//
you're reading...
Coretan, Essay

Keadilan (?)

Pagi tadi di sebuah warung makan “Mang Kus”, saya dan beberapa rekan terlibat percakapan. Banyak masalah yang dijadikan bahan obrolan saat itu, namun ada satu kalimat yang sangat “waw” dari mulut atasan saya. Ketika itu, bahasannya tentang musibah “kecil”, menurutnya, yang menimpanya (kata kecil sengaja saya beri tanda petik, karena itu masih sangat subjektif).

“Kalau hidup di dunia jangan berharap keadilan…,” sepenggal kalimat yang diucapkan dengan ringannya, seolah-olah luapan pesimistis terhadap hukum – atau keadilan? Mendengar penggalan kalimatnya saat itu, yang ada di benak saya bahwa beliau, dan mungkin banyak orang di dunia ini, sangat pesimistis terhadap keadilan.

Pernyataan atasan saya itu sebenarnya pun hampir senada dengan ucapkan seorang filsuf, Thomas Nagel – “Kita tidak hidup di dunia yang adil”, sebuah pernyataan yang mengindikasikan bahwa keadilan tidak mungkin tercapai didunia tempat kita hidup ini.

Keadilan. Kalau secara “kasat mata”, dan naif, keadilan kita bisa beri pengertian sesuatu yang simetris. Sesuatu yang sama. Pembalasan yang setimpal. Atau apapun yang kalimatnya diakhiri dengan kata “sama”, “simetris”, atau “seimbang”. Namun itu tak selamanya benar, karena keadilan itu, menurut, saya harus memenuhi banyak aspek.

Timbul pula pertnyaan mendasar lainnya, “dari mana keadilan?”. Kita mungkin tahu dan mengaitkan keadilan dengan “hukum”, karena masyarakat memiliki pengetahuan kalau hukum itu dimaksudkan sebagai aktualisasi dari “rasa keadilan”. Tentunya “rasa” disini adalah merupakan sebuah bentuk “kesadaran”, yakni kesadaran akan keadilan, yang bukan saja sebuah hasil kognitif – dari pengetahuan semata, melainkan juga dari sebuah “penghayatan”. Sehingga kita bisa katakan bahwa hukum adalah realisasi dari hasrat yang kita sebut “rasa keadilan”.

Namun pertanyaan berikutna adalah, saat ini, sudahkah hukum, terutama dinegeri ini, telah menjawab pernyataan pesimistis atasan saya dan seorang Thomas Nagel? Sebuah pertanyaan yang mungkin bisa terjawab dengan sebuah kisah seorang nenek dari Dusun Sidoharjo.

Tersebutlah nenek minah, ia berusia 55 tahun. Ia harus menghadapi masalah hukum hanya karena tiga biji kakao yang nilainya Rp 2.000. Ia memang mengaku memetik buah kakao itu untuk dijadikannya bibit. Akibat perbuatannya itu, nenek Minah dijerat pasal 362 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dengan ancaman hukuman enam bulan penjara. Padahal ia mangeku sudah mengembalikannya dan meminta maaf. Namun apa mau dikata, terhitung sejak 19 Oktober lalu, kasus pencurian kakao yang membelit nenek Minah itu telah ditangani pihak Kejaksaan Negeri Purwokerto. Dia didakwa telah mengambil barang milik orang lain tanpa izin.

Sebuah ironi terjadi dinegeri ini. Bayangkan, kita selalu melihat di tv-tv para pencuri uang rakyat masih saja berkeliaran dan sulit untuk diadili bahkan para penegak hukum malah “berkelahi” karenanya, sedangkan Nenek Minah yang hanya dengan 2000 peraknya telah diadili dan harus terancam hukuman 6 bulan penjara. Pertanyaannya, dimana realisasi (hukum) dari hasrat keadilan tadi. Dimana hukum dan rasa adil harus ditempatkan? Apakah ditempatnya masing-masing? Tanpa pernah bersama?

Benar, dan saya setuju sekali dengan perkataan Gunawan Muhammad, bahwa hukum selamanya adalah sebuah kekurangan.

Discussion

One thought on “Keadilan (?)

  1. Negeri ini memang selalu penuh ironi. Salah satu contoh terbaru adalah bagaimana para ‘pencuri’ kelas teri mendapat hukuman yang kurang setimpal dengan perbuatannya. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh para pencuri ‘koruptor’ kelas kakap yang banyak menghilangkan miliaran uang rakyat.
    Sungguh sebuah fakta yang menyesakan dada. Mudah-mudahan di kemudian hari hal seperti tidak terjadi lagi. Hukuman harus diberikan dengan seadil-adilnya, sesuai dengan beratnya kesalahan yang dilakukan.
    Cara Membuat Blog

    Posted by Cara Membuat Blog | 1 December 2009, 14:16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: