RSS

Category Archives: FikSi

FikSi adalah kepanjangan dari (FIK)si (SI)ngkat. Kategori ini adalah kumpulan fiksi-fiksi belaka yang dikemas secara singkat oleh pemilik Blog

Harri dan Kesalahan dalam Membaca Quran

“Kenapa musti dia yang jadi imam sih, Kang?” Harri sedikit kesal setelah shalat berjamaah tak lama selesai.

“Ya, Sudahlah. Bukan dengan ngomongin orang kek gitu caranya. Nanti kita coba sama-sama belajar lagi.” Kang Shihab menjawab santai.

“Tapi tadi itu harusnya bacaannya ndak dibaca panjang, Kang. Dasar, belum becus jadi imam malah sok maju jadi imam.” Harri masih berang.

“Haha… lucu kamu kalau lagi marah, Har.” Kang Shihab masih saja bersikap santai.

“Sampeyan, Kang. Kok malah ketawa, Ini masalah serius, Kang. Dosa dia, Kang. Jadi Imam tanggung jawabnya gede. Dosa itu dia.” Harri tak kuasa menahan emosinya.

“Hush, emang kamu Tuhan, main ngedosain orang.” Kang Shihab mulai serius.

“Bukan gitu. Kalau dia baca qurannya salah, artinya dia dosa, Kang. Dan itu kan berpengaruh juga ke kita, makmumnya.” Kali ini Harri sambil membenarkan kainnya yang sudah mulai melorot.

“Tadi memangnya apa kesalahan imam, Har.” Kang Shihab mulai memancing.

“Ya tadi itu, Kang. Dia membaca panjang suatu yang tidak harus dibaca panjang. Masa sampeyan ndak ngeh, Kang. Wong tadi bapak disampingku kelihatan kesel dan mengulang ayatnya dengan cara yang benar dengan suara yang keras. Tahu kan?” Harri menjawab.

“Kamu pernah belajar Al-Qur’an, Har?” tanya Kang Shihab.

“Ya pernah sih, Kang. Tapi sekarang udah ndak lagi. Dulu aja saat sekolah.” Harri menjawab.

“Kamu tahu kalau dalam salah satu pembahasan mengenai ilmu membaca al-quran ada pembahasan mengenai “kesalahan membaca qur’an”?” tanya Kang Shihab.

Harri sambil sedikit membenarkan letak pecinya menjawab, “ndak tahu, Kang.”

“Oke. Kesalahan dalam membaca al-quran itu ada dua macam. Yang pertama adalah Lahnu jaali atau kesalahan yang tampak, yaitu kesalahan dalam membaca lafadz-lafadz quran yang menyalahi kaidah bahasa arab sehingga merubah makna atau arti. Kesalahan pengucapan makhrojul huruf atau merubah baris, yang seharusnya fathah menjadi kasroh, misalnya. Dan ini hukumnya HARAM. Artinya yang melakukannya akan berdosa.

“Sedangkan yang kedua adalah Lahnu Khafi yaitu kesalahan dalam baca quran yang hanya menyalahi kaidah ilmu tajwid. Seperti kesalahan menempatkan harkat atau panjang suatu bacaan. Nah jumhur ulama mengatakan hukum kesalahan ini adalah Makruh.

“Apakah kamu mengerti maksud saya, Har?” Tanya Kang Shihab setelah banyak memberikan penjelasan.

“Oh, gitu toh.” Harri mulai melepas pecinya dan mulai menggaruk-garuk kepalanya.

“Masih emosi, Har?” Ledek Kang Shihab.

“Ehm… hehe, aku belajar quran dulu sama sampeyan lah, Kang. Nanti kalau udah mahir baru ngomongin soda, eh.. dosa maksudnya…” Harri terlihat malu menjawabnya.

 
Leave a comment

Posted by on 1 March 2011 in FikSi, Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Melewati Orang Sholat

Harry (H): Kang, bagaimana kalau sholat kita batal ditengah jalannya sholat berjemaah?

Kang Jamal (KJ): Bagaimana? masudnya?

H: Itu loh, Kang, bukannya kita dilarang lewat didepan seseorang yang sedang sholat? Nah, apa yang seharusya kita lakukan jika sholat kita batal, padahal kita berdiri persis di depan dan ditengah jemaah sholat?

KJ: Oh itu toh. Ya sudah diam saja. tidak usah bangkit dan keluar barisan.

H: Nah, kalau sholatnya itu sholat jumat, bagaimana?

KJ: Ya sudah duduk manis aja, tunggu hingga selesai sholat.

H: Lah ibadah sholat jumatnya gimana?

KJ: Setelah selesai, kamu ganti dengan sholat zuhur. Tidak usah dijadikan masalah.

H: oh…

(Islamic Center Bekasi, 17 Mei 2010 – kajian shohih bukhori oleh Ust. Jamalullail)

 
4 Comments

Posted by on 18 May 2010 in FikSi, Uncategorized

 

Dialog Tasawuf dan Tauhid

Harry (H) : Kang, sekarang saya sering malu meminta sesuatu sama Allah

Kang Shihab (KS) : Memangnya kenapa, Har?

H : Saya malu karena seringkali tidak bersyukur dari apa yang sudah Allah berikan ke saya. Padahal banyak yang sudah saya minta dan dikabulkan.

KS : Banyak doamu yang terkabulkan? Wah, kan itu bagus. Kenapa sekarang jadi malu? Bukankah kebanyakan orang akan terus melakukan sesuatu yang dapat membuatnya senang?

H : Ya karena jarang sekali bersyukur itu, Kang. Bukankah tidak tahu malu orang yang selalu meminta terus menerus namun tidak pernah mengucapkan tanda terima kasih kepada yang diminta?

KS : Punya sifat malu kepada Allah itu sangat mulia. Dan itu perlu dibina terus, karena itu akan membawamu kepada rasa syukur itu sendiri. Tapi kamu harus yakini juga bahwa semua yang ada padamu dan yang tidak ada padamu, semua yang kamu minta dan yang tidak kamu minta adalah milik Allah. Jadi jika tidak meminta pada Allah, kepada siapa lagi kamu akan meminta sesuatu yang kau inginkan?

 
2 Comments

Posted by on 5 May 2010 in Cerpen, Coretan, FikSi, Uncategorized

 

fatwa rokok (2)

“Assalamualaikum..” Sapa Harry

“’Aliaikumsalam…” jawab temannya.

“Eh, Jak, Apa kabarnya ente?” Tanya Harri pada temannya, Rojak.

“Bae-bae aja, Har. Nah ente?”

“Baik juga, Alhamdulilah. Wih, rokok di asbak banyak amat tuh, Jak?”

“Yah sambil nunggu ente, Har.”

“Emangnya ente ngga  denger kalau PP Mamadiyah kemarin ngeluarin fatwa kalau rokok itu haram?” Tanya Harry.

Dengan ringannya si Rojak menjawab, “Lah ane kan bukan orang Mamadiyah, Har.”

 
Leave a comment

Posted by on 29 March 2010 in Cerpen, Coretan, FikSi

 

Tags: ,

Fatwa Rokok

Selepas mengaji di musholah, Harry dan Mamat sengaja mengambil tempat di pelataran samping mushalah untuk sekedar menghilangkan pegal-pegal pada badannya. Mereka memang biasa beristirahat setelah selesai mengaji, tidak langsung pulang seperti jamaah yang lainnya.

Ketika baru duduk di dekat pintu samping mushalah, Harry langsung mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kantong kemejanya. Dia langsung menyalakan korek gas yang telah berada ditangannya untuk menyundutkan api ke rokok yang telah berada dalam genggaman bibirnya.

Tiba-tiba, tanpa sungkan, Mamat langsung mengambil rokok yang hamper saja tersulut api itu dari genggaman bibir si Hary, “Eh, Har. Kemarin lu ga denger berita yah?”

Harri kaget dan langsung mencoba mengambil lagi rokoknya, “eh…, Sini! Memangnya berita apaan sih, Mat?” Harry tidak berhasil mendapatkan rokoknya kembali. Rokoknya telah dibuang oleh Mamat.

“Kemarin tuh, Salah satu ormas islam memberikan fatwa, kalau rokok itu Haram. Dan gw setuju dengan alasannya sesuai dalil naqli yang mengatakan “Jangan kalian merusak diri kalian sendiri.”

“Itu fatwa hasil ijtihad?” Tanya Harry.

“Iya lah” Jawab Mamat.

“Itu ijtihad baru?” Harry terus malancarkan pertanyaan.

“Ya” dan jawab Mamat.

“Loh artinya tadi lu ga denger kata kang shihab saat ngaji, ada kaedah fiqh yang mengatakan ‘Al- Ijtihaadu laa yanqudhu bimitslih, Ijtihad tidak dibatalkan dengan ijtihad serupa’, kalau dulu rokok di hukumi makruh , dan sekarang dihukumi dengan haram, artinya ijtihad yang menghukumi rokok dengan makruh tidak batal hukumnya. “ Harry berusaha membela pendapatnya dengan menukil kaedah fiqh.

“Tapi kan….?” Mamat berusaha bicara

“Tapi apa?” potong Harry.

“Tetep aja itu merusak diri sendiri. ga baik” Mamat berusaha bijak.

“Ya, Tapi kan ga seenaknya lu main asal buang rokok gw. Itu kan rokok gw satu-satunya, itu aja gw boleh ngutang di warung baba.” Harry langsung mencari rokok satu-satunya ke semak-semak di samping mushalah.

 
Leave a comment

Posted by on 29 March 2010 in Cerpen, Coretan, FikSi

 

Tags: ,

[fiksimini] tuli

“Bukannya cinta itu buta?” tanya seorang yang tuli kepada kekasihnya.

 
Leave a comment

Posted by on 24 March 2010 in FikSi

 

Tags:

[fiksi mini] Keriput

Suatu hari, keriput mendatangi seorang pemuda gagah yang akhir-akhir ini selalu berada sendiri di pojokan kamar. Keriput itu pun berkata, “wahai pemuda, bicaralah. Aku siap jadi temanmu.”

 
Leave a comment

Posted by on 23 March 2010 in FikSi

 

Tags: ,

[fiksi mini] Shiroth al-Mustaqim

Tiba-tiba datang Himpunan Malaikat Anti Korupsi  (HiMAK) ke kantor Administrasi Keuangan Akhirat (AKA). Salah satu personel  HiMAK berkata kepada pimpinan AKA, “Maaf Tuan, Anda akan kami tangkap, karena telah melakukan korupsi pada proyek pembangunan jembatan shirothol mustaqim yang seharusnya dibangun dengan megah, tetapi kenyataannya hanya menggantung jembatan yang lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang”.

 
Leave a comment

Posted by on 23 March 2010 in FikSi

 

Tags: ,

Muludan

Mamat (M): Har, ga ikutan muludan?

Harry (H): Ga ah, ntar aja ikutan makan-makannya.

M: Dasar! Masa ga muludan mau ikut makan-makannya doang?

H: Lah, bukannya ada kaidah yang bilang, kalo hukum asal dalam perkara adat adalah boleh, sampai ada dalil yang menyatakan keharamannya?

M: Lah maksudnya apa?

H: Kan makan itu adat.

M: Lah bukannya muludan itu adat juga? Memang dizaman rosul dan sahabat itu muludan ga ada. Cuma jadi adat di masyarakat kita.

H: Tapi emak gua sewot noh, ‘adat sih adat, masa ngadain muludan pake minta-minta sumbangan ke masyarakat. Ngebebanin orang itu mah’. Makanya emak gw pesen, ntar habis muludan, makanannya bawa pulang yang banyakan, biar balik modal.

 
1 Comment

Posted by on 22 March 2010 in Cerpen, FikSi

 

Tags: , ,

A atau C

Di suatu siang, Harry dan teman-temannya berkunjung ke rumahnya Mamat. Mereka akhirnya sampai pada suatu tema yang sangat sengit. Yaitu, memilih siapa yang lebih menarik antara Ana dan Citra.

Mamat (M): Kalau menurut gw, lebih cantik Citra-lah.

Ujang (U): Jelaslah Citra. Bayangin aja, selain cantik, bodynya bosss,,, aduhai.

Kusni (K): Iyalah, sudah jelas lebih menarik Citra. Udah Cantik, kaya lagi. Kalau Ani, gimana gitu…

Suasana lama terdiam dan sunyi. Akhirnya si Mamat memcahkan sunyinya suasana dengan bertanya kepada teman terakhirnya yang belum memberikan pandangan, yaitu Harry, “Terus Har, kalo menurut lu siapa yang lebih menarik antara Ani dan Citra.

Harry (H): Kalau menurut gw sih, menarik itu relative. Si Ani punya sisi menarik, dan si Citra juga ada sisi menariknya. Eh…. Kalau gw sih pilih dua-duanya menarik.

M: Loh, kan pilihannya cuma siapa yang paling menarik, Har. Masa dua-duanya. Ga masuk akal itu mah.

H: Memangnya ada yang salah kalau gw memilih keduanya?

Kusni dan Ujang pun mentertawakan jawaban Harry.

M: Yah, lucu aja. Wong yang kita minta siapa yang paling menarik antara Ani dan Citra. Ga ada pilihan untuk memilih keduanya.

K: Harry takut tuh, soalnya dia kan bersaudara dengan si Ani.

H: Tapi memilih keduanya kan juga hak gw.

M: Haha… payah lu, Har…

Harry pun hanya terdiam membisu ditertawakan teman-temannya.

 
1 Comment

Posted by on 4 March 2010 in Cerpen, FikSi

 

Tags: ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 428 other followers

%d bloggers like this: