RSS

Monthly Archives: October 2011

Contemplation

Apakah kamu disana, Tuhan?

Ada apa?

Bukankah kita teman?

Bahkan lebih dari sekedar teman

Mengapa kamu biarkan aku merasa sendiri, sore ini?

Ketika kamu memanggil, aku pun langsung menjawab. Apakah itu tidak membuktikan kalau aku, seperti yang kuucap dalam kitab suci, selalu ada untuk hamba-hambaku?

Memangnya kenapa kamu merasa sendiri?

Entahlah, Tuhan. Tapi aku masih percaya, bahwa kamu tahu semuanya tentangku walau tanpa aku ceritakan masalahku.

Bicaralah padaku dengan kata. Walau kata itu hanya sebuah simbol dari pikiran atau perasaan, yang seringkali tidak tepat menggambarkan kebenaran perasaan dan pikiran.

Tapi, bicaralah, verbalkan semuanya. Aku sangat senang jika hambaku berbicara padaku.

Entahlah, Tuhan. Untuk saat ini, aku sudah sangat senang ketika kamu hadir saat kubutuhkan dan menjawab saat kusapa. Itu saja sudah membuat aku sedikit tenang. Terima kasih Tuhan, kamu telah hadir sore ini.

Aku akan selalu bersama orang-orang yang mengingatku. Tenanglah, maka kamu akan tenang. Hanya itu.

[Keesokan hari]

Tuhan…?

…,

Tuhan, kenapa kamu tidak menjawab? apakah kamu telah lupa atas apa yang kamu ucapkan pada kemarin sore?

Tidak. Aku tidak lupa.  Justru aku sedang menyunggingkan senyum lepas saat ini.

Sayang aku tak bisa melihatmu. Kenapa kamu tak saja menampakkan dirimu, agar kami sebagai hambamu tak ada keraguan tentangmu?

Apakah itu perlu?

Hanya agar kami semakin yakin dan tidak menduga-duga tentangmu.

Nanti ketika kamu menceritakan kepada orang lain kala aku menunjukkan wujudku, mereka akan bilang itu adalah setan atau jin yang mengaku Tuhan. Bukan aku. Aku hanya menjaga anggapan itu menjadi tak ada.

Ya sudah, aku tak akan membahasnya. Aku hanya ingin cerita sesuatu.

Ada apa?

Tadi aku berbincang dengan temanku. Dia mengatakan dia kalau sendiri sering sekali mengngatmu dan menangis kala itu. Tapi kenapa aku sulit sekali untuk itu?

Apakah kamu adalah dia? Atau dia adalah Kamu?

Pertanyaanmu tak perlu kujawab kan Tuhan?

Haha… Ya. Apakah artinya kamu mengerti pertanyaanku?

O… Maksudnya apa, Tuhan?

Haha…

Kamu mentertawakan ak, Tuhan?

Haha…

Sudahlah. Aku hanya ingin tahu maksudmu apa tentang pertanyaan itu.

Setiap jiwa atau seseorang itu berbeda. Antar manusia itu punya pengalaman hidup yang berbeda.

Tunggu, jadi maksudmu pengalaman hidupku berbeda dengannya?

Ya. Tepatnya pengalaman hidup yang mempengaruhi sisi spiritual seseorang.

Pengalaman spiritual?

Ya.

[hening]

Aku berpikir, karena aku hanya ingin kita berbincang dengan berbagi kesenangan. Bukankah kita seharusnya bersahabat?

Apakah dengan bersahabat kita tak pantas menuangkan air mata didalamnya kala bersama?

Kalau kita bisa mentertawakan segalanya, mengapa kita harus saling menangis?

Kau tahu sifat batu?

Batu? hmm… Keras.

Apa yang bisa membuatnya berlubang?

Aku pernah dengar bahwa batu bisa berlubang ketika terus menerus tertetesi air.

Itu. Apa salahnya kita saling melembutkan hubungan kita dengan tetesan air mata?

Bukankah itu hanya akan membuatku terlihat rapuh?

Jangan identikan air mata dengan kerapuhan. Dan jangan memaksakan pendapatmu kepada orang lain. Jadilah seseorang yang lembut dan melembutkan hatimu. Itu dengan air mata.

Oke Tuhan, tunggu, di hening malam nanti, aku ingin tumpahkan semua air mataku…

Aku sudah lama menunggunya darimu.

 
1 Comment

Posted by on 31 October 2011 in Coretan, Uncategorized

 

Tags: , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 428 other followers

%d bloggers like this: