RSS

Category Archives: Other

Pindah Blog

Pindah Blog

Terisnpirasi oleh suatu kelas perkumpulan di kota Bekasi, Akber Bekasi (Akademi Berbagi Bekasi), pada akhir tahun 2012 kemarin, akhirnya saya terinspirasi untuk membuat blog berdomain bayar sendiri. Sebelumnya, sejak tahun 2007-2012 saya selalu “hidup” dari dua layanan blog gratisan. http://kangaid.blogspot.com/ dan blog wordpress.com ini.

Dengan pengajar seorang yang luar biasa dain bisa menjadi inspirator, Omjay dan Daeng Battala (Amril TG) sukses telah “meracuni” saya untuk lebih giat lagi ngeblog dan memiliki blog dengan nama domain sendiri. Dan memang sudah saatnya saya bisa bergerak lebih maju lagi.

Akhirnya, dengan tidak menutup kedua blog saya diatas, saya yakinkan bahwa saya akan pindah ke blog saya yang baru, yaitu :

http://faridwajdi.com

Semoga saja dengan kepindahan ini, saya dapat lebih mengekspresikan lagi semua ide-ide yang selama ini masih saja tertanam dan tidak berani keluar dari dalam diri saya. Semoga… (sok serius) ^_^/

Wassalam… :D

 
8 Comments

Posted by on 19 January 2013 in Coretan, Other, Serial-Motivasi, Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Baju Baru, Semangat Baru…

Sore ini, dapat baju batik baru. Seragam buat divisi saya untuk dikenakan pada hari Jumat atau Selasa. Warna putih yang berbalut hijau, menjadi pilihan dari beberapa teman yang ditugasi untuk mencari seragam batik kali ini.

Beberapa teman, mendapatkan batik lengan panjang dengan kerah baju yang biasa. Sedangkan saya, memilih batik dengan lengan pendek dan berkerah “shang-hai”. Agak kecewa sih, dengan pilihan saya ini, tetapi tak apalah, yang ada syukuri aja.

Awalnya, warna batik yang menjadi pilihan beberapa teman, termasuk saya, adalah warna hitam. Akan tetapi, ketika putuan hampir “final”, beberapa teman yang berkulit gelap melakukan protes dan sepertinya tidak begitu suka dengan pilihan awal itu. Akhirnya, dengan kebesaran hati beberapa teman, digantilah pilihannya.

Dan, inilah pilihannya yang akhirnya menjadi pilihan kami. :)

 
1 Comment

Posted by on 15 January 2013 in Coretan, Other, Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Service AC Bekasi ala Bang Ade

Sabtu siang. Tak ada kegiatan berarti menjalani hari sabtu ini sejak pagi tadi. Istri pun sedang buka praktek Bekam bersama temannya. Jadilah saya sendiri di rumah.

Teringat AC ku yang sudah lama tidak diservice, tak ada salahnya calling Bang Ade, abang service AC langganan saya. Sekaligus juga, service 2 kipas angin saya yang sudah berhenti tak mau berputar.

Bang Ade, sudah beberapa kali service AC dirumah saya. Jadi berlangganan dengan beliau sudah lebih dari setahun. Itupun juga dapat informasi dari teman kantor, Mas Fajar.

Bagi, teman-teman blogger atau pembaca lainnya, yang disekitaran Bekasi. Boleh hubungi beliau melalui telepon ke nomor 02195801813. Orang betawi ini sangat rapih kerjanya, dan ramah. Tidak menyesal lah berlangganan dengan beliau.

Oke teman-teman, segitu aja informasinya. Terima kasih, sudah berkunjung dan membaca.

 
4 Comments

Posted by on 12 January 2013 in Coretan, Other, Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Blackberry Hilang, Blackberry Sayang…

Waktu maghrib baru saja akan selesai. Saya, selepas pulang dari masjid, langsung mengambil laptop dan perlengkapannya. Ada yang ingin saya pelajari malam tadi, yang mengharuskan saya membuka laptop dan membutuhkan koneksi internet.

Untuk diketahui saja, pasca mengikuti seminar “Kiat Jitu Menulis Buku” dan “Rahasia Blogging” yang diadakan oleh Akademi Berbagi Bekasi, atau yang biasa disingkat menjadi Akber Bekasi, Saya bermimpi untuk memiliki website atau blog pribadi dengan domain berbayar, bukan yang gratisan. Oleh karena itulah, semalam saya ingin menjelajah internet untuk sedikit membaca artikel-artikel terkait dengan hal tersebut.

Ketika saya sedang membaca artikel terkait dengan tips mencari domain dan hosting gratis, dimana saat itu jam sudah menunjukkan sekitar jam 7 malam, tiba-tiba muncul popup dari gtalk. Refleks saja saya langsung berusaha melihatnya. Ternyata yang menyapa saya saat itu adalah Kakak Ipar saya.

“Rid, ente keilangan hp bb gak? Ada org yg telpon ke rumah”

Terkejutlah saya, ketika membaca pesan tersebut di chatroom gtalk. Sempat berpikir sejenak dengan sedikit bertanya-tanya di dalam hati. ‘Apakah HP Blackberry kepunyaan saya telah ditemukan?’ Memang HP Blackberry saya hilang saat malam rabu kemarin bertandang ke salah satu rumah sahabat di sekitaran Bintara, Bekasi Barat.

“iya, bang”
“masa?”

“terus?” Langsung saja saya memberondong kata-kata dan tanya kepada kakak ipar saya di seberang sana. Saat itu saya berada di posisi tingkat penasaran tertinggi.

“Telpon saja ke nomor BB yang hilang, dia mau balikin” Kakak Ipar saya melanjutkan.

Terkejut lagi saya mendengarnya hingga menyebabkan bulu halus pada kulit saya langsung ikut berdiri. Saya merinding, mendengarnya. Entah kenapa, saya bertanya-tanya dengan nada tidak percaya, ‘Apakah benar, masih ada orang yang baik? mau mengembalikan apa yang sudah ditemukan.’

Dengan masih memiliki rasa tak percaya, -takut, khawatir, dan merinding bulu kuduk,- saya langsung mengambil Tablet (sebuah gadget) untuk menghubungi nomor Blackberry saya.

Benar saja, ternyata seorang laki-laki yang diseberang telepon mengatakan niatnya untuk mengembalikan Blackberry saya. Pak Adi, begitu ia mengenalkan namanya, tinggal di Kranji, Bekasi. Ia mengatakan, sebenarnya yang menemukan BB saya itu bukan dirinya, melainka adalah Bapaknya yang sehari-hari memiliki kegiatan sebagai Tukang Ojek. Bapaknya menemukan BB saya ketika sedang melintas, dengan motor ojeknya, di daerah Bintara, Bekasi. Begitlah penuturannya Pak Adi di telepon.

Akhirnya, kami membuat janji pertemuan malam tadi juga. Kebetulan ia akan berangkat kerja menuju tambun sekitar jam 8 malam kurang, dan akan melintasi jalan Sudirman dan jalan Juanda. Kantor BTN-lah yang menjadi tempat pertemuan kami. Itu juga atas usulan beliau.

Sebelum berangkat, saya dan istri sedikit berdiskusi. Saya sampaikan niat saya untuk memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih. Istri saya pun menyetujuinya dan menyerahkan semua halnya kepada saya.

Tepat jam 8, kami akhirnya dipertemukan, saya dan Pak Adi. Ternyata benar dugaan saya, dia adalah seorang yang masih muda, terdengar dari suaranya di telepon. Mungkin umurnya sekitaran 28-30 tahun.

Kami bersalaman dan saling mengenalkan diri masing-masing. Beliau sedikit bercerita kembali mengenai awal mula ditemukan BB saya. Begitu juga saya berusaha menveritakan hal ihwal awal kehilangan BB saya.

Setelah kami saling bercerita. Untuk meyakinkannya saya adalah orang yang menelepon, dia meminta saya untuk kembali menelepon ke nomor BB saya. Saya lakukanlah. Tampaknya dia juga mulai yakin bahwa saya adalah benar-benar pemiliknya.

Blacberry sudah ditangan. Saya pun berniat menyampaikan hadiah sebagai ucapan terima kasih saya kepada beliau dan bapaknya. Ketika saya memberikan dan berusaha menjabat tanganya, kemudian dia menghindar, tidak ingin menerimanya. Saya semakin tidak enak ketika mendengar ucapannya, “Tidak usah Pak Farid, saya hanya ingin mengembalikan saja. Itu saja.”

Akhirnya kami berpisah. Ia menuju tempat kerjanya sedangkan saya kembali menuju rumah. Saat diperjalanan, banyak sekali pikiran-pikiran yang menggantung tentang kejadian ini. Tapi yang pasti, dan tak boleh kita lupa. Bahwasanya masih ada, bahkan mungkin banyak, orang yang memiliki hati dan perangai yang baik dikehidupan dewasa ini.

Akhirnya. Dan terakhir, saya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Pak Adi dan keluarga. Semoga mereka sekeluarga diberkahi dan diganjar balasan yang terbaik oleh Allah.

Puji syukur, Alhamdulillah. HP Blackberry saya pun ternyata, dan insya allah, masih menjadi rejeki saya. :D

 
1 Comment

Posted by on 10 January 2013 in Coretan, Other, Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Renungan Tahun Baru : sekarang, kita mulai lagi…!

Muhammad sang Nabi begitu bergetar ketakutan saat Sang ruhul kudus Jibril mendatanginya di sebuah gua yang sunyi. “IQRA….IQRA….” Sebuah perintah awal dari sang penyampai pikiran suci atau wahyu Tuhan…..

Itu sebuah awal. yah, itu adalah awal dari kerumitan yang harus ditanggung seorang pedagang dalam mencipta, mengatur, menjaga, dan memelihara suatu umat. Suatu awal yang begitu mencekam, namun akhirnya terlewati dengan sebuah kesungguhan hati. Meskipun sebuah awal itu tidak menjadikannya sebagai histori sebuah pertanggalan.

Sama halnya dengan Socrates, seorang “buruk rupa”, yang berasal dari sebuah polis besar penyumbang kebudayaan eropa dan dunia, Athena, ketika dia mulai berpikir tentang kebenaran-kebenaran yang mulai diselewengkan oleh para sophis di sekitar kota. Untuk memulai peperangan diskusi dengan para masyarakat yang telah terhipnotis oleh sophis-sophis – yang menjual ilmunya dengan sebuah atau beberapa logam perak hingga emas-, saya yakin ia sangat berat dan terbebani.

Dari awalnya sebuah keresahan, akhirnya dia sadar harus memulai peperangan itu. Dia mulai berjalan ke pasar-pasar, alun-alun kota, serta ke perkampungan hanya untuk mencari sebuah kebenaran melalui diskusi-diskusi filosofis. Sekali lagi, melalui diskusi-diskusi filosofis, bukan dengan suatu kekerasan. Itu adalah sebuah strategi menarik tawaran dari seorang filosof agung dalam memulai menghadapi sesuatu perbedaan. Walaupun akhirnya beliau dihukum mati, melalui racun, hasil putusan pengadilan tertinggi dikota itu. Tragis memang. Namun kita harus menghargai proses sebuah permulaan yang beliau hadapi dan akhirnya beliau berani untuk keluar dan berperang.

Socrates mungkin mirip dengan Isa al-Masih (bagi sebagian golongan), seorang utusan, bahkan banyak pula yang mengakuinya sebagai anak dari Tuhan. Ketika Tuhan memberikan Titahnya untuk menyampaikan pesan kebesaran dan ke-esa-an Tuhan. Sebuah tugas yang berat. Ketika diawali dari takdir yang menempel padanya, sebuah persalinan di sebuah kandang yang tidak biasa, serta tanpa adanya seorang pejantan yang mengakui pernah menghamili seorang Maryam, ibunya.

Memulai untuk menyampaikan wahyu dengan permusuhan dengan sebagian orang adalah suatu yang berat. Yah, itu adalah permulaan yang sangat berat. Namun dengan sebuah keyakinan dan kepasrahan total, ia berani untuk memulai sebuah tugas suci dari Tuhan, walaupun dengan sembunyi di hutan, mendaki pegunungan, serta masuk-keluar perkampungan, akhirnya permulaan yang berat itu terlewati. Banyak pula yang akhirnya simpatik dan menaruh kepercayaan padanya. Yah, permulaan telah terlewati, walaupun akhirnya (menurut sebagian orang) dia ditangkap, disiksa, dicaci-maki, dan dihukum salib di Golgota.

Sebuah permulaan memang terasa sulit. Apalagi jika kita terus saja melihat hari-hari lalu yang terasa sangat buruk.

Saya sebagai rakyat indonesia, sebagai anak manusia, dan sebagai khalifah di bumi ingin mengajak kita untuk bangkit dan memulai. Yah, memulai berlaku baik dan membawa firman Tuhan untuk sebuah tahun yang baru meski dengan bayangan kobobrokan. Permulaan memang berat, namun… Sekarang, kita mulai lagi…

 
 

Tags: , , , , , , ,

Lionel Messi Pemain Terbaik Dunia 2012

Setelaah sekian lama didengung-dengungkan, akhirnya semalam kembali tercataat sebuah sejarah dalam dunia sepaak bola.

Leo Messi, kembali menjadi pemain terbaik dunia untuk tahun 2012. Raihan ini adalah untuk yang keempat kalinya, setelah sebelumnya secaraa beruntun sejak tahun 2009, ia juga mendapatkannya.

Berikut ini saya kumpulkan beberapa berita terkait dengan prestasi Lionel Messi tersebut,

Zurich -Siapa yang menjadi Pemain Terbaik Dunia 2012 terjawab sudah. Dia adalah bintang Barcelona dan tim nasional Argentina, Lionel Messi.

Messi dijagokan untuk meraih gelar tersebut bersama dua kandidat lainnya, bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, dan gelandang top Barca, Andres Iniesta. Dan pada akhirnya Messi-lah yang keluar sebagai pemenang.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh kapten tim nasional Italia saat menjuarai Piala Dunia 2006, Fabio Cannavaro, dalam acara yang berlangsung di markas FIFA di Zurich, Selasa (8/1/2013) dinihari WIB.

Messi memenangi gelar itu setelah unggul dalam persentase voting. Ayah dari Thiago ini memenangi 41,60% suara, mengungguli Ronaldo yang mendapatkan 23,68% suara dan Iniesta yang mendapatkan 10,91% suara.

Dengan demikian Messi sudah memenangi gelar tersebut empat kali, dan keempatnya diraih secara berurutan. Sebelum ini, dia sudah memenanginya pada tahun 2009, 2010, 2011, dan 2012.

“Sejujurnya, sulit dipercaya bisa memenangi penghargaan ini untuk keempat kalinya secara berurutan,” ucap Messi ketika menerima penghargaan itu.

Sebagai catatan tambahan, Messi juga sudah menorehkan catatan lainnya pada tahun 2012 lalu, yakni mencetak 91 gol bersama klub dan tim nasional.

http://m.detik.com/sepakbola/read/2013/01/08/020442/2135674/73/lionel-messi-pemain-terbaik-dunia-2012

—–

Jakarta -Ballon d’Or yang diraih Lionel Messi tahun ini membuat dia sudah empat kali merebut penghargaan tersebut. Jadi orang pertama yang mampu melakukannya, pesepakbola asal Argentina itu melangkahi Michel Platini.

Messi kembali menyingkirkan Cristiano Ronaldo dan Andres Iniesta dalam persaingan memperebutkan status pemain terbaik dunia. Dari polling yang dilakukan terhadap kapten dan pelatih negara seluruh anggota FIFA, Messi mengumpulkan 41,60% suara sementara Ronaldo dapat 23,68% dan Iniesta meraih 10,91%.

Buat Messi ini adalah kali keempat secara beruntun dia memenangi Ballon d’Or. Sepanjang sejarah penghargaan tersebut, Messi adalah orang pertama yang bisa meraihnya sampai empat kali.

Rentetan keberhasilan meraih Ballon d’Or terbanyak sebelumnya juga dipunya Platini, yang mendapatkannya tiga kali berturut dalam selamg tahun 1983 sampai 1985. Sebagai catatan, saat itu Ballon d’Or merupakan penghargaan pemain terbaik di Eropa.

Johan Cruyff dan Marco van Basten juga pernah tiga kali memenangi Ballon d’Or, tapi eks bintang Belanda itu tidak secara beruntun memenanginya. Cruyff meraihnya di tahun 1971, 1973 dan 1974, sementara Van Basten memenanginya di tahun 1988, 1989, 1992.

http://m.detik.com/sepakbola/read/2013/01/08/035039/2135685/73/quat-trick-ballon-dor-messi-langkahi-platini

—–

Zurich -Kesuksesan Lionel Messi menjadi Pemain Terbaik Dunia 2012 mengundang pujian dari banyak pemain. Bahkan ada yang menyebut, FIFA harus menciptakan trofi baru untuknya.

Dalam acara penganugerahan di markas FIFA di Zurich, Selasa (8/1/2013) dinihari WIB, Messi menjadi yang terbaik setelah memenangi 41,60% suara, mengungguli Cristiano Ronaldo yang mendapatkan 23,68% suara dan Andres Iniesta yang mendapatkan 10,91% suara.

Dengan demikian, Messi sudah memenangi penghargaan tersebut empat kali, dan keempatnya didapat secara berurutan dari tahun 2009 hingga 2012. Wajar kalau kemudian apresiasi dan pujian datang dari pesepakbola lainnya. Salah satunya adalah Louis Saha yang menulis melalui akun Twiter-nya.

“FIFA harus menciptakan trofi baru buat Messi, jika dia memenanginya lagi. Ballon de Diamant (Bola Berlian, red). Selamat untuknya,” tulis Saha, yang kemudian di-retweet oleh akun Twitter FIFA.

Rio Ferdinand juga tidak ketinggalan. Bek Manchester United itu menulis, “Selamat untuk Messi! Wow, empat tahun berurutan!! Messi menambah satu lagi ke daftar ‘Satu-satunya orang yang..’ miliknya. #IsMessiTheBestOfAllTime??”

Javier Mascherano dan Samir Nasri juga memberikan ucapan selamat. Mascherano bahkan memberikan selamat untuk rekan satu timnya yang lain, Andres Iniesta.

“Selamat untuk Leo karena terus menciptakan sejarah dalam olahraga ini. Begitu juga untuk Andres, karena dia adalah pemain yang luar biasa,” tulis gelandang asal Argentina itu.

http://m.detik.com/sepakbola/read/2013/01/08/032956/2135682/73/fifa-harus-ciptakan-trofi-baru-buat-messi

 
Leave a comment

Posted by on 8 January 2013 in Coretan, Other, Uncategorized

 

Tags: , , , , ,

Belajar Dari Sekeliling Kita

Saat lari pagi bersama teman-teman, saya didatangi oleh seorang wanita. Nampak ia membawa sebuah buku. Dari gelagatnya sepertinya wanita ini ingin menawarkan sebuah buku yang berada di tangannya itu. Yah, seorang sales wanita dengan warna pakaian persis sama dengan bukunya. Ternyata ia adalah tim sukses atas penerbitan buku itu. Begitu akunya. Dia khusus mendatangi saya, padahal saya sedang bersama teman-teman yang lain saat itu.

Wanita itu menawarkan sebuah buku motivasi untuk menjadi orang sukses. Dengan berbagai cara ia menjelaskan dan menceritakan buku itu. Akhirnya, saya langsung meminta wanita itu untuk menyimpulkan bukunya dengan kalimat yang singkat. Dan ia menjawab dengan mencari kalimat yang tepat untuk menggambarkan singkat buku itu, “Ku tahu yang ku mau!” Entah maksudnya apa(?).

Wanita itu bilang kepada saya bahwa buku itu menjelaskan seberapa pentingnya kita belajar dari orang-orang besar. Entah mengapa saya tertarik untuk berpikir menyalahkan persepsinya, mungkin tepatnya persepsi dari buku itu. Padahal kalau saja wanita itu tahu, saya banyak belajar darinya.

Bagaimana ia begitu kuat dan ulet ketika ia berusaha menjual buku itu kepada beragam orang dan bagaimana pandainya ia berbicara dengan santun juga kepada setiap orang yang ditemuinya, termasuk saya. Dan itu terbukti saya bisa mengambil pelajaran bukan dari orang-orang besar saja.

Saya jadi teringat juga dengan perkataan teman saya di suatu malam saat kita berdiskusi masalah arti sukses di sebuah warung makan nasi goreng di kawasan selatan Jakarta. Kebetulan dia adalah seorang penjaga toko. Dia bilang kepada saya bahwa seharusnya ia banyak belajar kepada orang-orang hebat untuk menjadi pribadi yang sukses. Ia malu pada keadaan dirinya. Ia merasa malu karena teman-temannya telah banyak yang, menurutnya, telah sukses dengan pekerjan yang layak. Sedangkan ia belum.

Pendapat itu ada benarnya, namun saya tidak sepenuhnya setuju. Menurut saya, kita bisa belajar dari siapa saja, tidak terkecuali dari seorang pengamen jalanan atau tukang koran dijalan atau bahkan dari anak kecil sekalipun. Dan saya tak habis pikir kenapa sales wanita dan teman saya itu tidak berpikir sama dengan saya bahwa kita tidak mesti selalu belajar dari orang-orang besar, toh dari orang-orang lemah pun kita bisa banyak mengambil pelajaran.

Ternyata jelas mengapa mereka dan saya berbeda pendapat. Hal itu karena sukses menurut mereka adalah sebuah materi yang banyak dan berlimpah. Menurut mereka kesuksesan itu berarti uang banyak, rumah besar, mobil mewah, pekerjaan layak dan lain sebagainya. Sedangkan menurut saya sukses itu sangat erat kaitannya dengan “kekayaan hati”. Ketika saya merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang saya punya itu berarti kesuksesan saya.

Sebenarnya yang harus mereka dan saya pelajari adalah bagaimana caranya bisa senang dan bersyukur dengan apa yang dimiliki. Keadaan bersyukur disini bukan berarti kita harus puas dan tidak perlu meningkatkannya. Karena agama, sejalan dengan sosial-budaya, memerintahkan kita untuk selalu ikhtiar dalam hidup, baik ikhtiar yang sifatnya mengumpulkan materi maupun ikhtiar yang sifatnya menguatkan hati.

Saya jadi ingat ketika seorang sahabat, yang sangat dekat dan mengenal saya, tiba-tiba menegur bahwa seharusnya saya banyak belajar dari anak-anak kecil. Saat itu saya tidak tahu apa maksud dari perkataannya itu. Ketika saya tanyakan maksud dari kalimatnya itu, dia hanya menjawab nanti kamu juga akan mengerti. Dan ketika saya pikirikan, ternyata anak kecil itu sangat ikhlas, tulus, total dan jujur dalam melakukan sesuatu. Sangat berbeda dengan saya yang masih sering tidak tulus dan jujur dalam bertindak. Ternyata saya belum sukses dalam hidup. Mungkin saya cukup dalam meteri, tapi tidak dengan hati.

so, yuk mari kita belajar terus dari sekeliling kita.

 
1 Comment

Posted by on 1 January 2013 in Coretan, Other, Serial-Motivasi

 

Tags: , , , ,

Emmy Suparka : Profesor Geologi Wanita Indonesia Pertama

image

“Sekarang ilmu geologi berkembang sangat
pesat, mulai dari analisis inderaja, pemodelan,
hingga simulasi komputer. Tetapi menurut saya
setiap mahasiswa geologi harus mengetahui
ilmu dasar geologi; dan itu, selain dipelajari di
bangku kuliah, juga diperoleh di lapangan.”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Profesor
Dr. Ir. Emmy Suparka seorang pakar geologi
yang mendapat anugrah profesornya tahun
2001. Beliau merupakan profesor perempuan
geologi pertama di Indonesia, sekaligus profesor
perempuan pertama bidang teknik di Institut
Teknologi Bandung (ITB).

Antara tahun 1960 -1970an, ketika bidang
geologi mulai berkembang di Indonesia dan
masih didominasi oleh kaum laki-laki, Emmy,
perempuan kelahiran Denpasar, Bali, 17 April
1948 itu memantapkan dirinya memilih Jurusan
Geologi yang justru tidak diminati kaumnya.
Setamatnya dari sekolah menengah di
Yogyakarta, ia tertarik memilih Jurusan Geologi
karena beberapa hal.

Antara lain karena ahli geologi dinilainya masih
kurang di Indonesia, terutama perempuan yang
masih bisa dihitung dengan sebelah jari. Selain itu,
ketertarikannya pada Geologi karena ada nuansa yang
menantang dengan ilmu Geologi.

Apa itu Geologi? Seperti kebanyakan ketertarikan awal
pemilihan Jurusan Geologi, Emmy pun berharap
jika kuliah di Geologi, ia dapat meneruskan
kesenangannya terhadap traveling, bepergian
melihat hal yang baru, melihat alam dan banyak
hal.

Dalam wawancara kami, tiba-tiba Emmy tertawa
dan ia berujar, “ada hal yang tidak bisa saya
lupakan ketika mengikuti testing masuk ITB
Jurusan Geologi, tahun 1965. Ketika saya mau
memasuki ruangan tempat ujian, saya dicegat
oleh pengawas dan mengatakan ini untuk
Jurusan Geologi. Mbak salah ruangan, kata
pengawas. Saya yakinkan bahwa saya tidak
salah ruangan dengan memperlihatkan kartu
ujian.” Ini gambaran betapa tidak populernya
Jurusan Geologi di kalangan perempuan pada
saat itu. “Tahun 1965 hanya ada dua mahasiswi
yang masuk di Jurusan Geologi ITB, yaitu saya,
dan Eti Nuay yang merupakan perwakilan dari
daerah,” lanjutnya mengenang masa awal
kuliah.

Menurut Emmy, ada kesenjangan informasi yang
sampai kepada masyarakat tentang geologi.
Pada umumnya masyarakat memahami bahwa
geologi adalah ilmu yang berkaitan dengan
gunung dan hutan. Padahal tidak demikian.
Itulah sebabnya para orang tua kurang
merespon keinginan putera-puterinya untuk
mengambil jurusan ini. Sekarang sudah
memadai, informasi tentang Geologi sudah
diterima oleh masyarakat sebagaimana adanya.

Seiring berlalunya waktu, tiba saatnya memilih
spesialisasi. Emmy semula tertarik dengan fosil.
Jazad renik itu bisa membawa kepada khayalan
ribuan bahkan jutaan tahun silam. Tetapi di
bawah mikroskop, rupanya menurut Emmy, fosil
itu dibolak-balik bentuknya sama saja tidak
berubah. Hal itu berbeda dengan melihat
sayatan batuan di bawah lensa mikroskop.
Berubah posisi lensa, berbagai bentuk dan
warna muncul dan tentu menghasilkan berbagai
imajinasi dan interpretasi. Bagi Emmy hal ini
menarik dan menantang. Akhirnya Emmy
memilih petrologi sebagai spesialisasinya. Sekali
lagi anak kedua dari delapan bersaudara ini
membuat teman-temannya bergumam, “Emmy
memilih hard rock?” ujar mereka tidak percaya.

Made Emmy Relawati, nama gadisnya, adalah
anak kedua dari delapan bersaudara dari
pasangan Putu Badjre Kusumaharta (alm) dan
Nyoman Resike. Ketika usia Emmy sepuluh
tahun, mereka pindah dari Denpasar ke
Yogyakarta. Ia kemudian menyelesaikan sekolah
dasarnya di SD Bopkri pada 1959, lulus tingkat
SLTP di SMP Negeri II pada 1962, serta tingkat
SLTA di SMA Stella Duce pada 1965, seluruhnya
di Yogyakarta. Ayahnya seorang wiraswasta yang
berhasil dan memberikan kebebasan serta
kepercayaan penuh kepada putera-puterinya
untuk memilih masa depannya. Dari delapan
bersaudara hanya Emmy yang menjadi pegawai
negeri, lainnya mengikuti jejak ayahnya sebagai
pengusaha.

Sebagai mahasiswi di sarang mahasiswa tidak
membuat Emmy dan Eti merasa jengah atau risi.
Karena mereka minoritas, dua mahasiswi ini
selalu mendapatkan perlindungan dan prioritas
dari rekan-rekannya para mahasiswa, bahkan
dosen. Setiap ada event penting mengenai
geologi, mereka selalu diajak ikut serta dan itu
menambah pengalaman di lapangan.

Ada dua peristiwa penting yang tidak dapat
dilupakan oleh Emmy. “Pertama, saat saya
keluar dari ruangan sidang ujian sarjana, saya
tiba-tiba diserang rasa haru dan terdiam di
depan pintu. Betapa beban berat yang saya lalui
selama ini telah lepas. Tuhan, terima kasih, ucap
saya dalam hati. Teman-teman ikut diam dan
menyangka saya tidak lulus. Saat salah seorang
dosen penguji keluar mengucapkan selamat,
saya lulus dengan predikat terbaik (cum laude),
teman-teman saya baru bergembira.”

“Kedua, ketika kalimat terakhir dari disertasi
saya selesaikan. Saya merasa sangat terharu,
betapa perjuangan panjang ini sudah saya lalui
dengan baik.” Ada genangan air yang tidak
tumpah di pelupuk mata Emmy mengenang
masa indah itu. Emmy menyelesaikan sarjana
Geologi dari ITB tahun 1973 dan program
doktor sandwich di Laboratoire de Geochime et
Cosmochimie, di Universite de Paris IV, Prancis
pada tahun 1988.

Selepas sarjana, Emmy memilih menjadi dosen
dengan pertimbangan bahwa dapat mengatur
waktu antara bekerja dan mengurus keluarga. Ia
tercatat menjadi dosen di almamaternya sejak
1976. Dengan menjadi dosen, ilmunya bisa
berkembang dan bisa berbagi ilmu dengan
orang lain.

Emmy menikah dengan “kakak kelasnya”
Suparka, sarjana Geologi ITB angkatan 1962
yang sekarang telah pensiun dari Pusat
Penelitian Geoteknologi LIPI dengan gelar
terakhir profesor riset. Pada saat kami
menanyakan mengapa memilih Pak Suparka
menjadi pendamping hidup, “Sederhana. Pak
Suparka memilih saya,” jawabnya. “Alasan lain,
karena Suparka banyak membimbing, bukan
hanya dalam ilmu Geologi, tetapi juga memberi
wejangan dan semangat. Hidup berdampingan
dengan orang yang satu profesi memudahkan
saya untuk bekerja. Tidak banyak pertanyaan
mengapa dan kenapa karena pasti tahu apa
yang saya kerjakan,” ujarnya lebih lanjut. Mereka
dikaruniai seorang putera yang sekarang
menetap di Australia.

Pengalaman pertama kali mengajar adalah
ketika menggantikan Prof. Rubini Soeria-
Atmadja (almarhum) di Universitas Trisakti,
Jakarta. Saat masuk kelas para mahasiswa
mengira Emmy adalah sekertaris Pak Rubini dan
datang hanya untuk menyampaikan permintaan
maaf karena beliau tidak bisa mengajar. Para
mahasiswa yang pada mulanya mencoba
menggoda dengan bersiul dan bersuit, alangkah
kagetnya, ternyata Emmy datang untuk
memberikan kuliah menggantikan Pak Rubini
yang berhalangan datang. “Ini pengalaman
pertama, dan saya berhasil melaluinya dengan
baik. Mahasiswa hormat apabila kita hormat,”
ucap Emmy.

Berdiri di depan kelas menghadapi mahasiswa
yang rata-rata laki-laki tidak membuat Emmy
grogi atau demam panggung. Boleh jadi karena
sejak usia 10 tahun sudah terbiasa menghadapi
publik dengan menari di atas panggung.
Demikian cintanya pada tari Bali, ketika sudah
tinggal di Yogyakarta pun setiap liburan selalu ke
Bali untuk latihan menari di Sanggar Naryo.
Selain tari Bali, selama di Yogyakarta ia juga
belajar tari Jawa dari Bagong Kusudiarjo. Di
Bandung pun, tari Sunda ia pelajari juga.

Pengalamannya sebagai penari membawa
Emmy tidak saja sebagai ahli geologi perempuan
dan profesor Geologi di Indonesia, tetapi seolah-
olah Geologi ikut menari bersamanya. Salah satu
peristiwa penting di antaranya ketika Emmy
memberikan kado istimewa sebagai
penghormatan kepada profesor pembimbingnya
pada saat peluncuran buku di Prancis dengan
menampilkan tarian Bali. Sejak penampilan itu,
Emmy menjadi dikenal dan dibicarakan oleh
banyak kalangan di lingkungan kampus
Universite de Paris IV. Bahkan saat sudah
menjadi anggota senat guru besar di ITB pun,
Emmy masih berkesempatan untuk menari.

Penampilannya yang terakhir sebagai penari di
depan publik adalah ketika acara penyerahan
gamelan oleh Gubernur Bali kepada Rektor ITB
pada awal tahun 2000an. Rekannya sesama
anggota senat guru besar seolah tidak percaya
dengan penampilan yang memukau itu
dibawakan oleh seorang profesor Geologi.

Di beberapa kampus ada perkumpulan yang
bersifat kedaerahan yang digagas oleh
mahasiswa. Dalam acara tertentu mereka
menampilkan kesenian daerah, atau sekedar
melepas rindu kampung halaman. Emmy
termasuk salah seorang akitivis perkumpulan
mahasiswa Bali Maha Gotra Ganesha, bersama
juga antara lain Bapak Jero Wacik, Menteri ESDM
saat ini. Selain di unit kesenian, keaktifannya
sebagai mahasiswa di ITB di antaranya juga
adalah menjadi anggota Mahawarman dan
bergabung di EH-8 Radio ITB.

Dosen geologi yang masih aktif ini dalam
usianya yang sudah kepala enam tetap terlihat
sangat energik. Satu hal yang tidak pernah lalai
dilakukan adalah jalan pagi. “Setiap hari saya
harus berjalan minimal satu jam,” ujarnya.
Selain itu hobi Emmy adalah membaca dan
mengurus tanaman. “Tetapi tanaman yang
mudah cara pengurusannya,” ujarnya.

Saat ditanyakan tentang idola, Emmy tampak
menerawang. “Saya hanya mengidolakan ibu
saya. Beliau tidak hanya mengerti saya, tetapi
memberikan senyum ketika saya berhasil dan
memberikan motivasi ketika saya sedang gagal
dan gundah. Ibu saya adalah orang yang sangat
istimewa,” katanya mantap. Sekarang ini ibunya
tinggal bersama salah seorang puteranya di
Jakarta pada usia 84 tahun dan masih sehat.
“Tapi saya mendapat pelajaran pertama tentang
hidup mandiri dan bertanggung jawab dari ayah
saya,” tambahnya kemudian.

Karirnya sebagai pegawai negeri sudah di ujung
jalan, dua tahun lagi Emmy memasuki masa
pensiun. Selama masa baktinya di ITB, Emmy di
antaranya pernah menduduki jabatan Ketua
Departemen Teknik Geologi dalam dua kali
masa jabatan, yaitu 1992- 1995 dan 1996-1998.
Ia kemudian menjadi Kepala Penerbit ITB 1998-2000.
Pada 2000-2005, Emmy terpilih menjadi dekan Fakultas
Teknologi Mineral (FTM) untuk selanjutnya ditarik ke
rektorat sebagai Wakil Rektor Bidang Riset,
Inovasi, dan Kemitraan merangkap Ketua LPPM
ITB dari 2005 hingga 2008. Saat ini Emmy aktif
sebagai ketua Kelompok Keilmuan Geologi selain
sebagai wakil kepala salah satu unit usaha di
ITB.

Meskipun dengan segala kesibukannya, hingga
kini masih banyak mahasiswa bimbingannya,
terutama mahasiswa S2. Beberapa di antaranya
datang dan memohon agar dibimbing oleh
Emmy. Ketika kami menanyakan kenapa mereka
begitu antusias memilih Ibu, jawabannya
singkat, “mereka tidak diperlakukan sebagai
mahasiswa semata, tetapi adalah bagian dari
keluarga saya. Jadi mereka saya targetkan harus
berhasil dengan gemilang”.

Tidak sedikit di antara “bekas mahasiswanya”
masih meminta nasehat atau sekedar curhat
tentang apa saja kepada Emmy meskipun
mereka sudah berada jauh di tempatnya
bekerja. “Banyak dari anak bimbingan saya yang
sudah bekerja di tempat yang jauh, setiap
berkunjung ke Bandung selalu mampir menemui
saya, sekedar say hallo. Ini sangat menyenangkan,
ada silaturahim yang sinambung,” ujar bu Emmy.

Sebagai seorang ilmuwan Emmy sudah
mencapai puncak dengan meraih gelar profesor.
Sebagai dosen sudah pada jenjang anggota
senat guru besar dan pernah menjabat Ketua
Jurusan Geologi, ITB. Adakah obsesi yang belum
tercapai? Ketika kami menanyakan hal tersebut,
Emmy dengan tegas mengatakan, “saya tidak
punya target. Sebagai hamba Tuhan, saya tidak
boleh tinggalkan shalat dan kewajiban lainnya
sebagai seorang ibu rumah tangga dan anggota
masyarakat. Sejak muda saya ingin mengajar.
Bahkan ketika saya masih mahasiswi saya
pernah mengajar menari pada anak-anak di RT
tempat saya tinggal. Pada hakekatnya saya ingin
mengabdi.”

Pesannya kepada kaum perempuan, terutama
yang memilih menjadi ahli geologi, “jangan
pernah berhenti belajar, harus berperan aktif
dan percaya diri. Banyak yang bisa dilakukan
oleh perempuan, bahkan banyak pekerjaan yang
menanti karena perempuan lebih telaten.”
Menurutnya, persoalan Geologi di masa depan
selain masalah eksplorasi untuk energi, juga
adalah masalah lingkungan hidup secara umum,
dan untuk semua itu, ahli geologi perempuan
akan mempunyai andil yang sangat besar

 
7 Comments

Posted by on 8 April 2012 in Other

 

Tags:

Wanita Berilmu

Betapa pentingnya wanita berilmu. Karena seorang perempuan adalah seorang ibu. Dan dari panduan seorang ibulah nasib generasi berikutnya ditentukan.

Aisyah, adalah salah satu sosok ideal seorang perempuan muslimah: optimis, pekerja keras, cerdas, berakhlak dan berilmu tinggi. Beliau tidak hanya menjadi tempat bertanya bagi sesama wanita, tapi juga kalangan Sahabat Nabi yang laki-laki. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Al-Ishabah fi Tamyiz as-Sahabah (8/18) meriwayatkan kisah Abi Musa yang bercerita tentang Aisyah bahwa beliau selalu dapat memberi jawaban memuaskan atas setiap persoalan keilmuan yang ditanyakan padanya.

Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar al-A’lam an-Nubala’ (2/179-189) mengutip ucapan Imam Zuhri yang mengatakan, “Seandainya ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh orang alim dan ilmu semua wanita muslimah, niscaya ilmu Aisyah lebih utama.” Singkatnya, Aisyah adalah salah seorang ulama tersohor pertama Islam.

Keilmuan Aisyah yang mengundang decak kagum kalangan Sahabat ternama bukanlah isapan jempol untuk sekedar menyenangkan seorang istri Nabi. Faktanya, dalam bidang hadits, ribuan hadits memang berasal dari riwayat Aisyah. Bagi kita yang hidup 1375 tahun setelah wafatnya, beliau meninggal dunia pada tahun 58 hijriah, banyak hal yang dapat diambil pelajaran dari keberhasilan Aisyah menjadi seorang ulama wanita.

Pertama, optimisme. Beliau menikah dengan Nabi dalam usia yang masih sangat muda, yakni antara 9 atau 12 tahun. Itu artinya, keilmuan beliau saat itu boleh dikatakan masih nol. Namun, kenyataan itu tidak membuat beliau berkecil hati. Pernikahan bukanlah akhir pencarian ilmu. Bagi Aisyah, pernikahannya justru menjadi awal pembelajaran dalam berbagai bidang, termasuk bidang keilmuan. Kehidupan berumahtangga tidak dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dalam menuntut ilmu. Kesibukan dan dinamika berkeluarga bukan alasan untuk tidak belajar. Seorang yang optimis adalah yang selalu pantang menyerah pada keadaan yang bagaimanapun sulitnya.

Kedua, mencintai ilmu. Seseorang yang mempelajari suatu ilmu akan lebih cepat paham dan mudah mengerti apabila dia menyenangi apa yang dipelajari. Dengan menyenangi, maka dia akan menikmati sehingga dapat melakukannya dengan sepenuh hati. Mencintai ilmu mungkin sulit pada awalnya, tapi saat seorang sudah merasakan indahnya ilmu dan eloknya membagi ilmu yang dimiliki dengan orang lain, maka dia akan kecanduan untuk terus meningkatkan kapasitas keilmuannya.

Ketiga, rendah hati. Aisyah memiliki dua kelebihan yang patut dibanggakan: pintar dan menjadi istri Nabi. Dua kelebihan yang menempatkannnya dalam posisi yang sangat tinggi dan mulia. Namun, hal itu tidak membuatnya arogan. Beliau tetap menjadi ummul mukminin yang rendah hati. Yang selalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar kepada siapapun yang hendak menimba ilmu padanya.

Keempat, kemauan keras. Banyak wanita yang setelah menikah lupa untuk menambah ilmunya karena lebih memikirkan materi dan fikirannya disibukkan dengan urusan suami dan anak. Padahal, saat ini mencari ilmu bagi wanita jauh lebih mudah dibanding pada era Aisyah dulu. Sekarang, seseorang dapat menambah wawasan keilmuannya melalui berbagai cara. Seperti, membaca buku dan majalah, membacara melalui internet, menonton program pengajian di TV, bersilaturrahmi pada ulama, dan lain-lain. Yang diperlukan adalah kemauan keras untuk belajar.

Kelima, niat yang benar. Mencari ilmu harus diniati untuk ibadah dan perintah Allah (QS Al Mujadalah 58:11 ). Karena kualitas iman, kualitas amal, kualitas dalam mendidik anak dan kualitas dalam berinteraksi dengan suami akan sangat tergantung kepada kualitas keilmuan kita. Baik ilmu umum, dan terutama ilmu agama (QS At Taubah 9:129).[]

disalin dari http://afatih.wordpress.com/2012/03/30/wanita-berilmu/

 
Leave a comment

Posted by on 7 April 2012 in Other

 

Tags:

Rahmah El-Yunusiyah: Perintis Sekolah Wanita Islam di Indonesia R

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh Nidia Zuraya

Sosok pejuang wanita ini juga dikenal memiliki prinsip dan sikap yang teguh.

Era sebelum kemerdekaan bisa dikatakan sebagai masa ketidakberpihakan terhadap kaum perempuan di Nusantara dalam bidang pendidikan. Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia pada masa itu, sikap apriori terhadap perempuan yang bersekolah masih menjadi fenomena utama dalam kehidupan sehari-hari.

Pada zaman itu ada semacam kepercayaan yang tumbuh di masyarakat bahwa sehebat dan secerdas apapun seorang perempuan, pada akhirnya kodrat dan takdir perempuan akan kembali pada kehidupan rumah tangga yang hanya mengurusi urusan dapur (memasak), sumur (mencuci), dan tempat tidur (seks).

Anggapan demikian juga dianut oleh masyarakat matrilinial sekalipun, seperti Sumatra Barat. Hal ini pula yang agaknya mengusik nurani seorang Rahmah El-Yunusiyah. Rahmah merupakan satu dari sedikit perempuan di Sumatra Barat pada zaman pra-kemerdekaan yang menolak anggapan seperti itu.

Bagi Rahmah, perempuan memiliki hak belajar dan mengajar yang sama dengan kaum laki-laki. Bahkan dibandingkan laki-laki, perempuan juga mampu memiliki kecerdasan yang tak kalah hebat. Persoalannya, hanya terletak pada akses pendidikan. Jauh sebelum Indonesia merdeka, sistem pendidikan di Nusantara memang masih sangat jauh dari yang diharapkan dan kaum perempuan belum memiliki akses pendidikan yang sama dengan laki-laki.

Menurut Rahmah, seorang perempuan sekalipun hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, tetap memiliki tanggung jawab sosial atas kesejahteraan masyarakat, agama, dan tanah airnya. Tanggung jawab itu, kata dia, dapat diberikan melalui pendidikan, baik di lingkungan keluarga (domestik) maupun di sekolah (publik).

Nama Rahmah El-Yunusiyah bagi banyak kalangan di Indonesia barangkali masih terkesan asing. Begitu juga kiprahnya dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan Indonesia mungkin tidak segaung perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini. Namun, kontribusinya dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan di Tanah Air tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dilahirkan di Padang Panjang, Sumatra Barat, pada 29 Desember 1900 dan wafat pada 26 Februari 1969. Rahmah berasal dari keluarga terpandang dan religius. Ia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Syekh Muhammad Yunus dan Rafi’ah.

Ayahnya adalah seorang qadhi (hakim agama) di wilayah Pandai Sikat yang juga ahli dalam ilmu falak. Kakeknya adalah Syekh Imaduddin, ulama terkenal Minangkabau dan tokoh Tarekat Naksyabandiah.

Selama hidupnya, Rahmah tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Mula-mula ia mengenyam pendidikan dari ayahnya, namun hanya sebentar karena sang ayah meninggal ketika ia masih sangat muda. Sepeninggal sang ayah, Rahmah kemudian mendapat bimbingan langsung dari kakak-kakaknya yang ketika itu telah dewasa.

Kemampuannya dalam membaca dan menulis Arab dan Latin diperoleh dari kedua orang kakaknya, Zainuddin Labay El-Yunusy dan Muhammad Rasyad. Ia kemudian belajar ilmu agama pada sejumlah ulama terkenal Minangkabau. Di antara para ulama yang pernah menjadi gurunya adalah Haji Abdul Karim Amrullah (ayahanda Buya Hamka), Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim (pemimpin sekolah Thawalib Padangpanjang), Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Abdul Latif Rasjidi, dan Syekh Daud Rasjidi.

Selain ilmu keislaman, Rahmah juga mempelajari ilmu kesehatan (khususnya kebidanan) dan keterampilan-keterampilan wanita, seperti memasak, menenun, dan menjahit. Kelak ilmu yang diperolehnya ini diajarkannya kepada murid-muridnya di sekolah yang didirikannya, Diniyah Puteri.
Seorang pejuang

Di samping sebagai pendidik, Rahmah juga seorang pejuang. Dalam Ensiklopedia Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH) disebutkan bahwa Rahmah merupakan orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di sekolahnya setelah mendengar berita proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Semasa revolusi kemerdekaan, ia dipenjarakan Belanda dan baru dibebaskan tahun 1949 setelah pengakuan kedaulatan. Hingga tahun 1958, ia aktif di bidang politik. Ia antara lain menjadi anggota KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah) Sumatra Tengah, ketua Barisan Sabilillah dan Sabil Muslimat di Padang, dan anggota Konstituante mewakili Masyumi. Peranannya yang paling menonjol adalah kepeloporannya dalam pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada tanggal 2 Oktober 1945.

Sosok pejuang wanita ini juga dikenal memiliki prinsip dan sikap yang teguh. Ketika Belanda menawarkan diri untuk membantu sekolahnya dengan subsidi penuh dengan syarat Diniyah Puteri menjadi lembaga yang berada di bawah pengawasan Belanda. Namun, syarat tersebut ia tolak dengan tegas.

Demikian juga ketika kaum komunis memerahkan lapangan Bancah Laweh, Rahmah pun dengan berani sehari kemudian, memutihkan kota Padang Panjang untuk menghadang manuver pihak komunis. Karena sikapnya yang tidak sependapat dengan Presiden Pertama RI, Soekarno, yang dinilainya telah melenceng dari demokrasi terpimpinnya dan kedekatan dengan pihak komunis, membuat dirinya dikucilkan.

Seluruh hidupnya diabdikan untuk pendidikan kaum perempuan. Rahmah El-Yunusiyah memang memiliki cita-cita agar wanita Indonesia memperoleh kesempatan penuh untuk menuntut ilmu yang sesuai dengan kodrat wanita, sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mendidik kaum wanita Indonesia agar sanggup berdikari untuk menjadi ibu pendidik yang cakap, aktif, dan bertanggung jawab kepada kesejahteraan bangsa dan tanah air, di mana kehidupan agama mendapat tempat yang layak. Cita-cita dan tujuannya ini dirumuskannya dalam tujuan pendirian Diniyah Puteri.

Cikal bakal Diniyah Puteri bermula dengan dibentuknya Madrasah li Banat (sekolah untuk puteri) pada 1 November 1923. Pendirian sekolah khusus perempuan pada masa itu bukanlah hal mudah. Kendala utama yang dihadapi adalah cemoohan dari masyarakat. Bagi banyak kalangan saat itu, sekolah perempuan dengan tenaga pengajar yang juga perempuan merupakan hal aneh, tabu dan melanggar adat.

Untuk menampik ejekan ini Rahmah membuktikan dengan menampik bantuan dari masyarakat (yang masih memandang miris perempuan) dan menggunakan cara sendiri untuk membangun sekolah. Bahkan, ia merelakan rumahnya dijadikan sebagai ruang kelas.

Selama dua tahun pertama, cara belajar yang diterapkan di sekolah ini menggunakan sistem halaqah seperti yang diterapkan di Masjidil Haram, yakni para murid duduk di lantai mengelilingi guru yang menghadap meja kecil. Lambat laun sekolah ini memiliki gedung sendiri.

Berdirinya gedung ini sepenuhnya berasal dari kemauan keras para perintisnya dan simpati masyarakat. Gedung pertama Diniyah Puteri, misalnya, dibangun dari batu kali yang diangkut sendiri oleh para guru dan murid Diniyah Puteri dan murid sekolah-sekolah lain yang ada di Padang Panjang.

 
Leave a comment

Posted by on 7 April 2012 in Other

 

Tags:

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 427 other followers

%d bloggers like this: