RSS

Category Archives: Puisi

Kategori ini adalah kumpulan puisi. Baik puisi buah karya sendiri, maupun orang lain

Malam Minggu dan Susu Cokelat

Manusia selalu punya ingin.

Kau pasti setuju dengan pendapatku

kalau perlu ia langkahi langit tujuh

ia selami lautan tak beradasar

Kau masih setuju bukan?

kalau manusia selalu punya ingin.

 

Tapi, mari kuberitahu,

dimalam minggu ini

ada secangkir susu coklat hangat

itu, ada di situ, di meja kayu tepat di depanku

 

Dan kau tahu?

kehangatannya telah mencairkan bekunya sebuah ingin

baunya juga menghilangkan lelah akibat suatu ingin

 

Ah, tapi sayang tak ada donat cokelat di sisinya…

susu cokelat

Susu Cokelat

 
Leave a comment

Posted by on 12 March 2011 in Puisi

 

Kopi dan Cinta

Mari meneguk sedikit kopi di cangkir, karena mustahil ada cinta yang teraduk di dalamnya…

kopi dan cinta

kopi dan cinta

 
Leave a comment

Posted by on 11 March 2011 in Puisi

 

Cinta dan Politik

Sudahlah, kalau cinta hanya selalu membuatmu menangis, letakkan saja di laci yang tak terkunci. Dan sekarang, mari kita lihat berita politik di tv, untuk mematikan rasa dalam diri…

 
Leave a comment

Posted by on 11 March 2011 in Puisi

 

Sajak untuk Pembuat Laporan

:: Tino dan Alex di Bogor

 

Ada laporan yang menuggumu,

itu di mejamu,

 

Pandanglah sejenak, jangan telalu lama

sentuhlah, bahkan angka yang merangkainya

kan terlihat bagai bait yang mengalun memuisi

indah, ketika kita dirundung keindahan

bengis, ketika kita hanya ingin meludahi lalu membakarnya

 

sudahlah,,,

kadang menyulam angka membuat hati sepi menyeruak

bahkan bisa menjadi nada yang dicipta menjadi lagu cinta

yakinlah, angka itu akan indah pada waktunya…

 

Hei, hei… sadarlah

itu laporan menuggumu..,

itu di mejamu.

 
3 Comments

Posted by on 17 February 2011 in Puisi

 

Tags: ,

Aku ingin menulis sebuah puisi

Namun, sedari tadi di sini. Mengaduk-aduk imaji yang ingin dikaitkan tinggi. Masih sepi, tak ada suara. Bahkan angin saja enggan membisikkan kata. Malah, aku seperti dikutuki nafas, “makan tuh sepi!”

Di sini, masih sedari tadi. Kupaksakan saja. Mulai kupilah kata-kata yang tepat atau mendekati. Sedikit untuk menggambar pemandangan hati. Paling tidak menghibur dan menyelisihi nafas yang tadi mengutuk. Namun entah, mengapa yang muncul hanya kata-kata “sepi”, “sendiri”, “hampa”, dan “kosong”

Bernafas sebentar, dan ingin ku buang jauh-jauh kata-kata itu. Menguncinya dalam almari kayu jati. Lalu kuncinya kupatahkan dan kubuang pada sungai yang mengalir.  Biar.., biar mereka tak perlu ada lagi. Mereka tak perlu kembali.

Tapi…, – oh lagi-lagi kata “tapi”, aku paling tidak suka menggunakan kata ini setalah ku berikrar.  Tapi, – menyerahlah aku, dan aku harus menggunakan kata ini lagi-, sepertinya tak ada lagi kata disakuku untuk kukeluarkan, kecuali kata-kata itu. Sudahlah, aku  mengaku saja. Aku kalah. Kalah dan kini aku dikurung oleh jeruji kata-kata tadi. Dan maaf pada seseorang yang bilang “Saudara, merasa menang dan kalah pun adalah sebuah pilihan, salam super!”.

Huft…, padahal, aku hanya ingin membuat puisi. Paling tidak sebait saja. Puisi yang bagiku bisa melembutkan hati dan mencerdaskan sisi emosional dan spritual. Puisi yang bagiku dapat mendakikan aku ke puncak ekstasi. Ya…, Hanya itu saja.

Tapi…, - ah lagi-lagi -

===

Meja Kantor, 08 Februari 2011

 

 
Leave a comment

Posted by on 8 February 2011 in Coretan, Puisi, Uncategorized

 

Tags: , ,

Mesjiidku Dahulu…

dahulu, mesjid ini menjadi saksi saat aku dan
teman-teman masa kecilku mulai dikenali dan
mengenal shalat

dahulu, mesjid ini juga menjadi saksi, kala
shalat kami selalu diwarnai dengan canda dan
tawa, layaknya bermain

dahulu, mesjid ini pula yang menyaksikan tingkah
kami di Jumat siang kala menghabiskan waktu
dipelatarannya, bercandatertawa riang ditengah
khatib dengan khutbahnya, bahkan sering terlelap
ketika imam telah memulai mengangkat tangannya
dalam takbir

dan memang dahulu, di mesjid ini, tempat kami
menghabiskan waktu bersama, bermain sekaligus
belajar berdekatan denganMu, Tuhan

yah, inilah mesjidku dahulu, yang saat ini, di Jumat ini,
tak pernah menjadi asing bagiku. Meski telah lama aku tak
menginjakkan kakiku lagi di sini, di mesjidku dahulu.

(Menjelang adzan Shalat Jumat di Mesjid Al-Hikmah, 28/05/2010)

 
Leave a comment

Posted by on 28 May 2010 in Puisi, Uncategorized

 

Sesederhana Cintaku…

Kau tanyakan padaku. Ditengah
peraduan kesadaran. Tentang batasan
yang tak membatas. Akan apa artinya
cinta menurutku.

Kau ingin tahu cinta bagiku? Sederhana saja. Dimana
ada rasa menggebu dalam dirimu. Menceritakan
semua hal kecil dihari-harimu. Juga cerita besar
yang memang sangat berharga
untuk kau bagi. Setiap waktu, setiap hari.
Hanya padanya, pada dia yang
kau jatuhkan setengah mati rasamu padanya.

 
1 Comment

Posted by on 25 May 2010 in Puisi, Uncategorized

 

Tags: , ,

Kehangatan Kita

Dek,

tolong siapkanlah pagi ini

siapkan laci memorimu

untuk menyimpan rapi

ceritamu hari ini

tentang ceria yang menggeluti kerjamu

tentang kejadian lucu disekitarmu

tentang semua hal yang dapat kau petik makna

tentang tawa disektiramu

tentang keluh disekelilingmu

dan malam nanti

aku kan menunggumu disini

dan dengan senang hati,

ku kan menyiapkan almari yang lebih besar

untuk mendengar semua beragam ceritamu hari ini

untuk menyimak semua ceriamu hari ini

untuk melihat ekspresi tawamu dalam cerita lucumu

untuk medapatkan makna yang telah kau petik dan kau kan bagi untukku

untuk semua keinginan yang muncul dan ingin kau utarakan

untuk semua rasa yang menguak kepermukaan dan ingin kau ekspresikan.

Dek,

kalau saja kau mengerti,

sesungguhnya itulah sumbu kehangatan

untuk kita, kau dan aku.

(sepulang mengantar istri kerja/10 Apr 2010)

 
Leave a comment

Posted by on 10 April 2010 in Puisi

 

Tags:

Rumah Kertas

teman,
kau anggap aku tempat yang nyaman
untuk kau berteduh didalamnya

kau tak pernah tahu
aku sesungguhnya rapuh
tunggu saja angin bertiup
aku kan terbang dan kau tertinggal

hanya berusaha memberikan nyaman
padahal aku sendiri gamang
namun kau begitu percaya
untuk menjadikanku rumahmu

namun biarlah,
mungkin kenyamananmu lebih dari segalanya
lebih dari kekuatanku sendiri
dan mungkin,,,
kita memang butuh sebuah rumah untuk tinggal dan berbagi keluh,
tak terkecuali diriku…

Tapi sekali lagi ku beri tahu,
kau sesungguhnya tak pernah tahu
bahwa aku hanyalah rumah kertas untukmu

(utk seorang teman)

 
Leave a comment

Posted by on 9 April 2010 in Puisi

 

Tags:

Malam

Gemintang menari dalam balutan sinar

Merayakan pesta dilantai  kegelapan

Iringan music berdendang sepoi

Membuat malaikat ikut turun berdansa

||

Kelopak mata sulit terkatup

Karena bising  aroma dunia mengganggu

Banyak suara membunyikan klakson mimpi

dibawah anak tangga yang telah tertapak

|||

Ada air menetas memancing

Dan sebuah ruang  yang berbalut kain

Tapi tadi malaikat sibuk berdansa

Sedang iblis saatnya bekerja

|| ||

Ingin ikut malaikat berdansa sendu

Menyentuh keabadian dengan irama

Namun aku disini bersama iblis

Yang sibuk menemani dan menyenangi

 
Leave a comment

Posted by on 1 April 2010 in Puisi

 

Tags:

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.