Harri (H): Kang, Pak Bambang itu saat menjawab “amin” dalam shalat jemaah sangat mengganggu kedengerannya.
Kang Shihab (KS): Maksudnya?
H: Pak Bambang melafazkannya bukan “aamiin” tapi “ngaamiin”.
KS: Yo biar saja.
H: Lah kan artinya beda, Kang.
KS: Lafaz memang penting, tapi lebih penting keikhlasan saat mengucapkannya. Malah sepertinya dia lebih ikhlas dari kamu, Har.
H: Loh kok Akang bisa ngomong gitu?
KS: Lah, buktinya saat ngucap “aamiin” kamu malah sibuk nyalahin Pak Bambang.



0 Tanggapan ke ““Aamiin” vs “Ngaamiin””