RSS

Monthly Archives: April 2012

Emmy Suparka : Profesor Geologi Wanita Indonesia Pertama

image

“Sekarang ilmu geologi berkembang sangat
pesat, mulai dari analisis inderaja, pemodelan,
hingga simulasi komputer. Tetapi menurut saya
setiap mahasiswa geologi harus mengetahui
ilmu dasar geologi; dan itu, selain dipelajari di
bangku kuliah, juga diperoleh di lapangan.”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Profesor
Dr. Ir. Emmy Suparka seorang pakar geologi
yang mendapat anugrah profesornya tahun
2001. Beliau merupakan profesor perempuan
geologi pertama di Indonesia, sekaligus profesor
perempuan pertama bidang teknik di Institut
Teknologi Bandung (ITB).

Antara tahun 1960 -1970an, ketika bidang
geologi mulai berkembang di Indonesia dan
masih didominasi oleh kaum laki-laki, Emmy,
perempuan kelahiran Denpasar, Bali, 17 April
1948 itu memantapkan dirinya memilih Jurusan
Geologi yang justru tidak diminati kaumnya.
Setamatnya dari sekolah menengah di
Yogyakarta, ia tertarik memilih Jurusan Geologi
karena beberapa hal.

Antara lain karena ahli geologi dinilainya masih
kurang di Indonesia, terutama perempuan yang
masih bisa dihitung dengan sebelah jari. Selain itu,
ketertarikannya pada Geologi karena ada nuansa yang
menantang dengan ilmu Geologi.

Apa itu Geologi? Seperti kebanyakan ketertarikan awal
pemilihan Jurusan Geologi, Emmy pun berharap
jika kuliah di Geologi, ia dapat meneruskan
kesenangannya terhadap traveling, bepergian
melihat hal yang baru, melihat alam dan banyak
hal.

Dalam wawancara kami, tiba-tiba Emmy tertawa
dan ia berujar, “ada hal yang tidak bisa saya
lupakan ketika mengikuti testing masuk ITB
Jurusan Geologi, tahun 1965. Ketika saya mau
memasuki ruangan tempat ujian, saya dicegat
oleh pengawas dan mengatakan ini untuk
Jurusan Geologi. Mbak salah ruangan, kata
pengawas. Saya yakinkan bahwa saya tidak
salah ruangan dengan memperlihatkan kartu
ujian.” Ini gambaran betapa tidak populernya
Jurusan Geologi di kalangan perempuan pada
saat itu. “Tahun 1965 hanya ada dua mahasiswi
yang masuk di Jurusan Geologi ITB, yaitu saya,
dan Eti Nuay yang merupakan perwakilan dari
daerah,” lanjutnya mengenang masa awal
kuliah.

Menurut Emmy, ada kesenjangan informasi yang
sampai kepada masyarakat tentang geologi.
Pada umumnya masyarakat memahami bahwa
geologi adalah ilmu yang berkaitan dengan
gunung dan hutan. Padahal tidak demikian.
Itulah sebabnya para orang tua kurang
merespon keinginan putera-puterinya untuk
mengambil jurusan ini. Sekarang sudah
memadai, informasi tentang Geologi sudah
diterima oleh masyarakat sebagaimana adanya.

Seiring berlalunya waktu, tiba saatnya memilih
spesialisasi. Emmy semula tertarik dengan fosil.
Jazad renik itu bisa membawa kepada khayalan
ribuan bahkan jutaan tahun silam. Tetapi di
bawah mikroskop, rupanya menurut Emmy, fosil
itu dibolak-balik bentuknya sama saja tidak
berubah. Hal itu berbeda dengan melihat
sayatan batuan di bawah lensa mikroskop.
Berubah posisi lensa, berbagai bentuk dan
warna muncul dan tentu menghasilkan berbagai
imajinasi dan interpretasi. Bagi Emmy hal ini
menarik dan menantang. Akhirnya Emmy
memilih petrologi sebagai spesialisasinya. Sekali
lagi anak kedua dari delapan bersaudara ini
membuat teman-temannya bergumam, “Emmy
memilih hard rock?” ujar mereka tidak percaya.

Made Emmy Relawati, nama gadisnya, adalah
anak kedua dari delapan bersaudara dari
pasangan Putu Badjre Kusumaharta (alm) dan
Nyoman Resike. Ketika usia Emmy sepuluh
tahun, mereka pindah dari Denpasar ke
Yogyakarta. Ia kemudian menyelesaikan sekolah
dasarnya di SD Bopkri pada 1959, lulus tingkat
SLTP di SMP Negeri II pada 1962, serta tingkat
SLTA di SMA Stella Duce pada 1965, seluruhnya
di Yogyakarta. Ayahnya seorang wiraswasta yang
berhasil dan memberikan kebebasan serta
kepercayaan penuh kepada putera-puterinya
untuk memilih masa depannya. Dari delapan
bersaudara hanya Emmy yang menjadi pegawai
negeri, lainnya mengikuti jejak ayahnya sebagai
pengusaha.

Sebagai mahasiswi di sarang mahasiswa tidak
membuat Emmy dan Eti merasa jengah atau risi.
Karena mereka minoritas, dua mahasiswi ini
selalu mendapatkan perlindungan dan prioritas
dari rekan-rekannya para mahasiswa, bahkan
dosen. Setiap ada event penting mengenai
geologi, mereka selalu diajak ikut serta dan itu
menambah pengalaman di lapangan.

Ada dua peristiwa penting yang tidak dapat
dilupakan oleh Emmy. “Pertama, saat saya
keluar dari ruangan sidang ujian sarjana, saya
tiba-tiba diserang rasa haru dan terdiam di
depan pintu. Betapa beban berat yang saya lalui
selama ini telah lepas. Tuhan, terima kasih, ucap
saya dalam hati. Teman-teman ikut diam dan
menyangka saya tidak lulus. Saat salah seorang
dosen penguji keluar mengucapkan selamat,
saya lulus dengan predikat terbaik (cum laude),
teman-teman saya baru bergembira.”

“Kedua, ketika kalimat terakhir dari disertasi
saya selesaikan. Saya merasa sangat terharu,
betapa perjuangan panjang ini sudah saya lalui
dengan baik.” Ada genangan air yang tidak
tumpah di pelupuk mata Emmy mengenang
masa indah itu. Emmy menyelesaikan sarjana
Geologi dari ITB tahun 1973 dan program
doktor sandwich di Laboratoire de Geochime et
Cosmochimie, di Universite de Paris IV, Prancis
pada tahun 1988.

Selepas sarjana, Emmy memilih menjadi dosen
dengan pertimbangan bahwa dapat mengatur
waktu antara bekerja dan mengurus keluarga. Ia
tercatat menjadi dosen di almamaternya sejak
1976. Dengan menjadi dosen, ilmunya bisa
berkembang dan bisa berbagi ilmu dengan
orang lain.

Emmy menikah dengan “kakak kelasnya”
Suparka, sarjana Geologi ITB angkatan 1962
yang sekarang telah pensiun dari Pusat
Penelitian Geoteknologi LIPI dengan gelar
terakhir profesor riset. Pada saat kami
menanyakan mengapa memilih Pak Suparka
menjadi pendamping hidup, “Sederhana. Pak
Suparka memilih saya,” jawabnya. “Alasan lain,
karena Suparka banyak membimbing, bukan
hanya dalam ilmu Geologi, tetapi juga memberi
wejangan dan semangat. Hidup berdampingan
dengan orang yang satu profesi memudahkan
saya untuk bekerja. Tidak banyak pertanyaan
mengapa dan kenapa karena pasti tahu apa
yang saya kerjakan,” ujarnya lebih lanjut. Mereka
dikaruniai seorang putera yang sekarang
menetap di Australia.

Pengalaman pertama kali mengajar adalah
ketika menggantikan Prof. Rubini Soeria-
Atmadja (almarhum) di Universitas Trisakti,
Jakarta. Saat masuk kelas para mahasiswa
mengira Emmy adalah sekertaris Pak Rubini dan
datang hanya untuk menyampaikan permintaan
maaf karena beliau tidak bisa mengajar. Para
mahasiswa yang pada mulanya mencoba
menggoda dengan bersiul dan bersuit, alangkah
kagetnya, ternyata Emmy datang untuk
memberikan kuliah menggantikan Pak Rubini
yang berhalangan datang. “Ini pengalaman
pertama, dan saya berhasil melaluinya dengan
baik. Mahasiswa hormat apabila kita hormat,”
ucap Emmy.

Berdiri di depan kelas menghadapi mahasiswa
yang rata-rata laki-laki tidak membuat Emmy
grogi atau demam panggung. Boleh jadi karena
sejak usia 10 tahun sudah terbiasa menghadapi
publik dengan menari di atas panggung.
Demikian cintanya pada tari Bali, ketika sudah
tinggal di Yogyakarta pun setiap liburan selalu ke
Bali untuk latihan menari di Sanggar Naryo.
Selain tari Bali, selama di Yogyakarta ia juga
belajar tari Jawa dari Bagong Kusudiarjo. Di
Bandung pun, tari Sunda ia pelajari juga.

Pengalamannya sebagai penari membawa
Emmy tidak saja sebagai ahli geologi perempuan
dan profesor Geologi di Indonesia, tetapi seolah-
olah Geologi ikut menari bersamanya. Salah satu
peristiwa penting di antaranya ketika Emmy
memberikan kado istimewa sebagai
penghormatan kepada profesor pembimbingnya
pada saat peluncuran buku di Prancis dengan
menampilkan tarian Bali. Sejak penampilan itu,
Emmy menjadi dikenal dan dibicarakan oleh
banyak kalangan di lingkungan kampus
Universite de Paris IV. Bahkan saat sudah
menjadi anggota senat guru besar di ITB pun,
Emmy masih berkesempatan untuk menari.

Penampilannya yang terakhir sebagai penari di
depan publik adalah ketika acara penyerahan
gamelan oleh Gubernur Bali kepada Rektor ITB
pada awal tahun 2000an. Rekannya sesama
anggota senat guru besar seolah tidak percaya
dengan penampilan yang memukau itu
dibawakan oleh seorang profesor Geologi.

Di beberapa kampus ada perkumpulan yang
bersifat kedaerahan yang digagas oleh
mahasiswa. Dalam acara tertentu mereka
menampilkan kesenian daerah, atau sekedar
melepas rindu kampung halaman. Emmy
termasuk salah seorang akitivis perkumpulan
mahasiswa Bali Maha Gotra Ganesha, bersama
juga antara lain Bapak Jero Wacik, Menteri ESDM
saat ini. Selain di unit kesenian, keaktifannya
sebagai mahasiswa di ITB di antaranya juga
adalah menjadi anggota Mahawarman dan
bergabung di EH-8 Radio ITB.

Dosen geologi yang masih aktif ini dalam
usianya yang sudah kepala enam tetap terlihat
sangat energik. Satu hal yang tidak pernah lalai
dilakukan adalah jalan pagi. “Setiap hari saya
harus berjalan minimal satu jam,” ujarnya.
Selain itu hobi Emmy adalah membaca dan
mengurus tanaman. “Tetapi tanaman yang
mudah cara pengurusannya,” ujarnya.

Saat ditanyakan tentang idola, Emmy tampak
menerawang. “Saya hanya mengidolakan ibu
saya. Beliau tidak hanya mengerti saya, tetapi
memberikan senyum ketika saya berhasil dan
memberikan motivasi ketika saya sedang gagal
dan gundah. Ibu saya adalah orang yang sangat
istimewa,” katanya mantap. Sekarang ini ibunya
tinggal bersama salah seorang puteranya di
Jakarta pada usia 84 tahun dan masih sehat.
“Tapi saya mendapat pelajaran pertama tentang
hidup mandiri dan bertanggung jawab dari ayah
saya,” tambahnya kemudian.

Karirnya sebagai pegawai negeri sudah di ujung
jalan, dua tahun lagi Emmy memasuki masa
pensiun. Selama masa baktinya di ITB, Emmy di
antaranya pernah menduduki jabatan Ketua
Departemen Teknik Geologi dalam dua kali
masa jabatan, yaitu 1992- 1995 dan 1996-1998.
Ia kemudian menjadi Kepala Penerbit ITB 1998-2000.
Pada 2000-2005, Emmy terpilih menjadi dekan Fakultas
Teknologi Mineral (FTM) untuk selanjutnya ditarik ke
rektorat sebagai Wakil Rektor Bidang Riset,
Inovasi, dan Kemitraan merangkap Ketua LPPM
ITB dari 2005 hingga 2008. Saat ini Emmy aktif
sebagai ketua Kelompok Keilmuan Geologi selain
sebagai wakil kepala salah satu unit usaha di
ITB.

Meskipun dengan segala kesibukannya, hingga
kini masih banyak mahasiswa bimbingannya,
terutama mahasiswa S2. Beberapa di antaranya
datang dan memohon agar dibimbing oleh
Emmy. Ketika kami menanyakan kenapa mereka
begitu antusias memilih Ibu, jawabannya
singkat, “mereka tidak diperlakukan sebagai
mahasiswa semata, tetapi adalah bagian dari
keluarga saya. Jadi mereka saya targetkan harus
berhasil dengan gemilang”.

Tidak sedikit di antara “bekas mahasiswanya”
masih meminta nasehat atau sekedar curhat
tentang apa saja kepada Emmy meskipun
mereka sudah berada jauh di tempatnya
bekerja. “Banyak dari anak bimbingan saya yang
sudah bekerja di tempat yang jauh, setiap
berkunjung ke Bandung selalu mampir menemui
saya, sekedar say hallo. Ini sangat menyenangkan,
ada silaturahim yang sinambung,” ujar bu Emmy.

Sebagai seorang ilmuwan Emmy sudah
mencapai puncak dengan meraih gelar profesor.
Sebagai dosen sudah pada jenjang anggota
senat guru besar dan pernah menjabat Ketua
Jurusan Geologi, ITB. Adakah obsesi yang belum
tercapai? Ketika kami menanyakan hal tersebut,
Emmy dengan tegas mengatakan, “saya tidak
punya target. Sebagai hamba Tuhan, saya tidak
boleh tinggalkan shalat dan kewajiban lainnya
sebagai seorang ibu rumah tangga dan anggota
masyarakat. Sejak muda saya ingin mengajar.
Bahkan ketika saya masih mahasiswi saya
pernah mengajar menari pada anak-anak di RT
tempat saya tinggal. Pada hakekatnya saya ingin
mengabdi.”

Pesannya kepada kaum perempuan, terutama
yang memilih menjadi ahli geologi, “jangan
pernah berhenti belajar, harus berperan aktif
dan percaya diri. Banyak yang bisa dilakukan
oleh perempuan, bahkan banyak pekerjaan yang
menanti karena perempuan lebih telaten.”
Menurutnya, persoalan Geologi di masa depan
selain masalah eksplorasi untuk energi, juga
adalah masalah lingkungan hidup secara umum,
dan untuk semua itu, ahli geologi perempuan
akan mempunyai andil yang sangat besar

 
7 Comments

Posted by on 8 April 2012 in Other

 

Tags:

Wanita Berilmu

Betapa pentingnya wanita berilmu. Karena seorang perempuan adalah seorang ibu. Dan dari panduan seorang ibulah nasib generasi berikutnya ditentukan.

Aisyah, adalah salah satu sosok ideal seorang perempuan muslimah: optimis, pekerja keras, cerdas, berakhlak dan berilmu tinggi. Beliau tidak hanya menjadi tempat bertanya bagi sesama wanita, tapi juga kalangan Sahabat Nabi yang laki-laki. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Al-Ishabah fi Tamyiz as-Sahabah (8/18) meriwayatkan kisah Abi Musa yang bercerita tentang Aisyah bahwa beliau selalu dapat memberi jawaban memuaskan atas setiap persoalan keilmuan yang ditanyakan padanya.

Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar al-A’lam an-Nubala’ (2/179-189) mengutip ucapan Imam Zuhri yang mengatakan, “Seandainya ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh orang alim dan ilmu semua wanita muslimah, niscaya ilmu Aisyah lebih utama.” Singkatnya, Aisyah adalah salah seorang ulama tersohor pertama Islam.

Keilmuan Aisyah yang mengundang decak kagum kalangan Sahabat ternama bukanlah isapan jempol untuk sekedar menyenangkan seorang istri Nabi. Faktanya, dalam bidang hadits, ribuan hadits memang berasal dari riwayat Aisyah. Bagi kita yang hidup 1375 tahun setelah wafatnya, beliau meninggal dunia pada tahun 58 hijriah, banyak hal yang dapat diambil pelajaran dari keberhasilan Aisyah menjadi seorang ulama wanita.

Pertama, optimisme. Beliau menikah dengan Nabi dalam usia yang masih sangat muda, yakni antara 9 atau 12 tahun. Itu artinya, keilmuan beliau saat itu boleh dikatakan masih nol. Namun, kenyataan itu tidak membuat beliau berkecil hati. Pernikahan bukanlah akhir pencarian ilmu. Bagi Aisyah, pernikahannya justru menjadi awal pembelajaran dalam berbagai bidang, termasuk bidang keilmuan. Kehidupan berumahtangga tidak dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dalam menuntut ilmu. Kesibukan dan dinamika berkeluarga bukan alasan untuk tidak belajar. Seorang yang optimis adalah yang selalu pantang menyerah pada keadaan yang bagaimanapun sulitnya.

Kedua, mencintai ilmu. Seseorang yang mempelajari suatu ilmu akan lebih cepat paham dan mudah mengerti apabila dia menyenangi apa yang dipelajari. Dengan menyenangi, maka dia akan menikmati sehingga dapat melakukannya dengan sepenuh hati. Mencintai ilmu mungkin sulit pada awalnya, tapi saat seorang sudah merasakan indahnya ilmu dan eloknya membagi ilmu yang dimiliki dengan orang lain, maka dia akan kecanduan untuk terus meningkatkan kapasitas keilmuannya.

Ketiga, rendah hati. Aisyah memiliki dua kelebihan yang patut dibanggakan: pintar dan menjadi istri Nabi. Dua kelebihan yang menempatkannnya dalam posisi yang sangat tinggi dan mulia. Namun, hal itu tidak membuatnya arogan. Beliau tetap menjadi ummul mukminin yang rendah hati. Yang selalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar kepada siapapun yang hendak menimba ilmu padanya.

Keempat, kemauan keras. Banyak wanita yang setelah menikah lupa untuk menambah ilmunya karena lebih memikirkan materi dan fikirannya disibukkan dengan urusan suami dan anak. Padahal, saat ini mencari ilmu bagi wanita jauh lebih mudah dibanding pada era Aisyah dulu. Sekarang, seseorang dapat menambah wawasan keilmuannya melalui berbagai cara. Seperti, membaca buku dan majalah, membacara melalui internet, menonton program pengajian di TV, bersilaturrahmi pada ulama, dan lain-lain. Yang diperlukan adalah kemauan keras untuk belajar.

Kelima, niat yang benar. Mencari ilmu harus diniati untuk ibadah dan perintah Allah (QS Al Mujadalah 58:11 ). Karena kualitas iman, kualitas amal, kualitas dalam mendidik anak dan kualitas dalam berinteraksi dengan suami akan sangat tergantung kepada kualitas keilmuan kita. Baik ilmu umum, dan terutama ilmu agama (QS At Taubah 9:129).[]

disalin dari http://afatih.wordpress.com/2012/03/30/wanita-berilmu/

 
Leave a comment

Posted by on 7 April 2012 in Other

 

Tags:

Rahmah El-Yunusiyah: Perintis Sekolah Wanita Islam di Indonesia R

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh Nidia Zuraya

Sosok pejuang wanita ini juga dikenal memiliki prinsip dan sikap yang teguh.

Era sebelum kemerdekaan bisa dikatakan sebagai masa ketidakberpihakan terhadap kaum perempuan di Nusantara dalam bidang pendidikan. Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia pada masa itu, sikap apriori terhadap perempuan yang bersekolah masih menjadi fenomena utama dalam kehidupan sehari-hari.

Pada zaman itu ada semacam kepercayaan yang tumbuh di masyarakat bahwa sehebat dan secerdas apapun seorang perempuan, pada akhirnya kodrat dan takdir perempuan akan kembali pada kehidupan rumah tangga yang hanya mengurusi urusan dapur (memasak), sumur (mencuci), dan tempat tidur (seks).

Anggapan demikian juga dianut oleh masyarakat matrilinial sekalipun, seperti Sumatra Barat. Hal ini pula yang agaknya mengusik nurani seorang Rahmah El-Yunusiyah. Rahmah merupakan satu dari sedikit perempuan di Sumatra Barat pada zaman pra-kemerdekaan yang menolak anggapan seperti itu.

Bagi Rahmah, perempuan memiliki hak belajar dan mengajar yang sama dengan kaum laki-laki. Bahkan dibandingkan laki-laki, perempuan juga mampu memiliki kecerdasan yang tak kalah hebat. Persoalannya, hanya terletak pada akses pendidikan. Jauh sebelum Indonesia merdeka, sistem pendidikan di Nusantara memang masih sangat jauh dari yang diharapkan dan kaum perempuan belum memiliki akses pendidikan yang sama dengan laki-laki.

Menurut Rahmah, seorang perempuan sekalipun hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, tetap memiliki tanggung jawab sosial atas kesejahteraan masyarakat, agama, dan tanah airnya. Tanggung jawab itu, kata dia, dapat diberikan melalui pendidikan, baik di lingkungan keluarga (domestik) maupun di sekolah (publik).

Nama Rahmah El-Yunusiyah bagi banyak kalangan di Indonesia barangkali masih terkesan asing. Begitu juga kiprahnya dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan Indonesia mungkin tidak segaung perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini. Namun, kontribusinya dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan di Tanah Air tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dilahirkan di Padang Panjang, Sumatra Barat, pada 29 Desember 1900 dan wafat pada 26 Februari 1969. Rahmah berasal dari keluarga terpandang dan religius. Ia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Syekh Muhammad Yunus dan Rafi’ah.

Ayahnya adalah seorang qadhi (hakim agama) di wilayah Pandai Sikat yang juga ahli dalam ilmu falak. Kakeknya adalah Syekh Imaduddin, ulama terkenal Minangkabau dan tokoh Tarekat Naksyabandiah.

Selama hidupnya, Rahmah tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Mula-mula ia mengenyam pendidikan dari ayahnya, namun hanya sebentar karena sang ayah meninggal ketika ia masih sangat muda. Sepeninggal sang ayah, Rahmah kemudian mendapat bimbingan langsung dari kakak-kakaknya yang ketika itu telah dewasa.

Kemampuannya dalam membaca dan menulis Arab dan Latin diperoleh dari kedua orang kakaknya, Zainuddin Labay El-Yunusy dan Muhammad Rasyad. Ia kemudian belajar ilmu agama pada sejumlah ulama terkenal Minangkabau. Di antara para ulama yang pernah menjadi gurunya adalah Haji Abdul Karim Amrullah (ayahanda Buya Hamka), Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim (pemimpin sekolah Thawalib Padangpanjang), Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Abdul Latif Rasjidi, dan Syekh Daud Rasjidi.

Selain ilmu keislaman, Rahmah juga mempelajari ilmu kesehatan (khususnya kebidanan) dan keterampilan-keterampilan wanita, seperti memasak, menenun, dan menjahit. Kelak ilmu yang diperolehnya ini diajarkannya kepada murid-muridnya di sekolah yang didirikannya, Diniyah Puteri.
Seorang pejuang

Di samping sebagai pendidik, Rahmah juga seorang pejuang. Dalam Ensiklopedia Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH) disebutkan bahwa Rahmah merupakan orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di sekolahnya setelah mendengar berita proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Semasa revolusi kemerdekaan, ia dipenjarakan Belanda dan baru dibebaskan tahun 1949 setelah pengakuan kedaulatan. Hingga tahun 1958, ia aktif di bidang politik. Ia antara lain menjadi anggota KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah) Sumatra Tengah, ketua Barisan Sabilillah dan Sabil Muslimat di Padang, dan anggota Konstituante mewakili Masyumi. Peranannya yang paling menonjol adalah kepeloporannya dalam pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada tanggal 2 Oktober 1945.

Sosok pejuang wanita ini juga dikenal memiliki prinsip dan sikap yang teguh. Ketika Belanda menawarkan diri untuk membantu sekolahnya dengan subsidi penuh dengan syarat Diniyah Puteri menjadi lembaga yang berada di bawah pengawasan Belanda. Namun, syarat tersebut ia tolak dengan tegas.

Demikian juga ketika kaum komunis memerahkan lapangan Bancah Laweh, Rahmah pun dengan berani sehari kemudian, memutihkan kota Padang Panjang untuk menghadang manuver pihak komunis. Karena sikapnya yang tidak sependapat dengan Presiden Pertama RI, Soekarno, yang dinilainya telah melenceng dari demokrasi terpimpinnya dan kedekatan dengan pihak komunis, membuat dirinya dikucilkan.

Seluruh hidupnya diabdikan untuk pendidikan kaum perempuan. Rahmah El-Yunusiyah memang memiliki cita-cita agar wanita Indonesia memperoleh kesempatan penuh untuk menuntut ilmu yang sesuai dengan kodrat wanita, sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mendidik kaum wanita Indonesia agar sanggup berdikari untuk menjadi ibu pendidik yang cakap, aktif, dan bertanggung jawab kepada kesejahteraan bangsa dan tanah air, di mana kehidupan agama mendapat tempat yang layak. Cita-cita dan tujuannya ini dirumuskannya dalam tujuan pendirian Diniyah Puteri.

Cikal bakal Diniyah Puteri bermula dengan dibentuknya Madrasah li Banat (sekolah untuk puteri) pada 1 November 1923. Pendirian sekolah khusus perempuan pada masa itu bukanlah hal mudah. Kendala utama yang dihadapi adalah cemoohan dari masyarakat. Bagi banyak kalangan saat itu, sekolah perempuan dengan tenaga pengajar yang juga perempuan merupakan hal aneh, tabu dan melanggar adat.

Untuk menampik ejekan ini Rahmah membuktikan dengan menampik bantuan dari masyarakat (yang masih memandang miris perempuan) dan menggunakan cara sendiri untuk membangun sekolah. Bahkan, ia merelakan rumahnya dijadikan sebagai ruang kelas.

Selama dua tahun pertama, cara belajar yang diterapkan di sekolah ini menggunakan sistem halaqah seperti yang diterapkan di Masjidil Haram, yakni para murid duduk di lantai mengelilingi guru yang menghadap meja kecil. Lambat laun sekolah ini memiliki gedung sendiri.

Berdirinya gedung ini sepenuhnya berasal dari kemauan keras para perintisnya dan simpati masyarakat. Gedung pertama Diniyah Puteri, misalnya, dibangun dari batu kali yang diangkut sendiri oleh para guru dan murid Diniyah Puteri dan murid sekolah-sekolah lain yang ada di Padang Panjang.

 
Leave a comment

Posted by on 7 April 2012 in Other

 

Tags:

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 427 other followers

%d bloggers like this: