceritanya. “Tapi menurut saya, media-media juga ikut berperan dalam hal ini. Karena seringnya berita bunuh diri, sehingga yang lain, yang memang keadaaan jiwanya sedang tidak stabil, seperti mendapat “ilham” untuk melakukan tindakan itu.” Harri mengeluarkan pendapatnya.

“Jadi , media salah menurutmu?”  Kang Shihab kembali melemparkan pertanyaan.

“Bisa dikatakan seperti itulah, Kang.” Harri menjawab dengan sedikit arogan.

“Ah, menurut saya tidak,” Kang Shihab berpendapat. Dan tak lama melanjutkan ucapannya, “Menurut saya media sudah sangat “seimbang” atau bisa dikatakan sudah proporsional memberitakan dan menyikapi peristiwa banyaknya bunuh diri sekarang ini.”

“Maksud Akang?” Harri memotong pembicaraan.

“Media, disamping memberitakan peristiwa “tidak baik” itu, juga memberikan pendidikan-pendidikan lewat dialog dengan para psikolog dan alim ulama. Dialog itu membicarakan tentang “sebab” hingga “solusi”. Itu yang media lakukan. Oleh karena itu saya pikir, Media sudah sangat “seimbang”  antara memberitakan dan memberikan pendidikan ke masyarakat.” Ucap Kang Shihab.

“Tapi kan tidak semua orang membaca “keseimbangan” itu, seperti yang Akang sampaikan tadi. Dan terhadap orang-orang yang seperti itu, pemberitaan di media akan menjadi “negative” bahkan bisa menjadi “ilham” seperti yang tadi saya bilang.” Harri pun tak mau mengalah pada diskusi kali ini.

“Betul sekali, Har. Dari uraianmu yang terakhir , Sekarang saya tanya, kenapa ada orang yang tidak bisa membaca “keseimbangan” yang disuguhkan media, seperti apa yang saya pikirkan?” Tanya Kang Shihab.

“Pendidikan yang kurang, mungkin?” Jawab Harri ragu.

“Oke. Pertanyaan selanjutnya, kenapa seseorang bisa kurang pendidikannya?” Kang Shihab terus bertanya.

“Ekonomi lemah..??!!” Harri menjawab masih ragu.

“Haha, jawabanmu mantap sekali, Har. Mungkin media satu pendapat denganmu.” Kang Shihab kembali membuat Harri bingung.

“Maksudnya?” Tanya Harri dengan raut muka yang tidak mengerti.

“Media sebenarnya hanya ingin mengkritik pemerintah dengan menyuguhkan fenomena-fenomena “tak terpuji” seperti  bunuh diri. Pemberitaan itu hanya ingin membuat pemerintah “melek” bahwa diluar sana, masyarakat, banyak yang berperilaku “tidak baik” akibat kurangnya pendidikan yang bersumber dari keuangan atau perekonomian yang “jelek”.

“Disamping itu, saya pikir selain pemerintah, Media juga ingin memberikan pelajaran kepada para pemuka agama.  Para pemuka agama harus “sadar dakwah”. Artinya, para pemuka agama harus lebih sadar lagi dalam berdakwah  dengan “kondisi kekinian“ masyarakat. Jangan sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit neraka.” Kang Shihab menegaskan.

Dan Harri pun mengangguk-angguk, sepertinya paham dan setuju. Dan mereka pun lama terdiam setelah diskusi itu. Akhirnya sampailah mereka ke tempat tujuannya.

Discussion

One thought on “Media dan Fenomena Bunuh Diri

  1. hai.. link kamu sudah kupasang di blog ku.. link balik ya.. thanks..

    Posted by sephtian | 25 December 2009, 09:10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: