Harri sedang mendirikan shalat jumat di kampungnya bersama dengan jamaah yang notabene adalah para tetangganya sendiri. Ibadah itu pun dimulai dengan maklumat dari pengurus mesjid, azan pertama, azan kedua, dan khutbah jumat, hingga akhirnya sampai pelaksanaan shalat berjamaah.
Ketika shalat berjamaah sudah berjalan memasuki rakaat kedua, Harri tiba-tiba kentut. Dan ia pun membatalkan shalatnya. Tapi dia sedikit bingung dan ragu melihat jumlah jamaah yang tidak begitu banyak saat itu. Dia coba hitung. Setelah menghitung ,Harri panik. Tanpa berpikir panjang ia langsung maju kedepan untuk memberitahu sang imam.
Ketika sampai didekat imam, “Pak kiyai…Pak kiyai… Shalatnya tidak sah, Pak kiyai.” Harri coba mengguncangkan badannya sang imam. Keadaan jamaah lainnya pun ikut bingung dengan kelakukan si Harri. Sehingga suasana di mesjid sangat tidak kondusif.
“Pak Kiyai, Pak Kiyai…. Maaf, shalatnya tidak sah.” Lanjut Harri.
Pak Kiyai yang tadinya sabar dan berusaha menenangkan dirinya, masih di dalam shalatnya, akhirnya merasa kesal dengan kelakuan Harri, “KAMU KENAPA SIH???”, dengan sedikit membentak, pak kiyai pun kehilangan kesabarannya. Semua jamaah pun kaget mendengar bentakan pak kiyai yang masih dengan mikrofon menggantung saku bajunya. Shalat pun batal.
“Maaf Pak kiyai, shalat jumatnya tidak sah.” Jelas Harri kepada Pak Kiyai.
“Memang kenapa?” Tanya Pak KIyai.
“Aku Kentut, Pak KIyai.”
“Lalu kenapa?”
“Setelah saya hitung tadi, ternyata Jumlah jemaahnya jadi tinggal 39 orang, Pak Kiyai.” sambil menggaruk-garuk kepalanya, Harri menjawabnya dengan lugu.
(Syarat sah shalat jumat menurut Imam Syafi‘i dan Ahmad bin Hanbal minimal harus ada 40 orang penduduk setempat untuk melakukan sholat Jumat.)
Like this:
Like Loading...