//
you're reading...
Coretan

Jakarta – Bekasi : Sastra Hizb, Politik, hingga Nasi Uduk

Malam terasa dingin kali ini karena sore tadi turun hujan lebat dibarengi dengan hembusan angin kencang. Ba’da maghrib, langsung menyiapkan sepeda motor. Dan sekitar pukul 18.30 sepeda motor saya meniggalkan rumah menuju bekasi, bersama saya tentunya.

Jalan terasa sangat asing malam ini. Perasaan itu membuat pikiran saya ikut terasa aneh. Pikiran melayang-layang bagai roh yang tak berjasad. Meter demi meter sepeda motor saya masih menopang jasad saya, namun entah dengan ruh saya.

Pikiran saya kala itu mulai menari, kali ini dimulai dengan sebuah Sastra Hizb milik Imam Syafii, sang faqih yang sastrawan. Ada salah satu hizib-nya yang sangat saya kagumi yang bertema sebuah pancaroba.

“Di tengah hutan , sekawanan singa terkapar dan mati kelaparan. Sedang di pemukiman, anjing-anjing kekenyangan menyantap daging-daging domba. Terkadang para pelayan dan hamba tertidur beralaskan sutera. Sedang orang-orang merdeka tidur di tanh beralaskan debu.”

Sebuah hizb yang sangat mengena dan menyentuh. Sambil mengingat hizib itu, saya juga mendendangkan lagu nasyid milik Raihan yang berjudul, Kita Hamba.

“Kita adalah insan, yang dihidupkan buat sementara… kita adalah insan, yang hakikatnya adalah hamba…(dst)”

Masih di atas sepeda motor. Dan perjalanan makin terasa asing dengan pemikiran-pemikiran yang tiba-tiba saja muncul.

Sekawanan singa yang notabene lebih kuat dibanding anjing-anjing saja seringkali kelaparan dan dapat mati karenanya. Begitu juga para pelayan dan hamba sahaya atau budak yang jika dilihat pada status didalam hidup bermasyarakat lebih rendah dibandingkan dengan orang-orang yang merdeka , dapat tertidur beralaskan sutera, meski mungkin itu adalah kepunyaan sang majikannya.

Kita adalah hamba. Yah, kita hanyalah seorang hamba. Seorang hamba sang khalik. Sang khalik yang tidak melihat seseorang dari statusnya dalam masyarakat, juga bukan karena kuat atau lemah, namun hanya menilai hamba dari ketaatan dan ketakwaannya saja.

Masih beranikah saya untuk menyombongkan dan membanggakan diri saya? Ketaatan dan ketakwaan seperti apa yang sudah saya lakoni selama ini sehingga saya sudah berani membanggakan diri saya. Ya allah ampuni saya!

Malam makin dingin. Dan saya masih berada di atas sepeda motor . Sempat “sadar” dan berhasil “keluar” dari “alienasi” perjalanan malam itu. Dan mengetahui kalau sepeda motor telah berada pada titik koordinat beberapa derajat dari koordinat Pancoran.

Ketika perjalanan telah sampai Cawang, kembali semuanya terasa aneh. Kali ini pikiran mencari sebuah muara diskursus tentang politik. Entah kenapa bisa muncul tema ini dalam pikiran. Mungkin akibat telah dimulainya pesta demokrasi di Indonesia.

Saya teringat, pernah saya ikut forum diskusi dengan tema “Kenapa tidak ada larangan menyertakan atribut agama di Partai? Itukan S-A-R-A .“ Sebuah petanyaan yang mengkritik atas partai yang berlabelkan agama, dan menghendaki adanya pemisahan antara negara dan agama.

Dan komentar saya adalah, Salah menurut saya kalau kita menganggap bahwa partai yang membawa aspirasi-aspirasi pribadi atau golongan, agama misalnya terkait topik ini, adalah tidak Pancasilais.

Bukankah ini adalah bentuk demokrasi? anak kandung dari sebuah dasar negara yang bernama PANCASILA. Pancasila itu menjadikan negara wajib menampung semua aspirasi anggota masyarakatnya, meski dengan berkalungkan sorban atau salib, melalui sebuah kendaraan yang bernama partai, misalnya. Jadi, menurut saya tidak ada hubungannya antara partai yang berasaskan agama dengan perut-perut yang kelaparan.

Justru inilah ujian atau konsekwensi dari sebuah demokrasi. PERBEDAAN. Ketika kita mengaku hidup dibawah sebuah payung “DEMOKRASI”, sudah seharusnya kita saling menghargai perbedaan pendapat. Menghormati segala aspirasi-aspirasi individu atau golongan. Bukan sinis terhadap salah satu aspirasi rakyat berupa partai yang berasaskan agama. Menurut saya ini yang tidak PANCASILAIS.

Namun, tidak tepat, menurut saya untuk saat ini, jika partai itu dibentuk dengan sebuah niat besar pembentukan negara atas “Weltanschauung” suatu agama di negara yang agamanya beragam. Itu juga tidak pancasilais.

Saya tidak berharap “apa-apa” di kedepan nanti. Cuma, tetap ada syarat, kedamaian dan solidaritas serta toleransi masih harus menjadi “harta yang berharga”, entah pada negara dengan dasar agama atau memang negara yang mengedepankan toleransi pada pluralitas.

Agama menurut saya sangat baik, apalagi ketika kita bisa menafsirkannya dengan sangat arif dan bijak. Saya tidak antipati terhadap sebuah negara yang agama menjadi dasar negaranya, ketika dalam negara itu hak-hak pada masyarakatnya yang tidak seagama terpenuhi. Meskipun saya tidak menganjurkan negara dengan dasar agama pada kondisi pluralitas.

Maish diatas sepeda motor. Dan kala itu perjalanan sudah hampir memasuki Bekasi. Perut terasa lapar. Sehingga konsentrasi kembali menjadi buyar. Nasi Uduk. Itu makanan pertama yang muncul di kepala. Nasi Uduk dengan kuah semur. Waw… nikmatnya. Perut semakin perih namun perjalanan masih saja belum tiba di tujuan.

Waktu telah menunjukkan jam 19.30. Dan sebelum saya tiba di kosan, terlebih dahulu saya singgah untuk membeli sesuatu yang sangat berharga yang sedari tadi saya idam-idamkan. Nasi Uduk. Yang dihidangkan dengan baluran kuah semur. Ditambah bihun dan sambalnya. Serta tak lupa gorengan yang membuat makan semakin nikmat. Dibungkus, Bu!! Dan akhirnya sampai tujuan.

Discussion

One thought on “Jakarta – Bekasi : Sastra Hizb, Politik, hingga Nasi Uduk

  1. mencoba menyelami barisan kata-kata yang tertulis…mengalir penuh makna…
    ^salam kenal pak farid^

    Posted by ratna | 10 April 2009, 22:36

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: