RSS

Category Archives: Cerpen

Kategori ini adalah kumpulan cerpen dari pemilik blog

Kesempurnaan Seorang Wanita (Bagian ke-1)

Sebuah suara samar mengusik tidur wanita itu. Menerobos halus celah gendang telinga, dan perlahan membawanya dari alam mimpi menuju keterjagaan raga. Namun matanya masih terpejam dalam kantuk yang masih menggelayut dalam. Tak ingin ia hirau akan suara yang masih samar terdengar. Tapi sekian detik kemudian suara itu semakin terang dalam keterjagaan telinganya sekarang.

“Tsabita.. Tsabita..”

Tiba-tiba saja matanya mengerjap terjaga dengan begitu cepatnya. Kantuk yang mengikatnya dalam lelapnya mimpi, bertolak kilat meninggalkannya. Salah dengarkah ia? Mimpikah? Sambil mencubit tangannya, dia amati wajah teduh pemilik suara. Perempuan itu tidak bermimpi. Dia dalam keterjagaan yang sempurna.

“Tsabita…” Nama itu kembali terucap dari lelaki di sampingnya. Begitu lirih. Begitu dalam. Begitu.., ah tak mampu ia menggambarkannya.

Wanita itu tercekat. Airmata begitu saja menderas dari kedua matanya. Dadanya teramat sesak. Bumi seakan ditindihkan di atasnya. Rasa sakit yang begitu dalam menjajah hatinya. Sakit. Sakit sekali. Sakit yang takkan bisa dilukis dengan sempurna oleh kata. Dia mencoba menguasai dirinya. Tapi ia gagal. Isaknya semakin menjadi. Tubuhnya berguncang menahan keterguguan. Kemudian dengan bersegera ia meninggalkan tempat tidurnya. Khawatir jika lelaki pemilik sumber suara itu terbangun karenanya.

Kran ia nyalakan. Suara air bergemericik mengalahkan isaknya. Dia terduduk lunglai di sana. Di dalam kamar mandi yang berada di luar kamar tidurnya. Maka menjadilah tangisnya. Yang dengannya, ia ingin mengeluarkan segala bongkah-bongkah pengganjal perasaannya. Ia ingin menjadikan air matanya itu sebagai hujan yang mengurai habis gumpalan mendung kelam yang ada di hatinya.

Setelah seperempat putaran jam, barulah ia mulai bisa mengendalikan dirinya. Kejernihan hati mulai mengikis masuk dalam kebuntuan akal yang tadi rapat tertutup jerat emosi kewanitaannya. Perlahan ia beranjak mendekati kran. Menangkupkan kedua telapak tangannya dalam dingin dan sejuknya air wudhu di pertengahan malam itu. Khusyu’ ia basuhkan air itu di wajahnya. Ia biarkan dinginnya meresap hingga ke dalam hatinya. Ia ingin membuang segala perasaan marah, sedih, kecewa dalam tetesan air suci yang mengurai dari setiap pori anggota wudhunya.

Dan kini wanita itu tersungkur dalam sujud panjangnya. Isakan itu menjadi lagi.

“Subhaana Rabbiyal a’laa.. Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.. Maha Suci Engkau Ya Rabb.. Sungguh wanita penuh dosa ini kembali lagi mencari kesempurnaan dalam mata air Kesucian-Mu.. Dan dalam kekerdilan dan kerapuhan diri ini, izinkan hamba berlindung dalam Ketinggian dan Kesempurnaan cinta yang utuh menjadi milik-Mu..”

Setelah salam dilafadzkan. Tertengadah kedua tangannya mengharap kucur Cinta-Nya. Tangan itu bergetar hebat seakan tak mampu menangkup doa yang diucap oleh lisannya dalam keterbataan isak kata.

“Ya Rabbiy, Wahai Dzat Pemilik hati dan jiwa ini.. Hamba berserah pasrah kepadamu. Terhadap urusannya. Terhadap hatinya. Karena hanya Engkau yang berhak mengaruniakan cinta. Walaupun seluruh manusia mengeluarkan perbendaharaan hartanya untuk membantuku menebus cinta lelaki itu,, maka hamba tahu hal itu mustahil tanpa kehendak-Mu..”

“Ya Rahman, sungguh hamba telah menjadikan Engkau sebagai wali dari setiap urusan hamba.. Hamba bermohon dengan segala Kemahabesaran-Mu agar Engkau berkenan melapangkan hati hamba.. Menyamuderakan cinta hamba.. Meluaskan kemaafan dan kesyukuran hamba.. Hingga hamba sanggup menerima segala beban penggelayut jiwa ini dengan segala sikap dan amalan yang Engkau Ridhoi saja.. Tanpa dengan kecemburuan yang membuta..Tanpa dengan kemarahan yang membara.. Tanpa dengan kekecewaan yang mematikan rasa.. Dan dengan tanpa mengurangi bakti dan kecintaan hamba pada suami hamba..

Ridhokan hamba atas apa yang mampu ia berikan pada hamba. Jangan jadikan hamba wanita yang tidak bisa mensyukuri pemberiannya. Berikan hamba kecintaan terhadap apa yang menjadi kecintaannya.. Berikan hamba kecintaan terhadap apa yang menjadi kecintaannya.. Berikan hamba kecintaan terhadap apa yang menjadi kecintaannya.. Tercekat suara wanita itu. Ia biarkan air matanya meneruskan setiap doa yang masih ingin ia panjatkan setelahnya.. Dan tanpa sadar ia pun tertidur dalam kelelahan jiwa raga.

Suara alarm dari kamar tidurnya membangunkan wanita itu untuk kali kedua. Dia pun beranjak dari mushalla kecilnya dan bersegera menuju kamarnya. Lelaki yang telah menjadi suaminya selama hampir empat tahun itu masih pulas tertidur di sana. Terlalu lelah sepertinya, hingga suara alarm tak berhasil membangunkannya seperti sepertiga malam lainnya.

Wanita itu menatap dalam-dalam ke wajah itu. Air mata yang ingin menyeruak, ia tahan sekuatnya. Ia takkan menangis di depan imamnya. Lelaki luar biasa. Lelaki terbaik yang pernah ia kenal dalam hidupnya. Yang dalam tiga tahun masa panjang pernikahannya tak pernah sedikit pun kata-kata kasar meluncur dari bibirnya. Yang selalu menjaganya dengan penjagaan sempurna. Yang selalu menerima segala kekurangannya tanpa menghakimi dan mencari pembandingnya. Yang menumbuhkannya dengan ilmu dan menuntunnya untuk selalu menjadi muslimah yang semakin dewasa keimanannya dan semakin indah akhlaqnya dari waktu ke waktu.

Wanita itu ingin selalu mensyukuri setiap hal yang suaminya telah beri. Ia tahu bahwa suaminya senantiasa mengusahakan yang terbaik untuknya. Apapun segala kebaikan yang bisa diberikan oleh lelaki itu, selama ini telah ia terima dengan sempurna. Namun malam ini wanita itu terantuk pada kenyataan, bahwa hati lelaki itu bukanlah untuknya. Kecintaan lelaki itu bukanlah miliknya. Walaupun sesaat lalu dia masih dalam keyakinan bahwa dialah ratu hati lelaki itu. Yang kemudian baru saja ia tersadar bahwa itu hanyalah fatamorgana semu.

Tsabita..

Perempuan masa lalu itu ternyata masih menempati ruang tertinggi di hati lelaki berwajah teduh ini. Perempuan yang namanya tidak pernah tersebut dalam lisan suaminya di waktu sadarnya  selama masa panjang bilangan tahun pernikahannya. Perempuan yang ia yakini bahwa suaminya telah mengusahakan segala hal yang bisa ia lakukan untuk mengeluarkannya dari hati, agar hanya ia satu-satunya wanita yang menempati singgasana dalam jiwa si lelaki. Dan wanita itu sadar, bukan salah suaminya jika pada akhirnya ia tidak mampu. Bukan salah lelaki itu jika cinta untuk perempuan itu masih melekat dengan erat di palung sukmanya. Sungguh bukan salahnya. Karena hak Dia seutuhnya untuk mengaruniakan cinta kepada apa dan sesiapa yang menjadi Kehendak-Nya.

Yah, rasa sakit itu ada. Kecemburuan yang begitu dalam pun telah sangat menyiksanya. Namun wanita ini segera tersadar, bahwa dulu sebelum ia menerima pinangan si lelaki, ia telah mengetahui resiko ini. Lelaki ini berkata jujur padanya akan semua masa lalunya sejak awal kedatangannya. Dan waktu itu, wanita ini telah menyalakan azzam untuk menerima segala konsekuensi atas pilihannya. Dan kini saatnya ia harus membuktikan semuanya.

Perlahan ia dekati sosok itu. Ia cium keningnya. Takzim. Sebagaimana suaminya selalu melakukannya saat membangunkannya. Lelaki itu membuka matanya. Tersenyum padanya. Perlahan bangkit dari posisi tidur dan berdiri menjajari istrinya.

“Yah, keduluan Ummi deh bangunnya. Afwan ya Sayang..” canda lelaki itu sambil meraih kepala istrinya. Membalas mencium kening wanita itu.

“Ga papa juga dong sekali-kali Ummi yang dapat pahala membangunkan. Masa Abi terus yang memborong pahala..” wanita itu tersenyum manja, menggelayut tangan suaminya.

“Yee, ga mau kalah ni ceritanya? Baiklah, besok-besok Ummi terus aja deh yang bangunin.  Abi sih rela-rela aja setiap pagi dibangunkan oleh kecupan seorang bidadari..” sambil mengelus kepala istrinya.

“Ogah ah. Ntar Abi ngrasa jadi sleeping beauty lagi. Eh sleeping handsome ding.. hehe.. ”

“And the beast.. hehehe..” Mereka tertawa bersama

“Eh Mi, Ummi habis nangis? Matanya kok sembab gitu?” Lelaki itu tiba-tiba menghentikan tawanya.

Wanita itu diam sejenak. Berpikir bagaimana harus menjawabnya. Tapi senyumnya masih ia kembangkan, untuk menutupi segala kebingungan.

“Yah ketahuan ya? Iya Bi, Ummi tadi udah mencuri start shalat malam duluan. Tapi baru 2 rakaat kok. Ummi menangis karena Ummi tiba-tiba tersadar, betapa baiknya Allah sama Ummi. Mengaruniakan seorang lelaki luar biasa.. Lelaki surga.. Ah udah Bi, buruan ambil wudhu gih..”

“Hffh.. Abi yang harus jauh lebih banyak bersyukur kepada Allah Mi.. Karena Allah telah mengizinkan Abi untuk didampingi seorang wanita yang sebaik dan seindah Ummi..” Menatap dalam-dalam ke mata wanita itu. Kemudian sekali lagi mencium keningnya dan segera beranjak mengambil air wudhu.

Di sepertiga malam terakhir itu, wanita tersebut meminta imamnya agar membaca surat Ar-Rahman. Fabiayyi aalaa-I rabbikumaa tukadzdzibaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Seiring berulangnya kalimat itu dilafadzkan, semakin tergugu mereka berdua tenggelam dalam kedalaman maknanya. Semakin mereka merasa begitu kecil di hadapan Rabb-Nya. Hingga sebelum selesai surat itu dibaca pada rakaat pertama, lelaki itu sudah kehilangan suaranya. Tertelan oleh airmata yang mengalir tanpa bisa ditahannya. Membanjir memenuhi tenggorokannya. Dan akhirnya mereka berdiri dalam diam. Hanya isak mereka berdua yang terdengar semakin keras mengguncang.

Ya Rabb, ampuni kesyukuran kami yang hanya setetes saja, padahal Engkau telah memberikan kami nikmat yang luas menyamudera… Maafkan Ya Rahman.. Maafkan.

[diunduh dari http://www.dakwatuna.com/2011/kesempurnaan-seorang-wanita-bagian-ke-1/]

 
Leave a comment

Posted by on 24 February 2011 in Cerpen

 

Dialog Tasawuf dan Tauhid

Harry (H) : Kang, sekarang saya sering malu meminta sesuatu sama Allah

Kang Shihab (KS) : Memangnya kenapa, Har?

H : Saya malu karena seringkali tidak bersyukur dari apa yang sudah Allah berikan ke saya. Padahal banyak yang sudah saya minta dan dikabulkan.

KS : Banyak doamu yang terkabulkan? Wah, kan itu bagus. Kenapa sekarang jadi malu? Bukankah kebanyakan orang akan terus melakukan sesuatu yang dapat membuatnya senang?

H : Ya karena jarang sekali bersyukur itu, Kang. Bukankah tidak tahu malu orang yang selalu meminta terus menerus namun tidak pernah mengucapkan tanda terima kasih kepada yang diminta?

KS : Punya sifat malu kepada Allah itu sangat mulia. Dan itu perlu dibina terus, karena itu akan membawamu kepada rasa syukur itu sendiri. Tapi kamu harus yakini juga bahwa semua yang ada padamu dan yang tidak ada padamu, semua yang kamu minta dan yang tidak kamu minta adalah milik Allah. Jadi jika tidak meminta pada Allah, kepada siapa lagi kamu akan meminta sesuatu yang kau inginkan?

 
2 Comments

Posted by on 5 May 2010 in Cerpen, Coretan, FikSi, Uncategorized

 

fatwa rokok (2)

“Assalamualaikum..” Sapa Harry

“’Aliaikumsalam…” jawab temannya.

“Eh, Jak, Apa kabarnya ente?” Tanya Harri pada temannya, Rojak.

“Bae-bae aja, Har. Nah ente?”

“Baik juga, Alhamdulilah. Wih, rokok di asbak banyak amat tuh, Jak?”

“Yah sambil nunggu ente, Har.”

“Emangnya ente ngga  denger kalau PP Mamadiyah kemarin ngeluarin fatwa kalau rokok itu haram?” Tanya Harry.

Dengan ringannya si Rojak menjawab, “Lah ane kan bukan orang Mamadiyah, Har.”

 
Leave a comment

Posted by on 29 March 2010 in Cerpen, Coretan, FikSi

 

Tags: ,

Fatwa Rokok

Selepas mengaji di musholah, Harry dan Mamat sengaja mengambil tempat di pelataran samping mushalah untuk sekedar menghilangkan pegal-pegal pada badannya. Mereka memang biasa beristirahat setelah selesai mengaji, tidak langsung pulang seperti jamaah yang lainnya.

Ketika baru duduk di dekat pintu samping mushalah, Harry langsung mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kantong kemejanya. Dia langsung menyalakan korek gas yang telah berada ditangannya untuk menyundutkan api ke rokok yang telah berada dalam genggaman bibirnya.

Tiba-tiba, tanpa sungkan, Mamat langsung mengambil rokok yang hamper saja tersulut api itu dari genggaman bibir si Hary, “Eh, Har. Kemarin lu ga denger berita yah?”

Harri kaget dan langsung mencoba mengambil lagi rokoknya, “eh…, Sini! Memangnya berita apaan sih, Mat?” Harry tidak berhasil mendapatkan rokoknya kembali. Rokoknya telah dibuang oleh Mamat.

“Kemarin tuh, Salah satu ormas islam memberikan fatwa, kalau rokok itu Haram. Dan gw setuju dengan alasannya sesuai dalil naqli yang mengatakan “Jangan kalian merusak diri kalian sendiri.”

“Itu fatwa hasil ijtihad?” Tanya Harry.

“Iya lah” Jawab Mamat.

“Itu ijtihad baru?” Harry terus malancarkan pertanyaan.

“Ya” dan jawab Mamat.

“Loh artinya tadi lu ga denger kata kang shihab saat ngaji, ada kaedah fiqh yang mengatakan ‘Al- Ijtihaadu laa yanqudhu bimitslih, Ijtihad tidak dibatalkan dengan ijtihad serupa’, kalau dulu rokok di hukumi makruh , dan sekarang dihukumi dengan haram, artinya ijtihad yang menghukumi rokok dengan makruh tidak batal hukumnya. “ Harry berusaha membela pendapatnya dengan menukil kaedah fiqh.

“Tapi kan….?” Mamat berusaha bicara

“Tapi apa?” potong Harry.

“Tetep aja itu merusak diri sendiri. ga baik” Mamat berusaha bijak.

“Ya, Tapi kan ga seenaknya lu main asal buang rokok gw. Itu kan rokok gw satu-satunya, itu aja gw boleh ngutang di warung baba.” Harry langsung mencari rokok satu-satunya ke semak-semak di samping mushalah.

 
Leave a comment

Posted by on 29 March 2010 in Cerpen, Coretan, FikSi

 

Tags: ,

Muludan

Mamat (M): Har, ga ikutan muludan?

Harry (H): Ga ah, ntar aja ikutan makan-makannya.

M: Dasar! Masa ga muludan mau ikut makan-makannya doang?

H: Lah, bukannya ada kaidah yang bilang, kalo hukum asal dalam perkara adat adalah boleh, sampai ada dalil yang menyatakan keharamannya?

M: Lah maksudnya apa?

H: Kan makan itu adat.

M: Lah bukannya muludan itu adat juga? Memang dizaman rosul dan sahabat itu muludan ga ada. Cuma jadi adat di masyarakat kita.

H: Tapi emak gua sewot noh, ‘adat sih adat, masa ngadain muludan pake minta-minta sumbangan ke masyarakat. Ngebebanin orang itu mah’. Makanya emak gw pesen, ntar habis muludan, makanannya bawa pulang yang banyakan, biar balik modal.

 
1 Comment

Posted by on 22 March 2010 in Cerpen, FikSi

 

Tags: , ,

A atau C

Di suatu siang, Harry dan teman-temannya berkunjung ke rumahnya Mamat. Mereka akhirnya sampai pada suatu tema yang sangat sengit. Yaitu, memilih siapa yang lebih menarik antara Ana dan Citra.

Mamat (M): Kalau menurut gw, lebih cantik Citra-lah.

Ujang (U): Jelaslah Citra. Bayangin aja, selain cantik, bodynya bosss,,, aduhai.

Kusni (K): Iyalah, sudah jelas lebih menarik Citra. Udah Cantik, kaya lagi. Kalau Ani, gimana gitu…

Suasana lama terdiam dan sunyi. Akhirnya si Mamat memcahkan sunyinya suasana dengan bertanya kepada teman terakhirnya yang belum memberikan pandangan, yaitu Harry, “Terus Har, kalo menurut lu siapa yang lebih menarik antara Ani dan Citra.

Harry (H): Kalau menurut gw sih, menarik itu relative. Si Ani punya sisi menarik, dan si Citra juga ada sisi menariknya. Eh…. Kalau gw sih pilih dua-duanya menarik.

M: Loh, kan pilihannya cuma siapa yang paling menarik, Har. Masa dua-duanya. Ga masuk akal itu mah.

H: Memangnya ada yang salah kalau gw memilih keduanya?

Kusni dan Ujang pun mentertawakan jawaban Harry.

M: Yah, lucu aja. Wong yang kita minta siapa yang paling menarik antara Ani dan Citra. Ga ada pilihan untuk memilih keduanya.

K: Harry takut tuh, soalnya dia kan bersaudara dengan si Ani.

H: Tapi memilih keduanya kan juga hak gw.

M: Haha… payah lu, Har…

Harry pun hanya terdiam membisu ditertawakan teman-temannya.

 
1 Comment

Posted by on 4 March 2010 in Cerpen, FikSi

 

Tags: ,

Kolektif Kolegial

Setelah selesai mengaji, Kang Shihab  dan Harry sengaja tidak langsung pulang. Mereka  berencana untuk sedikit berlama-lama di mushollah.

Harry  tiba-tiba penglihatannya menuju kesalah satu rumah di depan mushallah, rumah Bang Juki. Bang Juki dan bininya tampak sedang cekcok, adu mulut. Hal ini sebenarnya kerap kali terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat kampung.

Harry pun berkomentar, “Kemarin masalah duit. Sekarag kayaknya masalah anak tuh. Ada-ada aja Bang Juki ama bininya” Mereka berdua pun tertawa.

“Bang Juki kaga ngerti tuh.” Timpal Kang Shihab.

“Maksud sampeyan kaga ngerti pegimana, Kang?” Tanya Harry menuntut jawaban.

“Lah harusnya laki-bini itu, dalam mengurus keluarganya, harus kolektif kolegial. Kaga Otoriter dan mau menang sendiri.” Jawab Kang Shihab.

“Apa? Kolektif apa? Tuh bahasa nemu dimana, Kang?” Harry bingung.

“Haha.. Lah itu bahasa yang lagi rame diomongin orang-orang hari ini, Har, di TK Parlemen.” Jawab Kang Shihab sambil tertawa.

Harry pun makin bingung mendengar jawaban Kang Shihab yang sekenanya.

 
Leave a comment

Posted by on 2 March 2010 in Cerpen, FikSi

 

Tags:

Debat Kusir : Jujurlah Pada Diri Sendiri

Suatu pagi, di atas sepeda motor, Harry dan Mamat telibat debat kusir.

Mamat (M):  ….bukankah kejujuran yang sebenernya dari hati? Ketika kita benar-benar jujur pada diri sendiri. Kalau mulut kan bisa bohong, pura-pura kuat padahal hatinya rapuh.

Harry (H) : Tapi, Mat,  kadang untuk menjadi baik, ada orang yang sengaja berlatih dengan melawan kerapuhan itu dengan “berbohong”.

M: Mungkin itu yang orang bilang berbohong untuk kebaikan, Har. Tapi walaupun untuk kebaikan tetap saja itu sebuah kebohongan.

H: Ketika seseorang berbohong untuk mengikat komitmen dirinya sendiri? Apa salahnya? Tak ada yang dirugikan, ketika seseorang itu berusaha konsisten setalahnya.

M:  Kalau menurut saya tidak ada salahnya, selama itu untuk kebaikan. Mungkin awalnya berbohong, tapi akan menjadi kejujuran akhirnya.

H: Tunggu-tunggu… Saya pikir itu bukan kejujuran, tapi kesungguhan menjaga komitmennya. Saya pikir itu berbeda dengan kejujuran.

M: Hmmm… Berarti berbohong terus dong?

H: Apa salahnya?

M: Kebohongan publik dong namanya?

H: Tapi, adakah yang dirugikan? Padahal dia hanya berusaha menjaga komitmennya untuk menjadi baik.

M: Kenapa tidak berusaha menciptakannya menjadi sebuah kejujuran. Itu kan akan menjadi lebih baik?

H: Lebih baik menurut siapa? Menurut saya, Karakter diri itu akan sangat kuat jika sudah terbentuk. Dan saya pikir, tidak ada orang yang jujur dimuka bumi ini. Yang ada hanyalah orang yang menjaga komitmen atas apa yang mereka yakini.

M: Ada kok.

H: Coba jelaskan?

M: Minimal kita bisa jujur pada diri sendiri.

H: Memangnya, menurutmu seperti apa jujur pada diri sendiri?

M: Berlaku sesuai dengan kata hati.

H: Bagaimana relevansinya dengan pandangan publik, yang kamu singgung tadi?

M: Hmm…

H: Apakah artinya kamu telah jujur, ketika kamu telah mengatakan untuk jujur pada diri sendiri? Bukankah kalimat itu malah mengindikasikan bahwa kamu tidak jujur? Dan kamu hanya menjustifikasinya dengan mengatakan, Jujurlah pada diri sendiri.

Mamat pun lama terdiam. Dan akhirnya suasana memang benar-benar hening, tak ada lagi obrolan antara mereka. Yang terdengar hanyalah suara deruman sepeda motor yang semakin lama semakin cepat lajunya.

 
3 Comments

Posted by on 27 February 2010 in Cerpen, Coretan, FikSi

 

Tags: ,

Media dan Fenomena Bunuh Diri

Suatu pagi Harri dan Kang Shihab terlihat berdua sedang sap-siap berangkat ke pengajian di kampong tetangga. Pendek cerita, berboncenganlah mereka.

Ditengah perjalanan, terlibat diskusi “ringan” diantara keduanya. Awalnya Harri yang membuka diskusi, “Sekarang banyak orang yang stres ya, Kang.”

“Kamu lihat berita tadi pagi ya?” Timpal Kang Shihab dengan pertanyaan .

“Iya. Sekarang ini banyak yang bunuh diri, Kang.”. Harri melanjutkan ceritanya. “Tapi menurut saya, media-media juga ikut berperan dalam hal ini. Karena seringnya berita bunuh diri, sehingga yang lain, yang memang keadaaan jiwanya sedang tidak stabil, seperti mendapat “ilham” untuk melakukan tindakan itu.” Harri mengeluarkan pendapatnya.

“Jadi , media salah menurutmu?”  Kang Shihab kembali melemparkan pertanyaan.

“Bisa dikatakan seperti itulah, Kang.” Harri menjawab dengan sedikit arogan.

“Ah, menurut saya tidak,” Kang Shihab berpendapat. Dan tak lama melanjutkan ucapannya, “Menurut saya media sudah sangat “seimbang” atau bisa dikatakan sudah proporsional memberitakan dan menyikapi peristiwa banyaknya bunuh diri sekarang ini.”

“Maksud Akang?” Harri memotong pembicaraan.

“Media, disamping memberitakan peristiwa “tidak baik” itu, juga memberikan pendidikan-pendidikan lewat dialog dengan para psikolog dan alim ulama. Dialog itu membicarakan tentang “sebab” hingga “solusi”. Itu yang media lakukan. Oleh karena itu saya pikir, Media sudah sangat “seimbang”  antara memberitakan dan memberikan pendidikan ke masyarakat.” Ucap Kang Shihab.

“Tapi kan tidak semua orang membaca “keseimbangan” itu, seperti yang Akang sampaikan tadi. Dan terhadap orang-orang yang seperti itu, pemberitaan di media akan menjadi “negative” bahkan bisa menjadi “ilham” seperti yang tadi saya bilang.” Harri pun tak mau mengalah pada diskusi kali ini.

“Betul sekali, Har. Dari uraianmu yang terakhir , Sekarang saya tanya, kenapa ada orang yang tidak bisa membaca “keseimbangan” yang disuguhkan media, seperti apa yang saya pikirkan?” Tanya Kang Shihab.

“Pendidikan yang kurang, mungkin?” Jawab Harri ragu.

“Oke. Pertanyaan selanjutnya, kenapa seseorang bisa kurang pendidikannya?” Kang Shihab terus bertanya.

“Ekonomi lemah..??!!” Harri menjawab masih ragu.

“Haha, jawabanmu mantap sekali, Har. Mungkin media satu pendapat denganmu.” Kang Shihab kembali membuat Harri bingung.

“Maksudnya?” Tanya Harri dengan raut muka yang tidak mengerti.

“Media sebenarnya hanya ingin mengkritik pemerintah dengan menyuguhkan fenomena-fenomena “tak terpuji” seperti  bunuh diri. Pemberitaan itu hanya ingin membuat pemerintah “melek” bahwa diluar sana, masyarakat, banyak yang berperilaku “tidak baik” akibat kurangnya pendidikan yang bersumber dari keuangan atau perekonomian yang “jelek”.

“Disamping itu, saya pikir selain pemerintah, Media juga ingin memberikan pelajaran kepada para pemuka agama.  Para pemuka agama harus “sadar dakwah”. Artinya, para pemuka agama harus lebih sadar lagi dalam berdakwah  dengan “kondisi kekinian“ masyarakat. Jangan sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit neraka.” Kang Shihab menegaskan.

Dan Harri pun mengangguk-angguk, sepertinya paham dan setuju. Dan mereka pun lama terdiam setelah diskusi itu. Akhirnya sampailah mereka ke tempat tujuannya.

 
1 Comment

Posted by on 8 December 2009 in Cerpen, Coretan, FikSi

 

Tags: , , , , ,

“Aamiin” vs “Ngaamiin”

Harri (H): Kang, Pak Bambang itu saat menjawab “amin” dalam shalat jemaah sangat mengganggu kedengerannya.

Kang Shihab (KS): Maksudnya?

H: Pak Bambang melafazkannya bukan “aamiin” tapi “ngaamiin”.

KS: Yo biar saja.

H: Lah kan artinya beda, Kang.

KS: Lafaz memang penting, tapi lebih penting keikhlasan saat mengucapkannya. Malah sepertinya dia lebih ikhlas dari kamu, Har.

H: Loh kok Akang bisa ngomong gitu?

KS: Lah, buktinya saat ngucap “aamiin” kamu malah sibuk nyalahin Pak Bambang.

 
Leave a comment

Posted by on 8 November 2009 in Cerpen, FikSi

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.