//
you're reading...
Coretan

Dialog dengan Tuhan

Malam kemarin disuasana sunyi ruang kecil yang bernama “kamar no. 5”, saya merasa bahwa Tuhan hari itu telah bicara pada saya. Kadang memang suasana sepi membuat imaji kita melompat-lompat mencari pijakan atau dasar sebuah konsep. Dan itu yang terjadi malam itu.

Siang kemarin, dihari itu, Tuhan memang tidak pernah menampakkan dirinya, namun hanya ada seorang teman yang sengaja duduk pada kursi kosong di sebelah saya.

Saat itu adalah saat yang biasa. Saat dimana kita sekali waktu mengistirahatkan jasmani kita yang lelah berada di jalur rutinitas kerja. Waktu yang sangat sederhana, dimana ada saat-saat yang kosong dari kejamnya detik-demi-detik berdenting yang menghibahkan kelelahan akibat sebuah keseharian.

Tuhan, saat itu, memang tidak pernah benar-benar berkata pada saya.  Yang ada hanya teman yang berusaha mengajak saya untuk berdialog ringan. Mengisi ruang waktu yang luang.

Sang teman adalah seorang yang belum lama saya kenal,  namun justru karena waktu yang baru mempertemukan kita, dan itu justru membuatnya berpandangan berbeda terhadap saya, dibanding dengan teman-teman lain yang sudah lama kenal dengan saya.

Kami berdialog dengan sangat santai. Dan saat itu memang suasana sangat mendukung untuk suatu hal yang dapat dikatakan santai. Kami saling bertanya mulanya. Akhirnya, dan memang pada akhirnya, sang teman berkata dengan sangat halus tentang saya. Tentang pribadi saya. Tentang pendapatnya terhadap perilaku saya. Tentang nilai hidup dan sikap saya.

Saat itu, dalam dialog kami, saya yakin Tuhan ada disana. Tuhan berucap  dengan sangat halus tentang saya. Tentang pribadi saya. Tentang pendapatnya terhadap perilaku saya. Tentang nilai hidup dan sikap saya. Dan Tuhan memilih lewat kalimat-kalimat yang keluar dari mulut teman saya.

Dialog yang luar biasa. Dialog yang sangat menyakitkan. Dialog yang menggugah kesadaran diri. Yah, Itu memang dialog yang sangat berkualitas. Dialog yang tidak mengenal tedeng-aling-aling. Dialog yang mengalir menghujam bagai air terjun menderu dan jatuh pada dataran rendah. Dan saya adalah dataran rendah itu.

Dan saat itu membuat saya yakin. Bahwa Tuhan selalu mengajak kita untuk berdialog. Berdialog yang tidak hanya dalam kalimat-kalimat yang tersusun oleh variabel huruf, namun lewat berbagai media, seperti pengalaman hidup.

“Tuhan tidak hanya ada di tulisan-tulisan Kitab suci, Namun Tuhan juga  selalu ada di setiap-setiap  pengalaman.”

Selama ini, seringkali kita mengenyampingkan pengalaman-pengalaman hidup sebagai pijakan kita dalam melangkah. Apalagi jika ada anggapan berbenturan dengan kitab suci.  Padahal kitab suci adalah sebuah labirin yang penuh dengan jalan-jalan berliku meski hanya satu pintu keluar yang benar, dan itulah kebenaran hakiki.

Tuhan tidak pernah berhenti berdialog dengan kita. Tuhan tidak hanya berdialog dengan Nabi-nabi atau orang suci. Tuhan akan selalu mengiringi langkah kita. Siapapun kita. Maka berusahalah dan persiapkan diri kita untuk menerima dialog-dialog Tuhan.

Discussion

One thought on “Dialog dengan Tuhan

  1. TUHAN DULU PERNAH AKU MENAGIH SIMPATI……

    Posted by mr cordova | 31 December 2008, 18:20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Facebook

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

Archives

blog-indonesia

%d bloggers like this: