//
you're reading...
Cerpen, FikSi

Si Burung Merak (1935-2009)

ws-rendraMalam itu dingin menyengat. Harri dengan berjaket tebal keluar rumah dan menuju taman. Sesampainya di Kursi panjang yang biasa ia tempati di taman itu, kali ini kursi tidak kosong seperti dimalam-malam yang berlalu. Ada orang lain yang duduk disana. Seorang paruh baya namun masih tampak gagah. Wajahnya tidak begitu jelas karena terkena silau lampu taman.

Harri pun mencoba duduk disamping bapak paruh baya itu. Lama mereka saling diam. Dengan nada penasaran, harri pun memberanikan menyapa, “Selamat malam, Pak! Sepertinya bapak baru disini. Maaf, Pak. Saya Harri. Bapak siapa yah?”

“Kau tahu dari dulu: tiada lebih buruk, dan tiada lebih baik, dari yang lain, penyair dari kehidupan sehari-hari, orang yang bermula dari kata, kata yang bermula dari kehidupan, pikir dan rasa.” Jawab bapak itu tanpa ekspresi.

Harri merasa bingung dengan jawaban bapak itu. Tapi ia malu untuk menanyakan identitas bapak itu lebih lanjut. Namun ia merasa pernah mendengar kalimat itu. Untuk mencairkan suasana Harri pun mengajak bapak itu berdiskusi, “Negara ini makin jahil ya, Pak. Pemilu ngawur. Tempat pemberantasan korupsi, malah korupsi. Rakyat makin dibuat bingung. Bagaimana menurut bapak?”

“(Dengan) menghisap sebatang lisong, melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat, dan di langit, dua tiga cukong mengangkang berak di atas kepala mereka.

“Mereka memanen untuk tuan tanah, yang mempunyai istana indah. Keringat mereka menjadi emas yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa. Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan, para ahli ekonomi membetulkan letak dasi, dan menjawab dengan mengirim kondom.

“Penderitaan mengalir, dari parit-parit wajah rakyatku. Dari pagi sampai sore, rakyat negeriku bergerak dengan lunglai, menggapai-gapai, menoleh ke kiri, menoleh ke kanan, di dalam usaha tak menentu. Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah, dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai, dan sukmanya berubah menjadi burung kondor. “ Jawab bapak itu masih tanpa ekspresi.

Harri makin bingung dengan jawaban bapak itu. Dia agak penasaran kali ini, ia merasa tak asing dengan kalimat yang digunakan bapak paruh aya itu. Tapi ia masih menahan untuk menginterogasi bapak itu lebih lanjut.
Agak lama mereka terdiam. Harri pun memberanikan bertanya lagi, “Lalu menurut bapak, apa yah, yang bisa mengubah kejahilan ini semua?”

Ada waktu jeda yang lama sampai bapak itu mengeluarkan kalimat-kalimat seperti syair dari mulutnya, “Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri harus merumuskan keadaan. Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata.” Masih tanpa ekspresi bapak itu menjawab.

Harri makin merasa aneh. Malam itu makin pekat dan makin menakutkan bagi harri. Ia yakin dengan sedikit usaha meragukan, bahwa syair itu adalah syair Rendra di Sajak Sebatang Lisong.

Dan bapak itu melanjutkan, “Manusia dari setiap angkatan bangsa akan mengalami saat tiba-tiba terjaga, tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi, akan menghadapi pertanyaan jaman: apakah yang terjadi? apakah yang telah kamu lakukan? apakah yang sedang kamu lakukan? Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna dari jawaban yang kita berikan.

“Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.”

Harri pun terkejut mendengar kalimat terakhir. Ia takut. Tanpa ijin dengan bapak paruh baya itu, ia langsung bergerak cepat meninggalkan taman itu.

Sesampainya dirumah, masih dalam keadaan takut, ia terkejut, katika ia melihat berita di tv, “Si Burung Merak meninggal dunia malam ini.”

——

note: meminjam kalimat teman, Burung merak terbanglah,menemui pemilik sejatimu. (5 Agustus 2009)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: