jump to navigation

“Aamiin” vs “Ngaamiin” 8 November 2009

Posted by faridwajdiarsya in Cerpen, FikSi.
add a comment

Harri (H): Kang, Pak Bambang itu saat menjawab “amin” dalam shalat jemaah sangat mengganggu kedengerannya.

Kang Shihab (KS): Maksudnya?

H: Pak Bambang melafazkannya bukan “aamiin” tapi “ngaamiin”.

KS: Yo biar saja.

H: Lah kan artinya beda, Kang.

KS: Lafaz memang penting, tapi lebih penting keikhlasan saat mengucapkannya. Malah sepertinya dia lebih ikhlas dari kamu, Har.

H: Loh kok Akang bisa ngomong gitu?

KS: Lah, buktinya saat ngucap “aamiin” kamu malah sibuk nyalahin Pak Bambang.

Uelek, Muiskin & Guoblok 8 November 2009

Posted by faridwajdiarsya in Other.
add a comment

by : Tari Agustini

Jika Anda seperti saya, ‘uelek’…

Sabtu pagi, saya, secara tidak sengaja, menyaksikan acara perjodohan berjudul Take Her Out yang ditayangkan sebuah stasiun televisi. Itu kali pertama saya menyaksikannya, meski sudah berulang kali saya mendengar teman-teman menceritakan reality show itu. Setelah menyaksikan sekian menit lamanya, acara itu membuat saya tergelak, terhibur dan juga membuat saya trenyuh.

Mengapa saya trenyuh? Saya menyaksikan seorang wanita muda muncul dan setelah beberapa menit mendapat kesempatan untuk memperkenalkan diri, MC memberikan kesempatan kepada para pria untuk memilih atau tidak. Para pria berdiri dengan meja berlampu di depannya. Kalau mereka tidak berniat memilih, meja berlampu itu berubah menjadi merah. Dalam hitungan detik, pria sejumlah lebih kurang tiga puluh orang itu semaunya mematikan meja berlampu yang ada di hadapan mereka. Artinya, tak satupun dari mereka berniat memilih wanita muda itu. Sudah bisa ditebak, wanita itu harus angkat kaki dan pulang dengan tangan hampa.

Saya tak bisa membayangkan kalau saya jadi wanita muda itu. Saya pasti malu sekali. Saya yakin muka saya merah padam seperti warna meja berlampu itu. Saya akan merasa ditolak mentah-mentah. Tidak laku. Saya akan sedih pada diri saya sendiri, melihat kenyataan kalau tidak ada yang merasa perlu memberikan kesempatan bagi saya untuk di-probe lebih lanjut. Dan, yang paling membuat perasaan teriris adalah sejagat Nusantara ini melihat saya tidak laku. Tidak bernilai.

Bukankah sejujurnya tidak ada manusia di dunia ini yang mau mendengar hal yang menyinggung perasaan hatinya? Yang menyakitkan meskipun faktanya memang demikian? Tetapi, di layar televisi hari itu, saya menyaksikan masih ada orang yang berani berhadapan dengan ketersinggungan itu. Saya mendapat pelajaran untuk melihat nilai-nilai yang ora elok yang dulu diajarkan itu sekarang boleh dibuka habis-habisan di depan umum. Luar biasa. Terus terang, saya angkat topi kepada wanita itu. Ia adalah seorang pemberani. Berani mengambil resiko. Resiko untuk dipermalukan di depan umum.

Namun…
Jika Anda seperti saya, ‘uelek’. Jangan Anda merasa terbuang. Jangan bersembunyi dengan pemikiran, kalau jelek secara fisik, saya masih punya kecantikan dari dalam. Jangan. Jelek ya jelek. Cantik ya cantik. Diterima saja, jangan memanipulasi perasaan dan jangan mencari tempat persembunyian. Bagian luar dan bagian dalam jangan dicampur aduk. Sudah demikian adanya, di dunia ini harus ada yang berperan sebagai orang jelek dan orang cantik. Jangan pernah menyalahkan Pencipta Anda. Ia tidak mungkin keliru.

Tapi ingat…
Yang membuat standar jelek dan tidak jelek, bukan Sang Pencipta, tetapi penghakim… eh… salah, manusia. Manusia yang diciptakanNya, yang bertabiat seperti penghakim.

Jika Anda seperti saya, ‘muiskin’…

Kemudian, saat melihat tayangan tersebut, seorang kawan nyeletuk dan bercerita. Di kali lain, ia pernah melihat tayangan serupa yang menampilkan seorang bapak guru yang dipajang dalam etalase yang sama. Bapak guru ini hanya bermodalkan sepeda juga bernasib nyaris sama dengan wanita muda yang sedang kami saksikan.

Saya tidak bisa membayangkan jika saya jadi bapak guru bermodal sepeda itu. Siapa yang mau pacaran dan berjodoh dengan saya kalau saya miskin? Kalau saya cuma punya sepeda dan hanya sekedar guru honorer, bukan seorang general manager yang mungkin gajinya setinggi langit yang biru. Kalau secara de facto di layar televisi dan se-Nusantara tahu saya ditolak mentah-mentah pada menit pertama oleh sekian puluh sosok, kemana saya harus pergi?

Namun…
Jika Anda seperti saya, ‘muiskin’. Jangan merasa terbuang dan berfikir tidak ada yang mau dengan Anda. Saya pastikan tetap ada yang mau. Jangan memanipulasi dengan berkata aku miskin, tetapi kaya dalam perbuatan baik dan kaya dalam kebahagiaan batin. Miskin itu menurut ukuran manusia adalah yang uangnya tidak ada, tidak berhubungan dengan kekayaan jiwa. Itu urusan lain. Jadi, terima kenyataan Anda itu miskin karena memang ada yang harus berperan sebagai orang miskin.

Tapi ingat…
Yang membuat standar miskin dan tidak miskin, bukan Yang Maha Memiliki, tetapi manusia. Manusia yang suka mengaku-aku, yang suka menilai segala sesuatunya dari satu sudut pandang saja. Uang.

Jika Anda seperti saya, ‘guoblok’…

Setelah melihat tayangan tersebut, saya jadi ingat akan pertemuan saya beberapa bulan yang lalu di kota kelahiran saya. Pada akhir acara yang merupakan reuni akbar itu, seorang Bapak maju untuk mengumumkan, beliau dengan timnya telah membentuk program mulia mendukung anak-anak yang kurang mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan persyaratan indeks prestasi minimal harus setinggi gunung.

Maksud saya setinggi gunung itu bukan satu koma atau dua koma, tetapi tiga koma sekian. Kalau bisa empat koma. Semoga tidak koma alias semaput. Beliau juga mengajak para undangan malam itu, kalau punya teman atau kenalan yang kurang mampu tetapi memiliki IP yang tinggi, bisa menghubungi beliau. Tujuannya bukan hanya sekedar memberikan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tetapi agar suatu hari mereka-mereka yang IP-nya di atas tiga koma sekian-sekian itu bisa duduk di dalam jajaran pemerintahan dan memajukan negeri ini.

Saya hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal mendengar itu semua. Saya membayangkan menjadi pemuda/i yang memiliki IP nasakom. Nasib satu koma. Siapa yang akan mendukung saya? Siapa yang akan memberi fasilitas untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi kalau saya sudah tidak mampu secara finansial dan tidak punya IP di atas tiga? Apakah saya tidak bisa masuk ke dalam jajaran pemerintahan supaya bisa memajukan negeri ini? Ke mana saya harus pergi? Pertanyaannya salah, ke mana saya akan dibuang? Sudah miskin, bodoh pula.

Namun…
Jika Anda seperti saya, ‘guoblok’. Jangan merasa terbuang. Juga jangan memanipulasi, dengan memberi penyataan dalam hati, biar bodoh, tetapi cantik dan kaya. Anda tetap bodoh dan kita sedang tidak dalam membicarakan soal harta yang berlimpah. Kalaupun Anda mau menghubungkan kata cantik dan bodoh, maka berbahagialah kalau Anda bodoh sehingga tidak memiliki kemampuan berfikir menjual kecantikan Anda ke tempat yang tidak benar. Tetapi, hati-hati karena ada orang pandai di sekitar Anda yang bernama orang tua, teman, germo yang bisa melihat Anda bisa dijual.

Tapi ingat…
Yang membuat standar bodoh dan tidak bodoh, bukan Yang Maha Tahu, tetapi manusia. Manusia yang sok tahu, yang membuat standar klasifikasi hanya dari satu aspek saja. Otak.

Jika Anda seperti saya, ‘uelek, muiskin & guoblok’…

Setelah mengingat semua peristiwa itu, saya tidak bisa tidur… Ke mana saya harus dibuang? Siapa yang mau sama saya kalau semua maunya yang cantik, pintar dan kaya raya? Apakah saya harus operasi plastik dan mempermak, menambal muka dan tubuh sana sini agar laku? Apakah saya harus belajar begitu keras atau membeli gelar sajalah agar dianggap pintar? Ataukah saya harus kerja banting tulang untuk menjadi kaya? Meski jelek, orang pasti mau sama saya karena ada agenda lain di benak mereka. Mengejar harta saya, dan saya tidak keberatan daripada tidak laku…

Pada akhirnya saya tersadar… Saya juga manusia, yang suka memilah-milah, memilih-milih. Mengklasifikasi… Saya pun jarang untuk melihat manusia utuh, sebagaimana adanya… Walau jelek mereka pasti ada kelebihan lain… Walau miskin, mereka adalah pejuang sejati… Walau bodoh, mereka hebat dalam hal lain… Karena toh, jelek, miskin, bodoh, adalah bagian dari klasifikasi saya terhadap mereka. Di hadapan Tuhan, mereka indah sebagaimana adanya…

Tabik…
Dari saya yang jelek, miskin dan bodoh…

(selalu) Melihatmu 8 November 2009

Posted by faridwajdiarsya in Coretan, Puisi.
add a comment

melihatmu

Aku disini memaksa melihatmu. Di balkon yang terbungkus dinding kaca. Berlari berdiri mematung. Melakukan suatu yang kuyakini. Saat kau keluar pergi meninggalkan tempatmu. Dan kau tak pernah tahu.

Aku masih disini sengaja ingin melihatmu. Melihat sosokmu keluar dari tempatmu. Berjalan dan sedikit berlari. Mengejar waktu yang sepertinya tak lagi dapat dikompromi.

Pergi

Aku disini dan melihatmu. Saat kau menunggu angkutan disisi jalan. Diselingi dengan lalu lalang kendaraan lain yang sempat menghilangkan sosokmu. Dan membuatku, pun, sempat merasa kehilanganmu.

Aku masih disini dan tak ingin beranjak dan berhenti melihatmu. Mulai menghitung detik demi detik. Berharapkan terus melihatmu. Namun dipaksa untuk menerima dan siap akan kehilangan sosokmu.

Dan akhirnya, aku disini melihatmu dengan sebuah tetesan air mata. Kehilangan keindahan sosokmu saat sempat terhalangi sebuah kendaraan. Dan kau menghilang dari tempatmu semula. Tanpa ada suara. Tanpa ada pesan. Tanpa sedikitpun melihatku. Dan aku masih mematung berdiri melihat kosong dirimu.

Namun, aku masih disini walau tak lagi melihatmu. Mematung menenangkan keluh jiwa. Walau ku tahu sulit kan kulakukan. Merenda hidup tanpamu. Dan kau tak pernah tahu begitu istimewa dirimu mengisi penuh hatiku.

[Saja Tiga Baris] Kera 4 November 2009

Posted by faridwajdiarsya in Uncategorized.
add a comment

Siapa lagi selain kera yang tertawa terpingkal
Melihat orang terpeleset kulit pisang yang dibuang
Hingga entah kapan kala dilihat bermanis muka

[Saja Tiga Baris] Muhasabah 4 November 2009

Posted by faridwajdiarsya in Uncategorized.
1 comment so far

Menunduk ditengah silangnya kaki
Membasah bumi lantai dipijak
Menempuh perjalanan masa lalu

(Cerpen) Diam (ber-) Cinta 3 November 2009

Posted by faridwajdiarsya in Cerpen.
add a comment

Kau diam tanpa bicara. Yang ada hanyalah bunyi udara yang kau keluarkan dari mulutmu mengiringi musik yang mengalun dan menemani perjalanan pulang kita dari aktifitas rutin, kerja.

Kau dan aku hanya berdua dalam sebuah mobil. Ini kejadian yang hampir tak pernah terjadi. Kau dan aku, kni, berada dalam satu mobil, hanya kita berdua.

Kau begitu terlihat mempesona nan anggun saat bersiul sambil memegang kemudi mobilmu. Tapi sedari tadi kau tak mengajakku berbicara. Kau hanya diam dan asyik sendiri dengan duniamu. Tak inginkah engkau mengajakku bicara?

Perjalanan sudah melewati batas tengah jarak kepulangan, tapi kau masih saja diam asyik bersama duniamu. Ingin sekali aku memulai berkata, untuk mencairkan suasana kaku ini, namun aku bingung musti memulai dari mana.

Kau begitu istimewa dalam benakku, sehingga aku merasa tak berkutik berduaan denganmu, apalagi sekedar membuka pembicaraan.
Tapi entah mengapa, keadaan diam kita tak membuat aku resah. Kenyamanan bersamamu adalah segalanya, dan mungkin itu yang membuat diam kita tak menjadi sebuah keresahan. Aku nyaman disismu walau tanpa suara. Apakah begitu juga dengan dirimu?

Diam-diam aku memperhatikan gerakmu, masih dalam diam kita. Tahukah kau, aku nyaman sekali berada berdua dalam mobilmu. malah, sejujurnya, aku tak butuh bicara. Karena bagiku diam kita adalah suatu bahasa pembicaraan yang lain. Pembicaraan yang hangat nan penuh pengertian.

Tahukah kau bahwa  aku selalu memujimu dalam setiap nafasku. Aku telah mencintaimu lama sekali sejak kita pertama kali bicara beberapa tahun lalu. Aku mencintaimu lebih dari apapun.  Namun aku bersyukur kau tak pernah mendengarkan isi hatiku.

Maafkan aku telah mencintaimu. Karena aku tahu, saat ini,  anak-anakmu telah menunggumu digerbang pintu rumahmu.

====

note: terinspirasi kala membaca di wall FB teman.

[Sajak Tiga Baris] Sartre 24 Oktober 2009

Posted by faridwajdiarsya in Puisi.
add a comment

Ia kini diam tak lagi bersuara

Hanya dengar mabuknya suara

Kata seorang lawan, ah sang eksistensialis…

[Sajak Tiga Baris] Voltaire 24 Oktober 2009

Posted by faridwajdiarsya in Puisi.
add a comment

Rambut panjang bergelombang mengarah ke titik

Berdebat hebat bicara ada

Memaksa ciptakan titik , jika tak ada

[Sajak Tiga Baris] Syirik 22 Oktober 2009

Posted by faridwajdiarsya in Uncategorized.
add a comment

Seperti nietzche yang membunuh tuhan,
Begitu juga kala kau lebih bangga dgn cahaya semu,
Padahal jelas matahari bersinar selalu.

[Sajak Tiga Baris] Munafik 21 Oktober 2009

Posted by faridwajdiarsya in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Berlafaz tasbih tak mensucikan,
Bertutur tahmid tolak kenikmatan,
Berujar takbir tanpa pengagungan.