//
you're reading...
Coretan, Essay

PPI 2009 : Aceh, Qory, dan Jilbab

qory_puteriina_285_fahmiKetika mengisi waktu luang dengan melihat program TV, semalam, tak sengaja menemukan sebuah program acara yang memang rutin diadakan dikancah negeri ini. Pemilihan Puteri Indonesia (PPI). Sedikit tertarik melihat wanita-wanita cantik nan pintar di-“pertontonkan” dalam ajang pemilihan itu, akhirnya lama saya melihat acara itu hingga terpilih tiga besar. Puteri NAD, Sumbar, dan Maluku Utara. Namun sayang saya tertidur pulas ketika acara belum juga usai.

Berita pagi tadi saya lihat bahwa Puteri Nanggroe Aceh Darusalam menjadi pemenang dalam ajang PPI 2009. Ternyata jagoan saya asal Sumatera Barat kalah, dan hanya menyabet runner up.

Sebenarnya ada satu kejadian menarik, yang ketika saya sedeng mengganti-ganti channel tv dan akhirnya mendapatkan program tv PPI ini, yaitu adalah ketika Puteri NAD ini ditanya mengenai ‘Jilbab’. Masalah yang menurut saya sangat ‘sensitif’ dan perlu kehati-hatian dalam menjawabnya.

Tapi mungkin berbeda dengan Puteri NAD, Qory Sandioriva, yang masih sangat belia. Tanpa perlu waktu yang lebih dalam menjawab, dia begitu mudah dan “polos” dalam mengutarakan jawabannya. Kala itu saya pikir ini akan menjadi “berita”, bahkan bukan berita biasa.

Saat itu Qory ditanya mengenai alasan ia tidak berjilbab dalam PPI 2009. Padahal ia adalah “putra(i) daerah” dan membawa emblem Aceh yang identik dengan Islam. Charles Bonar Sirait selaku MC pun menegaskan kalau sejak tahun 2003 puteri NAD selalu berjilbab. Suatu pertanyaan yang sangat sensitif.

Qory dengan sangat tenang menjawab, ‘rambut adalah suatu keindahan yang Tuhan berikan kepada wanita, oleh karena itu untuk seharusnya ditunjukkan’. Kurang lebih jawabannya seperti itu. Dia juga menambahkan kalau ia telah diberi ijin pemerintah daerah setempat, yakni daerah yang ia wakili di PPI 2009. Jawaban yang saya pikir sangat ‘terbuka’ dari seorang yang ‘baru’ merasakan kehidupan dan akan “membuka” suatu diskursus ‘usang’, yakni tentang jilbab.

Saya tidak ingin membahas tentang jilbab lebih jauh, namun yang sedikit mengusik saya adalah ‘perasaan’ masyarakat NAD yang selama ini merasa bangga dengan identitas “serambi mekah” dan penyunjung syariah islam. Bagaimana mereka melihat perwakilannya bisa mengatakan hal yang sangat “tidak biasa” dan tidak menggambarkan adat budaya daerahnya didepan khalayak nasional. Belum berhenti sampai disitu saja, bagaimana pula masyarakat Aceh nanti melihat sang “putra(i) daerah”-nya yang diberi ‘amanah’ untuk mewakili Indonesia di ajang yang lebih mendunia yaitu Miss Universe, dengan beragam ‘kontroversi’ yang akan dilakukannya. Apakah mereka akan merasa “ditelanjangi” seiring tuntutan berpakaian yang mengumbar aurat, menurut masyarakat Aceh, dan dipertontonkan diseluruh jagat raya. Sebuah pertanyaan ekstrim.

Sampai sini, saya sejujurnya ingin mengatakan bahwa jawaban dari Putri Aceh adalah tidak bijak dan kurang tepat. Namun tidak semestinya saya juga persalahkan kekurang tepat-an Qory ditujukan hanya padanya. Toh, kita harus maklum dengan usia belianya. Ada yang lebih patut dipertanyakan dan, mungkin, bisa diminta pertanggungjawabannya, yaitu Pemerintah Daerah setempat yang mengijinkan Puterinya, menurut pengakuan Qory, untuk tampil ‘apa adanya’ di PPI 2009.

Banggakah Pemerintah Daerah setempat dengan kemenangan yang diraih puterinya? Itu pertanyaan lain yang harus ditujukan. Ketika ada kebanggaan, artinya masalah dan tanggungjawab jangan hanya kita tujukan kepada puteri belia yang kini menjadi Puteri Indonesia, Qory. Dia hanyalah seorang yang mengikuti apa yang menjadi prinsip hidupnya. Dia adalah seorang yang berjiwa muda dan memiliki semangat untuk mempertahankan pandangan yang ia ketahui dan ia yakini.

Namun idealnya dan semestinya ada yang menjaga dan memberikan jalur atau paling tidak memberikan pandangan hidup yang lebih bijaksana. Karena kebijaksanaan sejatinya bukan hanya monopoli ‘orang tua’, namun ‘orang muda’ pun dapat memilikinya. Dalam masalah ini, artinya, pihak yang memiliki kapasitas (orang tua) untuk memberikan kebijakan, yakni Pemda setempat, harus benar-benar dalam keputusan kebijakannya. Apakah kebijakannya memiliki pengaruh dalam aspek-aspek kehidupan, seperti sosial, agama, budaya, ekonomi, atau bahkan aspek psikologi daerahnya.

Terlepas dari permasalahan itu semua, saya ingin mengucapkan selamat kepada Qory, secara individu. Ini sebuah pengakuan prestasi. Selamat!

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: