RSS

Monthly Archives: February 2010

Debat Kusir : Jujurlah Pada Diri Sendiri

Suatu pagi, di atas sepeda motor, Harry dan Mamat telibat debat kusir.

Mamat (M):  ….bukankah kejujuran yang sebenernya dari hati? Ketika kita benar-benar jujur pada diri sendiri. Kalau mulut kan bisa bohong, pura-pura kuat padahal hatinya rapuh.

Harry (H) : Tapi, Mat,  kadang untuk menjadi baik, ada orang yang sengaja berlatih dengan melawan kerapuhan itu dengan “berbohong”.

M: Mungkin itu yang orang bilang berbohong untuk kebaikan, Har. Tapi walaupun untuk kebaikan tetap saja itu sebuah kebohongan.

H: Ketika seseorang berbohong untuk mengikat komitmen dirinya sendiri? Apa salahnya? Tak ada yang dirugikan, ketika seseorang itu berusaha konsisten setalahnya.

M:  Kalau menurut saya tidak ada salahnya, selama itu untuk kebaikan. Mungkin awalnya berbohong, tapi akan menjadi kejujuran akhirnya.

H: Tunggu-tunggu… Saya pikir itu bukan kejujuran, tapi kesungguhan menjaga komitmennya. Saya pikir itu berbeda dengan kejujuran.

M: Hmmm… Berarti berbohong terus dong?

H: Apa salahnya?

M: Kebohongan publik dong namanya?

H: Tapi, adakah yang dirugikan? Padahal dia hanya berusaha menjaga komitmennya untuk menjadi baik.

M: Kenapa tidak berusaha menciptakannya menjadi sebuah kejujuran. Itu kan akan menjadi lebih baik?

H: Lebih baik menurut siapa? Menurut saya, Karakter diri itu akan sangat kuat jika sudah terbentuk. Dan saya pikir, tidak ada orang yang jujur dimuka bumi ini. Yang ada hanyalah orang yang menjaga komitmen atas apa yang mereka yakini.

M: Ada kok.

H: Coba jelaskan?

M: Minimal kita bisa jujur pada diri sendiri.

H: Memangnya, menurutmu seperti apa jujur pada diri sendiri?

M: Berlaku sesuai dengan kata hati.

H: Bagaimana relevansinya dengan pandangan publik, yang kamu singgung tadi?

M: Hmm…

H: Apakah artinya kamu telah jujur, ketika kamu telah mengatakan untuk jujur pada diri sendiri? Bukankah kalimat itu malah mengindikasikan bahwa kamu tidak jujur? Dan kamu hanya menjustifikasinya dengan mengatakan, Jujurlah pada diri sendiri.

Mamat pun lama terdiam. Dan akhirnya suasana memang benar-benar hening, tak ada lagi obrolan antara mereka. Yang terdengar hanyalah suara deruman sepeda motor yang semakin lama semakin cepat lajunya.

 
3 Comments

Posted by on 27 February 2010 in Cerpen, Coretan, FikSi

 

Tags: ,

Jujur

Jangan berjalan tegak,

pada kebongkokanmu.

 
2 Comments

Posted by on 27 February 2010 in Puisi, Quote

 

Ikhlas

Menangis..

Menangislah, teman..

Menangislah dari hati..

Pada sebuah mimpi yang hilang…

Tapi ingat, Teman…

Tuhan selalu ada,

pada setiap tarikan dan hembusan isakan

 
2 Comments

Posted by on 27 February 2010 in Puisi

 

Manusia dan Hidup

Sangat bernilai sekali pandangan hidup dari Werkudara, salah satu tokoh dalam Serat Cabolek , yang mengatakan bahwa “manusia tinitah luwih, apan ingaken rahsa mulya dewe sakin g  kang dumadi… (manusia ditakdirkan lebih dari semua mahluk, terpandang sebagai Diri rahasia Tuhan, dan paling mulia dari semua ciptaan…)”

Kalau kita perhatikan, dalam pandangannya terasa sekali semangat untuk menghidupkan hidup. Ia berfikir kalau manusia itu harus berusaha menjadi baik dalam hidupnya. Jangan pernah berputus asa pada setiap ujian atau cobaan yang datang, yang jika berputus asa, hanya akan membuat manusia menjadi sekedar kelenjar hidup, tak lebih dari itu.

Di lain sisi, menarik juga dengan apa yang dikatakan oleh penyair Pablo Neruda, “ Sucede que me canso de ser hombre (kok aku capek jadi manusia). Sebuah ironi penyair yang menyiratkan sebuah keputus-asaan dalam hidup. Hal ini juga pernah diamini oleh Gilmore, saat ia akan dihukum mati akibat pembunuhan. Ia pernah berkata, “Dalam maut kita dapat memilih dengan satu cara, yang tak dapat kita pilih dalam hidup.”

Pada dasarnya, Neruda, Gilmore dan Werkudara tidak pernah bertentangan dalam berpandangan. Mereka hanya memandang hidup dalam sisi yang berbeda. Pada pandangan Werkudara terasa sekali aroma ketimuran yang cenderung “berpasrah”, sedangkan bagi Neruda dan Gilmore Hidup itu sangat perlu dipertanyakan sehingga kita dituntut untuk “berpikir”.

Kalau kita mau berpikir jernih, seharusnya kedua cara berpikir itu tidaklah men jadi soal. Sejatinya, keduanya menuntuk kita untuk menjadi hidup dengan keluhuran budinya dan menjadi manusia “bernilai tinggi” dan akan menjadi lebih dari sekedar daging dan kelenjar yang hidup.

Melihat fenomena diatas, terasa sekali adanya sebuah “perjuangan” dalam hidup yang sulit. Dimana kehidupan diawal, sejatinya bukan kita yang memilih, namun kita hanya dipilihkan. Setelah itu, baru pilihan-pilihan yang telah dipilihkan menjadi pilihan hidup bagi kita, ditengah perjalanan hidup kita sebagai manusia.

(Bekasi, 15-16 Feb 2010)

 
1 Comment

Posted by on 16 February 2010 in Coretan, Essay

 

Tags: , , , ,

Yuk Nulis… 

Memulai itu ternyata sangat sulit. Begitupun saat saya ingin mencoba menulis. Dulu pernah bercita-cita menjadi penulis, tapi setelah memasuki usia lewat seperempat abad, sepertinya harus realistis dengan tidak lagi berambisi untuk itu. Tapi cita-cita itu kan bukan berarti harus dkubur dalam-dalam, melainkan sedikit dibuat realistis. Yah, paling tidak tetap ada kemauan untuk menulis, dan paling tidak (lagi) tulisan untuk konsumsi diri sendiri dan teman-teman dekat saja.

Saya jadi ingat sekali , dan semoga ini bukan sebuah hutang. Dulu, sekitar empat tahun yang lalu, saya pernah sedikit berjanji kepada seorang sahabat bahwa sepuluh tahun kedepan, saya akan menjadi novelis. Sebuah ucapan yang sangat idealis dari seorang anak muda yang saat itu sedang gila-gilanya ngeblog dan banyak  baca. Sebuah azzam yang, saya pikir, sangat kuat tertanam kala itu. Tapi janji tinggal janji, walau saya masih berharap untuk itu. Karena sampai saat ini saja, saya tidak punya ide untuk diangkat dan dijadikan sebuah buku.

Pernah di akhir tahun 2009, saat sejarah negeri ini mencatatkan telah kehilangan seorang guru bangsa yang bernama KH. Abdurrahman Wahid atau biasa disapa dengan Gus Dur, ada seorang teman yang bilang atau tepatnya bertanya, “Aku nunggu tulisanmu semalam tentang Gus Dur, tapi ko tumben ga ada. Ga nulis ya?”. Dia bertanya seperti itu karena dia tahu bahwa saya, biasanya, suka menulis dan biasa menuliskan sesuatu yang menjadi isu disekitar masyarakat.

Kalau kita ambil positifnya, ungkapan teman itu adalah sebuah cambuk yang harusnya bisa memecut ghirah menulis saya. Tapi entah kenapa, ketika kemauan ada, tetapi untuk memulai menulis itu sangatlah sulit. Dan ahkirnya, saya tak punya tulisan tentang akhir seorang Gus Dur. Dan seburuk-seburuk penulis adalah yang telah melewatkan momen bersejarah tanpa sebuah coretan kalimat-kalimat yang mencatat.

Tak selang berapa lama setelah itu, ada lagi seorang teman di facebook yang menyentil saya. Dia menanyakan kenapa saya tak lagi menulis. Entah ini adalah sebuah apresiasi positif dari mereka terhadap tulisan-tulisan saya selama ini, ataukah ada indikasi lainnya, ah saya tidak tahu. Tapi yang pasti, pada dasarnya menulis adalah sesuatu yang mengasyikkan walaupun terhadap siapa saja yang senang menulis akan selalu merasa sulit untuk membuat sebuah tulisan yang bagus dan berkualitas.

Menulis itu nikmat, tapi tak mudah. Karena sejatinya, menulis itu tidak hanya sembarang “bersilat lidah” tapi adalah suatu proses berpikir dan perlu sebuah keberanian untuk mengejawantahkannya kedalam tulisan jadi. Pramoedya pernah mengatakan bahwa “menulis adalah sebuah keberanian”. Yah, saya sangat sepakat sekali dengan quote itu. Karena tanpa keberanian sesuatu itu akan terasa hambar dan menggantung, tidak total. Walaupun dalam menulis kita juga perlu untuk memperhatikan rambu-rambu yang ada.

Tulisan ini mungkin saja sesuai dengan yang dikatakan Montaigne suatu saat dulu, “Dan karena saya tidak menemukan hal lain untuk ditulis, saya menyediakan diri sendiri sebagai subjek.”

Semoga saja dengan tulisan ini membuat saya “sadar” bahwa menulis itu sangat penting. Paling tidak untuk mencatatkan sejarah kecil hidup kita dan pikiran kita terhadap suatu masalah yang tengah terjadi.

 
Leave a comment

Posted by on 13 February 2010 in Coretan

 

Tags:

(tsulasy) Patah

Tak ada yang mampu halangi

Tangisan hujan menetes ke bumi

Walau dengan tangisan yang lain

 
Leave a comment

Posted by on 2 February 2010 in Puisi

 

Tags: , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 428 other followers

%d bloggers like this: